My Hero

Gue yakin, kalo gue masih tinggal di Balikpapan, atau bahkan Surabaya, gue gak bakal merasakan hal-hal seperti sekarang. Semua hal yang membuat gue gila, sekaligus menyenangkan… A painful pleasure. Menikmati macetnya Jakarta, berjibaku berebut jalan saat jalan kaki dengan pengendara sepeda motor dan mobil, bahkan di jalan dan gang sempit tanpa trotoar. There’s no safety in this heavenly hell.

Kurang dari 24 jam sejak gue menginjakan kaki di Ibu Kota ini, 2 tahun lalu, moda transportasi online berbasis aplikasi udah jadi bagian hidup gue. Gue yang buta arah, ketika metromini dan mikrolet berasa gak aman dan jauh dari kata nyaman, ditambah ribet dengan oper beberapa kali untuk menuju satu tujuan, ke siapa lagi gue berharap kalo bukan ke online-based transportation… Dimana kondisi itu ngga jarang malah bikin manja sebenarnya.

But whatever. Toh akhirnya gue kembali menggunakan transportasi umum, diawali sebuah keterpaksaan ketika isi dompet udah ngga mendukung kebiasaan order taksi online. Apalagi kalau bukan TransJakarta, atau kita lebih sering menyebutnya dengan busway. Beh… Padahal busway itu istilah untuk jalur khususnya, bukan moda transportasinya. But somehow, I enjoy it. Berjibaku dengan penumpang lain yang berangkat atau pulang kerja, berebut tempat duduk yang jadi kemewahan didalamnya.

Tapi dari sekian banyak aplikasi transportasi online di Jakarta, gue harus mengakui kalo GoJek jadi satu-satunya penyelamat. Ngga juga sih… Gue bisa pulang dari halte Monas ke Warung Jati jam 4 subuh dengan biaya murah meriah karena TransJakarta beroperasi 24 jam. Keduanya cashless, e-money. Kalo GoJek gue pake GoPay, TransJakarta gue pake BCA Flash. Dan kedua metode pembayaran itu bukan cuma bisa dipake buat transport.

Tapi sekali lagi, entah kenapa, pake GoJek lebih seru. Gue bisa ngobrol dengan ridernya, yang samasekali gak gue kenal, tentang apa aja, bahkan curhat hal-hal yang gak mungkin gue ceritain ke orang-orang di kantor. Sebut aja mereka teman kerja… Teman sebatas pekerjaan. At least, gue punya teman cerita meski cuma buat beberapa belas atau beberapa puluh menit dalam perjalanan.

Gitu juga dengan para driver Uber… Mulai dari yang asli supir, mahasiswa, anak gaul yang ngga ngerti mesin, manager, penulis buku, dosen, pengusaha atau mereka yang nyambi jadi driver. Mulai dari topik seputar macet, cuaca, pendidikan, politik, seni dan bahasa, fashion dan tempat belanja barang branded murah, sampe ngomongin soal BH dengan salah satu driver perempuan yang ternyata manager disebuah perusahaan daerah Jaksel.

But, GoJek is always be my hero. Dimulai dengan GoJek credit, dimana gue dapat 50 ribu waktu awal aktivasi. Lalu dapat 100 ribu yang dikasih secara random untuk beberapa pengguna. Itu tahun lalu, udah ada GoPay tapi belum semenarik sekarang. Dan ketika GoPoints mulai diperkenalkan, gue yang setiap hari pake GoJek minimal 2 kali, jadi benar-benar dimanja. Gimana ngga… Poin yang gue kumpulin bisa dituker sama iPhone.

Tapi apa mau dikata… Setelah gue itung-itung, butuh 3-4 tahun buat gue bisa ngumpulin poin dapetin iPhone, biarpun tiap hari make aplikasi GoJek dengan 2 kali transaksi per hari. So, poin-poin itu gue pake buat makan. Serius. Seminggu ini gue makan malam modal nuker GoPoints dikonvert ke GoFood. Dan gue naik GoJek gratis dari kos gue di Kalibata Jaksel kerumah sodara gue di Ciracas Jaktim, cuma modal nuker poin. Nunggu iPhone kelamaan, mending buat makan.

