Endlessly

Bukan karena ngga gue ceritakan lalu gue ngga memikirkan. All these days I think about it even I don’t say how much I miss it. That small village with it’s empty roads even in daylight, the beach across the road, the sunburn, that mountain, all those tree. I even miss that bloody village when I was a child. I miss you, our home. So, jangan beranggapan gue gak pernah memikirkan kalian.

Tahun lalu gue di Semarang, untuk pertama kali sejak sekian tahun akhirnya gue ketemu teman Facebook gue. But sorry to say, I no more a Facebook citizen. Teman gue nanya, apa tahun ini gue pulang ke Pekalongan via Semarang atau ngga. Sori, bro… Ngga keduanya. I just take a total me-time, a full rest after all. Dengan berbagai perasaan yang gue coba abaikan.

Karena bukan cuma teman gue yang nanya… Tapi adik gue juga; “Kapan mas pulang?”. Kapan? Gue ngga tau. Bahkan ada kalanya gue ngga tau kenapa gue harus pulang. But it never mean I never miss them. In all my silence, I keep remember. With all their knowless, I miss them.

Kalo dulu, permasalahan gue klasik… Soal biaya. Emang bukan soal murah untuk pulang ke kampung halaman gue, yang harus nyeberang pulau meski sekarang tinggal duduk manis dalam pesawat, melamun sekitar 2 jam di kursi dekat jendela sambil melihat awan dan menunggu pinggiran pantai terlihat. But now the problem is time. Only time.

Bukan berarti gue gak punya waktu… Toh buktinya selama libur ini gue bolak balik jalan dan nongkrong sendiri. Just alone… From a coffeeshop to another coffeeshop, like a stranger in this town. Tapi kalo dipikir-pikir, gue emang orang asing di kota ini… Seseorang yang selalu mengandalkan Google Maps untuk mencari rute, cashless even for moving from one place to another place.

Tahun lalu gue ke Pekalongan, transit via Semarang. Sebuah kota kecil sama seperti Balikpapan, kota kelahiran gue. Pekalongan adalah rumah masa kecil almarhum bapak gue, dan disana juga beliau dimakamkan. Sebuah perjalanan panjang, Jakarta-Semarang-Pekalongan, tahun lalu, ketika gue mencari makam bapak gue… Dan gak ketemu. Seolah beliau memang ngga ingin dicari, atau tepatnya ngga mau makamnya dikunjungi untuk kemudian diberhalakan. 

I know. I do really understand the norms in my family. Yang sudah pergi, sudah jangan dicari. Sudah, jangan disesali. Meski perasaan gue sesak. How can I not miss the people I love? Mereka bilang, orang seperti gue enak… Ngga ada yang nyari, gak ada yang nunggu. They never know the feel I felt. Ketika gue merasa apa yang gue lakuin gak lebih dari membunuh rasa bosan dan rasa takut.

No one wait me at home, but I miss them. I miss the things which no more exist. My parents, my childhood. I miss talking with them. I’d like to share my settle life now with them. But all what I have is just a picture inside my mind.

Gue bahkan ngga nelpon adik-adik gue, sepupu-sepupu gue. Gue cuma sekali nelpon bibi gue, adik almarhum bapak. Seolah libur panjang ini lewat gitu aja, ngga lebih dari waktu beristirahat setelah berbulan-bulan yang melelahkan. Gue keluar lebih untuk menikmati lengangnya jalan kota Jakarta, seperti Jumat malam lalu di Kuningan yang biasanya padat merayap tapi kemarin sepi.

Bukan karena gue ngga pernah bilang, lantas gue melupakan. Bukan seperti itu. I keep remember. I’d like to go home… I do.

Tahun-tahun yang lalu gue menghabiskan waktu seperti ini bareng sepupu-sepupu gue, adik-adik gue, ponakan-ponakan gue. Atau menikmati sepinya jalan di Balikpapan, menyisir pantai, melewati taman-taman kota, atau nongkrong dengan beberapa teman dekat. But this year, I keep my words in silent. I talk to no one in this long holiday. Not even to tell that I miss something I couldn’t reach anymore.