Ketika gue bilang GoJek is my hero, that’s true. Mau ujan atau panas, gelap atau terang, subuh bahkan tengah malam yang rancu dengan pagi buta, dengan atau tanpa jas ujan, mereka selalu ada. Bukan berarti gue selalu selamat naik GoJek, karena paling ngga sekali gue dan drivernya jatuh gegara ngindarin mobil yang tiba-tiba belok di Kemang, dan sekali hampir jatuh gegara kang drivernya hampir nyenggol mobil di daerah Pondok Indah. But somehow, they’re my hero.

Dan bukan cuma di Jakarta mereka jadi pahlawan gue. Waktu gue harus ke Denpasar buat urusan pekerjaan, GoJek juga yang nganterin gue kemana-mana. Itu kalo gak bawa barang… Pergi-pulang bandara gue pake Uber. At least, GoJek menyelamatkan gue dari buta arah, bersama Google Maps. Begitu juga waktu minggu lalu gue pulang ke Pekalongan, tiba-tiba yang ngga direncanakan gue buka aplikasi GoJek, dan ada!

So, apa lagi yang bisa gue bilang soal GoJek… Memang, ada aplikasi yang lain. Gue juga make Uber, BlueBird. Tapi ngga tau kenapa, dengan GoJek gue merasa berbeda. Entah soal tarifnya yang bagi gue fair dan dari cerita beberapa abang ridernya juga fair buat mereka. Fitur-fiturnya yang bikin orang berpikir “Gila!”. Emang gila… Lu mau cari apa? Makan, belanja, kirim barang atau dokumen, pindahan, servis, bersih-bersih, bahkan pijet, GoJek punya semua dalam 1 aplikasinya.

I just feel lucky of that. Bukan cuma memudahkan, tapi juga menyelamatkan. Disaat akhir bulan seperti ini gue pengen banget makan enak tapi duit pas-pasan, atau ketika gue pengen jalan jarak jauh tapi gak mau saldo GoPay berkurang, GoJek memberikan semua itu ke gue secara gratis.

Hidup di Jakarta emang berat. Tapi bukan berarti ngga ada hal baik yang bisa kita nikmati di beratnya kehidupan Ibu Kota.

__________
Selatan Jakarta, 22 September 2017

* My Hero, salah satu lagu dari Foo Fighters, dari album The Colour And The Shape (1997).

Advertisements

Untitled 13 September 2017

“I don’t ask you to forgive me. I just ask you to understand”. Gue ngga pernah ingat itu kalimat dari Spiderman seri kedua atau ketiga… Dan gue merasa ngga perlu minta maaf untuk alpa sepele seperti itu. Sama halnya, gue udah mulai jarang minta dimaafkan. Karena pada dasarnya maaf itu useless ketika kita ngga mencoba memberi diri kita untuk memahami. Seperti taglime iklan jadul Prudential; karena hanya dengan mendengarkan kita bisa lebih memahami. But you never listen. You just like to hear, only the good things.

Gue bilang ke mantan manager gue, yang akhir-akhir ini kontak lagi, gue lagi kabur… It’s true! Bukan cuma sekedar kabur dari sumpeknya Jakarta, gue lebih pengen kabur dari rutinitas yang setiap hari gue hadapi. Even in my holiday. Salahnya, gue harus menyadari kalo gue tipikal pemberontak yang ngga pernah suka dengan aturan basa basi yang akhirnya cuma jadi formalitas sia-sia. Semua yang direncanakan pada akhirnya lebih sering jadi wacana.

Dear, all… Gue ngga benar-benar kabur. Gue cuma perlu rehat, break untuk jangka waktu yang cukup buat gue memulihkan pikiran dan menenangkan jiwa gue. But what I’ve got? Nothing but phobia everytime my phone’s ringing. Phobia itu gue kompensasikan dengan bercangkir-cangkir kopi dan berbungkus-bungkus rokok… 24 jam ini gue udah ngabisin 3 bungkus Marlboro merah dan setiap cangkir kopi gue kosong, gue langsung buat lagi.

Work hard is useless, more useless when you work it harder but know not what it means. Gue ngga gila kerja, karena faktanya sekarang gue justru menghindari pekerjaan. But what I’ve got? I give you my respect, I ask nothing but tollerance. Ketika semua orang mau show off tapi ngga tau apa yang mau dipamerin… You own the head but not the brain. You create the rule but you can not role it.

Selalu ada titik dimana kita akan merasa jenuh dengan apa yang kita cintai. Dan memang, selalu ada pilihan. Satu-satunya alasan kenapa gue ngga suka sama televisi, karena televisi ngga memberi gue kebebasan dengan segala yang disajikan. Memang akan ada titik dimana akhirnya kita justru membenci apa yang awalnya sangat kita cintai. Dan ngga ada yang bisa nolong buat mengembalikan. Patient has it’s own limit. When something touch it’s limit, everything will be dismiss.

Kita ngga perlu bawa-bawa nama Tuhan. Ngga perlu bawa-bawa nama keluarga, kenalan, apapun. Jangan bawa-bawa nama almamater, ini, itu. Jangan. Gue terlalu minder berhadapan dengan hal-hal seperti itu; gue yang ngga punya siapa-siapa dan bukan apa-apa. Gue ngga berharap lu bisa menolong gue. Sorry to say… Gue lebih bisa menganggap GoJek sebagai pahlawan gue karena ternyata yang menyelamatkan gue dari tersesat kemarin adalah GoJek, yang sempat gue pikir belum ada di kota ini.

A real hero never tell that he/she is a hero. Di seri ketiga Batman versi Christian Bale, Bruce Wayne sempat jelasin ke John Blake kenapa Batman pake topeng… Biar ketika suatu saat Bruce Wayne ngga ada, siapapun bisa gantiin dia jadi Batman. We don’t need to show off our face but what we can give. Tapi, apa sih yang gratis jaman sekarang… Di banyak tempat, bahkan membuang sesuatu pun berbayar. Setau gue, ngga ada toilet gratis di terminal.

Buat beberapa orang, mereka rela kehilangan segala materi, yang menurut banyak orang sangat berharga, demi sesuatu yang ngga bisa dibeli dengan cara konvensional. Kebebasan, freedom. Kepuasan, satisfaction. Sejak kapan hal itu bisa dibeli dengan uang? Kecuali untuk jangka waktu tertentu, dengan segala macam syarat yang ngga jarang dibuat-buat.

Beberapa minggu ini gue nongkrongin serial Detective Conan versi anime di YouTube, setelah bertahun-tahun ngga ngikutin versi manga. Detective Conan lebih soft dan sopan ketimbang Kindaichi, dengan trik-trik umum seperti pembunuhan ruang tertutup dan penggunaan sianida dalam banyak kasusnya. Dan alasan pembunuhannya pun mayoritas sama; kepuasan dari sebuah balas dendam. Menyesal, iya. Sejak kapan penyesalan datang duluan…

Tahun lalu gue nongkrongin serial film The Godfather, belain beli beberapa eBook dari Mario Puzo via Play Store, demi memuaskan rasa penasaran gue tentang mafia Sicilia. So, apa yang gue pelajari dari dunia kriminal? Mereka lebih beretika, mereka justru punya loyalitas dan totalitas jauh lebih tinggi dibandingkan kita manusia yang merasa lebih beretika ketimbang para kriminal. Kita hanya loyal kepada yang memberi keuntungan, dan kita akan total ketika itu memberi keuntungan. Semua tentang materi.

Dan akhirnya gue pun mulai suka dengan apa yang dinamakan omerta; sebuah kode etik dimana orang lain ngga perlu tau apa yang mereka ngga mengerti. Meski sebenarnya arti omerta lebih dari itu… Code of honor that place on important silence. Karena buat diam tutup mulut prakteknya ngga mudah. Udah bawaan orok manusia sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dan berkomunikasi, dan terlalu banyak orang yang ngga bisa diam, maunya ikut campur. Biar kesannya ikut terlibat, biar akhirnya terima kasih menjadi lebih dari sekedar ucapan.