Everyday everynight I keep wonder… In the night, in day light, I imagine that I can be home at anytime together with beloved people. 


“There’s a part of me you’ll never know. The only thing I’ll never show… Hopelessly I’ll love you endlessly. Hopelessly I’ll give you everything. But I won’t give you up, I won’t let you down, and I won’t leave you falling. But the moment never comes.”
(Muse, 2003)

These days playlist from Spotify:

__________

Selatan Jakarta, 1 Juli 2017

20170618 – 11:40 pm

It’s not about money. Never.
It’s not about how much. Neither it is.

It is about how come.
It’s not about who.
It is about how.

It’s not about what. It is about why.

How can I do these?
Why I need to do these?

Remind me; did I ever ask?
Remind me; did I ever refuse an order?
Just remind me.

Then, this is the only I ask.
The only refusement I’ve made.
I refuse to ask.

It’s never about money. Never.
Never about how much.

It’s about why I need to do these and how come.

As I’m not entertainer, My life isn’t about to make you always happy.

Please remind me what is happiness.

    No One Like You

    I see no passion. I see no effort. All what I find is just complain of something which’s so simple to solve. I see no answers, I see no help. All what I find is nomore than requirements with no clue, which’s too simple to give.

    Dua tahun empat bulan, bisa jadi sangat singkat dan cepat, bisa juga menjadi sangat lama. It depends on what you see. Untuk urusan karir, waktu itu sangat cepat, something from nothing, from no one to someone. Tapi untuk beberapa hal lain, mungkin itu terlalu lama. Terlalu lama diam memendam perasaan, lalu tiba-tiba menghilang. 

    Dalam dunia broadcast, entah radio, televisi, mapun media cetak, kontribusi terbesar dari sebuah profit datang dari silent reader, silent listener, atau penonton pasif. Mereka orang-orang pasif yang hanya mengamati dan menikmati, tapi kemudian pergi ketika apa yang terjadi sudah ngga menarik lagi. Jujur aja… Media hidup dari iklan. Sebuah stasiun radio ngga bakal dapat untung dari orang-orang yang rajin nelpon. 

    So with social media. Bukan yang rajin mention dan selalu folbek yang ngasih keuntungan. Silent reader, silent follower. Apalagi di dunia jaman sekarang, sebuah identitas di sosial media jadi gak berarti tanpa follower.

    Gue selalu merasa kalo gue adalah orang yang spesial, seperti setiap individu yang terlahir unik dan memang spesial. Disisi lain, gue juga merasa kalo gue juga manusia biasa, yang seperfeksionis apapun tetap aja ngga sempurna. Kehidupan memang ngga ada yang sempurna, karena ada kalanya kehidupan juga ngga pasti. Satu-satunya kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian itu sendiri.

    Gue selalu bilang ke orang-orang yang gue anggap sebagai teman, bahwa gue menikmati hidup dan kehidupan gue. Hanya kadang, gue memang ngga menikmati apa yang mengganggu kehidupan gue. Gue menikmati pergi pagi pulang malam, selalu menikmati berpikir dan bekerja dalam sepi, selalu menikmati melakukan banyak hal sendiri. Sampai akhirnya gue jadi terlalu bergantung dengan diri gue sendiri, yang akhirnya gue sadari kalo gue gak mampu melakukan semua itu sendiri.

    Tapi maaf… Gue ngga percaya kalo orang lain bisa gue harapkan. I see no passion, I see no effort. So simple. Apa lagi yang perlu gue harapkan, ketika semua udah jelas keliatan mata tanpa perlu lagi ditanya. Ketika jelas ada aturan dan tulisan, tapi kita pura-pura ngga tau. Atau mungkin, lebih sering ngga mau tau.

    Kadang gue berpikir, kenapa mereka yang harusnya punya modal lebih tapi justru ngga mampu. Kenapa mereka yang punya latar belakang lebih bagus justru ngga punya kemampuan maju kedepan? Apa karena yang masa lalunya buram memang harus jadi korban? Ngga. Dan kenapa mereka yang mendapat lebih dari cukup selalu merasa kurang, sedang kami yang kekurangan mampu mencari lebih.