Omerta, keep it silence. Kita ngga perlu banyak ngomong. Terlebih lagi ketika kita ngga tau apa yang diomongin. Too many clever people like to act smart but failed. Clever itu pintar, faktor pendidikan formal. Smart itu cerdas, faktor pendidikan non formal yang ngga punya ijazah buat dilaminating lalu dipajang. Itu sebabnya bahasa Inggris memisahkan arti kata pintar dan cerdas. Ironisnya, istilah smart ternyata lebih sering jadi jargon iklan dan pencitraan.

Beberapa waktu lalu gue ngecek saldo kartu kredit gue, masih ada saldo. Mungkin jiwa gue jiwa shopaholic atau entah apa… Gue pengen beli sepatu lagi, Converse Chuck Taylor All Stars II merah atau Jack Purcell hitam versi renew yang kanvas. Tapi ngga jadi. Bagi gue, mood itu mempengaruhi passion, termasuk passion for fashion. Percuma dandan modis ketika akhirnya salah tempat dan suasana, ujung-ujungnya cuma jadi bahan bulliying. Ada 2 faktor kenapa orang suka membully… Karena dia iri, atau ngga ngerti. Atau bisa juga karena dia takut dibully, karena itu dia membully lebih dulu.

Ada anekdot yang bilang, orang Indonesia kalo dikasih seragam bisa bahaya. Apalagi ketika seragam itu ditambah jabatan. Meski di negara Indonesia yang konon kita cintai ini termasuk kepulauan tropis dimana banyak pohon kelapa, kita jarang mau menunduk ketika udah semakin tinggi… Lebih bisa ngomong doang. Gitu juga meski disini ada banyak pohon pisang yang jadi pilihan ketika psikotes menggambar… Kita lebih bisa dan lebih suka meminta, bukan berbagi dan memberi.

Ada banyak hal yang bisa kita manipulasi buat bikin orang terkesan. But your fingerprint is can never lie. Pada akhirnya, apa yang kita tulis dan gimana bentuk asli tulisan kita, cara berjalan, pemilihan kata, intonasi suara, gesture, tatapan mata, gerakan otot wajah, sikap-sikap refleks lainnya, all they can not lie.

Lebih mudah membohongi orang lain ketimbang membohongi diri sendiri. So when it’s no longer fun, I can not say thay I enjoy it. Not anymore. I don’t even know the thing I’ve started. All what I know is I want it end in ASAP.

__________
Pekalongan, Karanggondang, 13 September 2017

A long way home, part 2

Apa yang gue suka dari musik Rock, lebih tepatnya Grunge? Musik kasar penuh distorsi, vokal ngga jelas, lirik cenderung susah dimengerti. Terlebih lagi kalau kita melihat penampilan grup musik beraliran Grunge. Sebut aja Nirvana, yang saat ini lagi gue dengerin. Atau Silverchair yang lebih ringan, atau Foo Fighters yang sekarang lebih modern.

Ngga ada yang ditutup-tutupi dari Grunge. It is as it is. Ngga serumit Classic Rock. Dan itu yang akhirnya jadi sebuah Rocktitude; you are what you are, show it. Tapi kita ngga bisa selalu seperti itu. Hidup penuh kebohongan, terlalu banyak tuntutan. Mungkin itu yang akhirnya memicu Kurt Cobain buat mengakhiri hidupnya. Mungkin tuntutan itu juga yang bikin Chris Cornell (Audioslave, Soundgarden) bosan dengan hidup.

Sejak lulus SMA, gue merantau dan seolah ngga pernah pulang. Ngga pernah benar-benar pulang. Setiap orang yang pernah tinggal di Balikpapan ngga bisa menolak betapa damainya kota ini, sebuah kota tepi laut yang sungguh sangat amat nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Bahkan, gue yang lebih suka merantau pun harus mengakui kalau kota ini lebih baik dari Surabaya dan Jakarta. I’d like to call it home sweet home, but I can’t.

So Far Away dari Avanged Sevenfold sekarang di player gue. Mengingatkan tentang almarhum teman dekat, salah satu teman terdekat dalam hidup gue. Satu setengah tahun sejak kematiannya, orang yang ngajarin gue arti sebuah fotografi. Ngga ada orang yang ngga mengakui kehebatan almarhum teman gue kalau udah soal foto… Semua hal punya dasar, dan jauh sebelum era digital memudahkan kita, teman gue udah expert di manual. Bahkan membidik foto tanpa light meter dan proses cuci cetak di kamar gelap. We started from absolutely zero.

Gue selalu kangen rumah. Gue selalu ingin untuk bisa pulang, hal yang ngga pernah gue sampaikan ke adik-adik gue. Hal yang ngga pernah gue ceritakan ke mereka, betapa gue pengen kami bertiga ada dirumah, duduk dan ngobrol bareng seperti lebih dari 3 tahun yang lalu. Sebagai saudara, sebagai kakak beradik. I am the older, my duty is to keep my eyes on them, to protect them, to lead them.

Entah kebetulan yang ngga disengaja atau jodoh yang direncanakan, teman-teman dekat gue selalu anak pertama. Mungkin kami cocok karena bisa saling merasakan apa yang jadi tanggung jawab anak tertua di keluarga. Gue punya 3 teman dekat, laki-laki. Ketiga teman gue masing-masing punya 2 adik, sama seperti gue. Dan adik-adik dari teman-teman gue juga laki-laki, sama seperti adik-adik gue. Seperti kata Ahmad Dhani di satu-satunya album Ahmad Band, ini Dunia Lelaki.

Besok pagi banget gue pulang. Bukan ke Balikpapan yang jadi kampung halaman gue. Bukan ke Surabaya, yang udah seperti rumah sendiri. Gue pulang ke Pekalongan, ke rumah masa kecil almarhum Bapak gue, ke rumah Bibi gue. Dan gue sempat sedih ketika beberapa jam lalu gue berusaha nelpon kedua adik gue tapi nomor mereka ngga aktif.

Gue mungkin memang bukan kakak yang baik. Gue tau… Gue ngga ada dirumah ketika kondisi ekonomi keluarga gue benar-benar hancur 7 tahun lalu. Gue pasrah gitu aja ketika almarhum Ibu gue dibawa ke Rumah Sakit untuk pengobatan, gue gak berusaha menyelamatkan Ibu gue cuma karena gue merasa whatever we’ll do is just useless. Gue ngga datang di pemakaman almarhun Bapak gue… Gue ngga berusaha menyelamatkan ketika gue tau hidup Bapak gue ngga bakal lama. Just because I see the end before it is happen, the most fear I must to see.

But, give me a chance. Give me another chance to repair our broken family. Somehow, I’m your brother, you are my only family. No matter what, I’ll do whatever to repair it again, again and again. These days I dreamed about home. To take a rest, to take a free breath. Even I know not would it be my last breath or not. All what I want you to know is I always love you even in my silece.

__________
Selatan Jakarta, Kalibata, 11 September 2017

A long way home

Kreatif dan gila itu beda tipis. Sepanjang jalan kerumah sodara gue, gue cuma berpikir kenapa gue harus menjalani ini. Lebih tepatnya; kenapa gue memilih untuk seperti ini. Then, after 2 years lived in this beloved hell I decide to visit my family after hours, a long way home.

Bagusnya, pas perjalanan ke rumah sepupu gue di daerah Ciracas, Jakarta Timur, driver GoJek gue gak banyak ngajak ngobrol. Meski akhirnya gue nyesal karena udah lama banget ngga kasih tip ke driver-driver yang tiap hari nganterin gue.

Dan makin nyesal ketiga gue nyadar kalo gue gak bawa apa-apa ke kontrakan sepupu gue. Yes, kami sama-sama orang perantauan yang mengadu nasib di Ibu Kota tercinta ini.

Cerita tentang keluarga selalu bikin kangen, sampe gue lupa maksud tujuan gue sebenarnya… Mungkin karena gue selalu menganggap kalo materi gak bisa bikin hidup bahagia. At least, gue ngga merasa bahagia dengan segala materi yang gue punya. Mengorbakan perasaan dan fakta kehidupan gue.