    Hal-hal yang bagi gue kadang ngga logis. Budaya modern efek dari perasaan ingin selalu eksis, rasa sepi yang dimanipulasi dengan kata-kata provokatif, teman-teman fiktif. Karena kita ngga perlu memotret sebuah musibah untuk disebarluaskan, minta orang-orang ikut bersimpati lewat kata-kata, like, reshare, dan segala tindakan absurd lainnya yang mulai jadi kewajaran. Just give a real help, take a real action don’t take a shoot and post it.

    Kenapa? Karena gue pernah melakukan itu, dan emang ngga menolong. Gue justru memotret para korban yang diseret ombak, memamerkannya di sosmed dengan berbagai komentar mulai dari yang memuji sampai mencaci maki. What I’ve done? Gue gak menyelamatkan korban, justru mencoba mencari keuntungan dan popularitas melalui jumlah komentar, reshare dan like. Useless.

    No one like you. Setiap individu unik, kita personal yang bukan produksi massal. Tapi bukan berarti kita ngga punya kesamaan. Kita sama-sama sering ngga peduli, karena terlalu asik dengan diri sendiri. Entah lewat posting di sosmed, kata-kata, gaya, juga kerja. But, no one like you. 

    Waktu yang sangat singkat ketika kita bicara soal karir. Tapi ini juga jadi waktu yang sangat lama untuk sebuah keputusan; is it still worth to run or is it enough. Karena ngga semua orang berorientasi pada materi, dan pada akhirnya kita perlu menyadari ada hal-hal yang ngga bisa kita bayar pake duit. Ada hal yang memang ngga bisa kita beli, disamping ada hal sederhana yang harus kita bayar mahal.

    I don’t ask you to forgive me. I just ask you to understand. Ini kata-kata dari film Spiderman, yang bikin gue mikir bahwasanya maaf itu sia-sia ketika kita ngga ngerti apa maksudnya. So, gue berusaha untuk gak minta maaf, bukan karena gue ngga menyesal… Tapi buat apa? Ketika maaf itu cuma jadi formalitas, dan kesalahan-kesalahan tetap berulang. Please understand, that’s it.

    Ada satu titik dimana kita bakal melihat kebelakang. Dan dari kemarin, gue ada di titik ini, melihat kebelakang. What I’ve done; is it still worth to fight for or is it enough. Karena ini bukan soal materi dan juga bukan soal gengsi. Bukan soal seberapa tinggi. So I wont ask.

    Jumat lalu, gue katakan apa yang harus gue katakan. Sebagian tentang rasa takut dan kekecewaan terselubung. Dan Sabtu keesokannya, gue lakukan apa yang memang harus gue lakukan; mengerjakan apa yang memang harus gue kerjakan, apa yang memang jadi tanggung jawab gue. 

    Kita kadang memang perlu hiburan, dihibur. Tapi ada satu titik dimana hiburan itu justru cuma jadi sia-sia. Let it be. If you actually can’t help, don’t say you will. Beberapa hal kadang ngga perlu diselamatkan. Beberapa hal, justru ada kalanya memang perlu dihancurkan, meski ngga semua hal bisa kita daur ulang. 

    Because I see no passion, I see no effort. All what I find is nothing but complain of too much of not enough. When I erased my holiday, they ask for more holiday. When I feel 24 hours isn’t enough, they ask to reduce. 

    I’m too tired to tell that I am tired. Too disappointed to tell that I am disappointed. Because I never ask, I wont ask. I don’t even refuse any order. All what I need to do is a real move, when everything brokes my heart so, I have no option but say goodbye.

    Yes I know it’s never easy to say goodbye, moreover for something we’d love. Give me a reason why I need to stay, even I’m sure it wont repair my broken heart, or maybe I can use glue to repair it.

    __________

    Selatan Jakarta, 5 Juni 2017

    Someone Like You

    ‚ÄčNobody’s perfect. But every single of us like to behave perfectly by looking for others mistakes.

    Gue bilang ke teman gue kalo mungkin gue lagi di titik jenuh hidup gue. Setiap orang pernah gagal. Setiap orang punya rasa takutnya sendiri-sendiri. Dan didalam bus TransJakarta dari Warung Jati ke Monas via Mampang-Kuningan yang you know how’s the traffic after working hours, gue coba mikir lagi… What is my fear about.

    Jakarta mendung, dari pagi. Mendung yang identik dengan warna abu-abu, awan kelabu. Segaris dengan rasa takut yang sedang berpikir apakah ini akan menjadi hitam lalu menumpahkan hujan untuk meredakan rasa takut itu, atau memutih cerah sebagai optimis yang hangat. But never ask the weather. Don’t talk about weather.

    Nobody’s perfect. Tapi dengan segala ketidaksempurnaan itu, kita selalu ingin sesuatu yang lebih. Like I always say in my writings; it’s easier to lie. Lebih mudah berbohong, apalagi membohongi orang lain. Juga, selalu lebih mudah dan entah kenapa bagi terlalu banyak orang, lebih menyenangkan mencari dan melihat sedikit kesalahan ketimbang banyak kebaikan yang berceceran dan akhirnya terlupakan.

    Itu sebabnya gue ninggalin Facebook, sosmed paling mainstream dengan hoax bertebaran yang bagi gue udah kronis, dan gue give up dengan bulliying di dunia maya yang tanpa identitas… Berlomba jadi paling suci, paling peduli. Kepedulian fiktif dimana mayoritas orang bisa menjadi anonim.

    Gue pun perlahan mulai apatis dengan segala yang tanpa bentuk, dunia maya yang absurd. Karena esensi pesannya gak pernah nyampe, dibalik keaktifan dan kebisingan yang mendadak sangat pasif di kenyataan. How can I trust you? Mungkin karena memukul orang dari belakang lebih menyenangkan ketimbang berhadapan, face to face. Dimana kita bisa lari sebelum orang yang kita pukul menoleh.

    So, apa yang mau gue katakan? Akhirnya gue merasa kata-kata verbal adalah kesiaan… Gak lebih seperti tumpukan barang obralan yang dijual murah. Atau mungkin gue aja yang terlalu terdoktrin dengan tagline sebuah iklan asuransi… Karena kanya dengan mendengarkan, kita bisa lebih memahami.

    Tepat seminggu lalu gue datang ke seorang teman. Teman lama, mantan bos gue di kantor lama. Gue lebih menganggap pertemuan itu sebagai interview, dimana gue merasa menjadi orang yang dibutuhkan, meski pada dasarnya gue yang membutuhkan. So I offer to sell myself again. Karena hal pertama yang harus bisa dilakukan setiap orang untuk bertahan adalah menjual… Menjual diri, mempromosikan dirinya sendiri. No one can save yourself but you.

    Why am I coming? Why I do that, in my current position that’s not easy steps to get it in. Dengan background pendidikan gue, latar belakang kehidupan gue… Ini Indonesia, dimana pendidikan adalah segalanya, sekaligus bukan satu jaminan kepastian. Ini Indonesia, dimana selembar ijazah jauh lebih berharga dibandingkan pengalaman.

    Remember; this is Indonesia where certificate is always first class rather than experience. Mungkin karena dulu kita terlalu lama dijajah Belanda, if you know what I mean.

    Ada kalanya kita ngga mau disalahkan. Entah karena faktor memang kita benar, setengah benar, sedikit benar, pura-pura benar, atau benar-benar ngga benar. Karena pada dasarnya, dibalik jargon-jargon sok bijak yang bertebaran, kita cenderung menganggap orang lain salah. Secara naluriah, kita cenderung berpikir bahwasanya apa yang kita lakukan adalah benar.

    Seperti memamerkan kesalahan dan atau penderitaan orang lain. Memviralkan hal-hal yang bakal mempopulerkan diri kita. Semua yang fiktif dan absurd… Meninggalkan jejak di segala bentuk dunia maya, biar eksis. No real action but just watching and commenting on our smartphone.