Atas nama kehidupan. Atas nama survival of the fittest, seperti teori mendasar tentang kehidupan. Atau gue yang salah, terlalu naif melihat dan menerima kehidupan.

Ada banyak hal yang gue sesali, tapi lebih banyak lagi yang ternyata bisa gue syukuri. Paling ngga, setahun ini gue udah bebas dari alkohol. I feel lucky that now I can free myself of that addiction all by myself, gue yang pernah hampir mati karena hal itu.

I always miss you, even I never tell it to you. I always love you, even I never show it directly in front of your eyes. I always want to be home… To tell you a long story about my journey, to hear your story.

Gue ngga merasa perlu alasan untuk datang, sama seperti halnya gue ngga perlu alasan untuk pergi. Dan gue juga ngga perlu alasan untuk ngobrol dan ngobrol dengan driver GoJek gue sepanjang perjalanan pulang.

One thing I want you to know; I always love you no matter what you do. I always miss you even I never tell you. Maybe ’cause I know that it takes a long way home again. You don’t need to wait for me.

__________

Selatan Jakarta, 4 September 2017

Hai, Dy!

A repost from the past, a note from another diary. A story for beloved, in a long way home with these ussual traffic jam after hours.

Hai, Dy… Apa kabar?
Hais…. Lagi-lagi ingat kamu lagi. Ngga disana, ngga disini. Gue udah ngga di Balikpapan, Dy… Juga ngga di Surabaya. Just somewhere, tapi masih di Indonesia kita yang tercinta. Lebih dekat sama basecamp grup musik rock yang dulu sering kita datengin konser-konsernya, waktu kita masih sekolah dulu.

Continue reading “Hai, Dy!”

My hobby is my escape: Shoes laundry

Kamis siang, gue lupa tanggalnya… Minggu lalu, site visit ke salah satu lokasi kerja diluar kota. Gue bareng mas Isa, driver kantor yang nemenin gue dari awal sampe akhir kerjaan disana.

Tepat jam 6 sore gue nyampe kos, seperti saran mas Isa “Turuo, Nu… Awakmu ketok kesel nuemen, ndang istirahat”. Dan gak lama, teman kantor gue nelpon nanya kabar. Gue sering merasa menyesal setiap kali gue menghilang tanpa kabar, apalagi dengan posisi gue yang sekarang.

Tapi ada ego dalam diri gue yang membujuk dan terus membujuk… ” Let it be, you should’t think and do those all by yourself. Take a rest”. Dan gue pun tertidur, lupa bilang ke bos gue kalo gue gak masuk kerja hari itu.

Dua hari ini gue nyoba untuk gak mikir, dan berusaha untuk menghindari kontak dengan siapapun. Dua hari ini gue berusaha ngelakuin hal-hal yang jadi hobi gue.

Hampir 2 tahun gue gak pake jasa laundry, sejak salah satu celana jeans gue salah disetrika. Sepele… Celana jeans disetrika model celana kain. So, gue putuskan beli setrika dan mejanya, plus bahan-bahan laundry mulai dari detergen bubuk dan cair, pelembut dan pewangi, pelicin pakaian dan mulai bereksperimen dengan cucian dan setrikaan gue tiap minggunya.

Wasting time menurut orang lain… At least, gue gak perlu berharap sama jasa laundry dan hasilnya yang kadang gak jelas.

Dengan kondisi demam dan pilek gue berusaha fokus sama hobi-hobi gue… Kelar urusan laundry baju, pindah ke hobi baru gue yang benernya masuk kategori laundry juga; shoes laundry.

Udah sebulanan ini gue suka dengan shoes laundry meski level amatir. Gegara sepasang sneaker bahan kulit yang awalnya gue ragu beli, tapi karena model dan harganya wow banget, jadinya gue beli juga.

Then, gue mulai belajar cara ngebersihin sepatu bahan kulit. Mulai dari browsing seperti biasa sampe nanya-nanya ke penjaga konter sepatu disalah satu mall daerah barat, dimana akhirya gue malah beli sepasang lagi yang bahan kulit.

Dan pulangnya, entah karena khilaf atau doyan, gue beli lagi sepasang dari onlineshop yang untungnya asli waktu barangnya datang.

Gonta ganti baju tiap hari itu udah biasa… Gue sempat punya 14 pasang sepatu dalam waktu kurang dari setahun ini, tapi akhirnya gue putuskan hanya membeli, memakai dan koleksi model tertentu dari beberapa merek aja.

Ngga perlu semua dibeli… Gak perlu semua disimpan, sumbangin aja ke panti asuhan yang udah gak dipake.

Ada tips dan trik merawat barang berbahan kulit, apalagi yang model dan warnaya gak umum. Barang bahan kulit juga identik dengan mahal… Kalo itu asli. Karena gue pernah punya sepatu kulit imitasi, merek sejuta umat yang dijual di departemen store sejuta umat pula, dan hasilnya malah ngga baget.

Pertama; susah ngerawatnya. Kedua; ribet dipakenya. Tapi ada satu keuntungannya… Murah. That’s all.

Sneakers udah pasti bahan bawahnya karet. Kita menyebutnya dengan istilah sol sepatu. Bahan atasnya bisa apa aja, bahan dalam umumnya katun atau spon. Dari setiap material itu, bahan pembersih dan cara membersihkannya juga beda-beda.

Gue udah nyoba mulai dari pake sabun cuci piring, pemutih, sampe pasta gigi yang konon kata banyak orang ampuh membersihkan sol sneakers bahan karet warna putih.

Pake pemutih seperti Bayclin oke. Tapi perlu diingat, cairan kimia pemutih ini panas dan bisa bikin kulit tangan melepuh, ditambah uapnya yang bikin mabok, belum lagi kalo kena bagian atas bahan kain atau kanvas yang pasti bikin luntur, atau merusak yang bahan kulit. Ribet, mesti telaten banget dan ekstra berhati-hati. Hasilnya… Sepasang Airwalk hitam gue belang dibawahnya jadi merah gegara kena sedikit Bayclin.

Pake cairan cuci piring atau sebut aja Sunlight, juga bisa. Tapi busanya bayak, dan kalo sepatunya bukan kain atau kanvas jadi ribet bersihinnya. Kanvas pun kalo yang rubberized bisa jadi rusak atau bikin pudar warnanya. Trust me… Gue udah ngorbanin sepasang Converse Jack Purcell OX Storm Rubberized.

Pasta gigi paling direkomendasikan bayak orang. Tapi perlu diingat, pasta gigi ternyata lebih panas dari cairan cuci piring, meski gak seberbahaya pemutih atau detergen bubuk. Perlu ketelatenan tingkat tinggi make odol saat ngebersihin sol sneakers.

Kalo sneakersnya bahan kanvas biasa atau kain, masih okelah… Masih patut dicoba. Ini jadi solusi murah meriah buat membersihkan sol sepatu.

Gimana dengan sneakers berbahan kulit? Benernya, cara membersihkan solnya sama aja. Gue biasa pake tissue basah buat membersihkan pinggiran sol dan alasnya. Teman-teman gue sering nanya, buat apaan bagian bawah dibersihiin… Kan diinjak-injak lagi?!

Prinsipnya sama seperti ngebagun rumah; kita mulai dari alas atau pondasinya. Kalo bawahnya bersih, ngebersihin bagian lain jadi lebih mudah.

Benernya gue rada sayang ngebagi trik ini… Tapi gue pikir-pikir, buat apa juga gue simpan sendiri. Lagian, gue tau baget kalo biaya laundry sepatu masih lumayan mahal.

Iya kalo sepatunya harga jutaan, sekali laundry sekitar 150 ribu masih worthed. Kalo sepatunya cuma 200 ribuan, tarif laundry sepatu 50 ribu juga bakal mikir berkali-kali… So, this is my story. My hobby. Hidup emang gak afdol kalo gak punya hobi.

__________

Djatmiko currently uses:

  • Cololite sneaker care, leather cleaner, leather balsam, mink oil with spons, microfiber rag and brush, hair dryer for clean up.
  • Water absordent, silica gel, camphor and box for storage.
  • Sneakers in test: CTAS II Counter Climate Hi, JP M-Series OX Alpine, JP Jack Mid, JP Jack OX Storm Rubberized, JP Signature CVO, Rockport 2-Eye Boat, Pakalolo.

Old destructed methode:

  • Sunlight, Bayclin, Pepsodent + some Airwalk sneakers and Cole and Fladeo shoes.

Untitled 24 July 2017

Kadang gue kangen pake Facebook, Instagram, atau Swarm/Foursquare, 3 aplikasi sosmed yang dulu terlalu sering gue media buat mamerin segala arogansi sekaligus kebodohan diri dan pikiran gue. Tempat-tempat buat majang kesombongan demi sebuah pengakuan fiktif nan absurd dari orang-orang yang lebih banyak belum pernah gue temui, bahkan ngga gue kenal.

Hampir 2 tahun gue di Jakarta, yang makin hari rasanya makin parah macetnya. Mengutip kata-kata driver bus Damri kearah Sutta, tiap abis lebaran macetnya makin parah… Dan si pakde driver itu pun bercerita tentang sebab-sebab kemacetan malam ini ke beberapa rekannya via telpon, mengabarkan kalo ada kecelakaan Metro Mini di Pasar Minggu yang bikin jadwal bus Damri dari-ke bandara terhambat.

Jakarta, dengan segala mobilitasnya, memaksa gue yang tadinya cuma anak kampung; perantauan oportunis yang diuntungkan pekerjaan sampai akhirnya gue bisa kesini, bergerak secepat pergerakan kota ini. Sampai kadang ngos-ngosan kehabisan nafas, meski kecepatan itu berbanding terbalik dengan laju kendaraan di jalan-jalan protokol.

Gue memang oportunis. Gue selalu menganggap diri gue seorang yang beruntung. Tapi, segala sesuatu ada batasnya. Dan sampai kapan kita berharap pada keberuntungan? 

Ketika gue tiba-tiba direkrut tanpa pernah mengirimkan lamaran pekerjaan, disaat pekerjaan gue di kantor sebelumnya mulai mencapai titik jenuh dan ramalan kiamat gadget berukuran besar mulai jelas terlihat…

Gue bukan gadget freak, tapi gue memang suka dengan gadget. Dan ketika penjualan komputer berupa PC desktop baik CPU-monitor terpisah maupun terintegrasi mulai menurun drastis, ketika perlahan PC mobile atau kita lebih familiar menyebutnya laptop, juga udah bukan sesuatu yang bergengsi, gue merasa itu saat yang tepat untuk ninggalin dunia distribusi gadget berukuran besar.

Dua tahun itu waktu yang terlalu singkat untuk sebuah karir, dimana dari bukan siapa-siapa menjadi most wanted sekaligus most hated. Ketika kita jadi seorang leader, kita harus siap dibenci dan dikritik untuk hal-hal yang terlalu kecil dan sepele. Juga, dengan segala benefitnya kita harus siap dengan resikonya. Too much of not enough.

Dan pada akhirnya gue akui kalau gue lelah. Setiap orang yang gue temui gue beritahu kalau gue lelah. Paling ngga, itu meredakan sedikit beban gue… Seperti sebuah jalan rusak, paling ngga gue udah naruh sebiji kerikil buat berusaha nutup. Just imagine it.

Kadang gue kangen pake sosmed lagi… Tapi buat apa? Untuk melihat dunia? Untuk mengetahui karakter orang-orang? Biar ngga ketinggalan informasi? Atau hanya untuk jadi selebritis gadungan yang mencari-cari perhatian?

Do you know why I’m leaving Facebook, Instagram, and Swarm/Foursquare? Because I’m too tired of something unreal. Mistaken identity. Latent arogancy. Hungry of attention. Fake reception. 

__________

24 Juli 2017

Psr. Minggu sampai Sutta