    Kadang gue berpikir, apa gunanya komunikasi kalo akhirnya pesan itu gak nyampe. Cuma karena kita terlalu sibuk bicara, bicara, bicara dan bicara, dan bicara. Take a moment to watch. Take a moment to listen. Cuma karena teknologi semakin canggih, dan kita lebih banyak berinteraksi tanpa tatap muka. Maaf, tanpa perasaan… Tanpa pikiran.

    Karena kita terlalu sibuk bicara, mengobral kata-kata, melumpuhkan beberapa indera lainnya. Kita ngga suka mendengar, kecuali hal-hal yang menyenangkan dan mendukung pemikiran kita. Kita ngga mau melihat, kecuali hal-hal yang menguntungkan kita.

    Nobody’s perfect, but that’s a lie. Karena kita selalu suka melihat kesalahan dan memberitakannya besar-besaran atas dasar pembelajaran. But we never learn. We don’t like to learn but for a sheet of paper that we can show.

    Perfeksionis di dunia ini hanya segelintir, meski sedikit lebih banyak dari orang-orang berjiwa pemimpin. Tapi tetap, orang-orang yang suka dengan zona nyaman yang paling banyak, mendominasi populasi manusia di bumi. Kami menyebutnya studi DISC; Dominance, Influence, Steadiness, Compliance.

    Sama seperti studi psikologi lainnya, studi ini pun mengkotakan manusia menjadi beberapa kategori. Karena mayoritas penduduk dunia memang bertipikal Steadiness, yang suka bersosialisasi, gemar bicara, suka berkumpul.

    Sorry to say; affraid of walking and being alone and don’t care about what is perfection. Selama selalu sama-sama, mereka bakal menikmati dunia… Without thinking it is right or wrong. Tipikal orang-orang yang mudah dipengaruhi, dan maaf… Mudah terprovokasi, meski yang memprovokasi bukan tipikal mereka.

    Provocator is mostly combination between Influence and Dominance or Compliance. Steadiness is naturally born as follower, that’s why it is the biggest amount amongst us.

    Kita selalu berpikir kalo kita udah melakukan hal-hal terbaik, terhebat. Then the question is; why you still here? A simple question. Haven’t you a passion to get more? Why you still do these? All simple questions.

    Karena seperti gue bilang sebelumnya; mostly of us born as Steadiness, and naturllay born as follower. What a follower can do but wait? Even for a simple command. Even to think. Even to see. Even to speak out their mind. But follower can ask… Ask for what their need, not others.

    No one can save yourself but you. And do not ever dream to give a help before you can help yourself. Seperti aturan dasar dalam penyelamatan diri yang selalu diulang para pramugari… Selamatkan diri anda dulu sebelum menyelamatkan orang lain. So, jangan jadi pahlawan kesiangan. Penjajahan era modern udah gak perlu pahlawan.

    So I talk to myself, “Could I have someone like you?”, then myself answers me “No”. Every single of us born as ourself, not a clone of other. So I can not clone myself.

    Ada satu titik dimana kita akan melihat kebelakang. Dan ada satu titik, dimana kita perlu berhenti… Menghitung jarak kedepan, melihat arah lain, atau bahkan berputar arah.

    You decide, because no one can save yourself but you. And remember; never try to be a hero… Unless you can have no personal care about whatever will happen to yourself. A hero never paid. Help yourself.

    __________

    Selatan Jakarta, 30 Mei 2017

    Small, Simple Little Unseen

    ‚ÄčIn the end, you’ll know who is true and who will risk it all for you.

    Itu quote yang gue temuin disalah satu sudut Google yang luas, dunia tanpa batas. The thing I could named the only best friend. Gimana ngga gue bilang best friend… Dengan segala diamnya, Google yang awalnya cuma search engine, banyak hal-hal yang gue gak ngerti bisa terjawab. Gak selalu, dan perlu validasi karena gak melulu semua itu benar. What you see isn’t always true.

    Hari ini perasaan gue campur aduk, antara masih ingin bertahan atau menyudahi apa yang udah gue mulai. How can you leave the thing you started but to destroy it. No, I’m not a destroyer, seperti yang dinyanyikan Frente!. I just think how it could be.

    Sebagian besar kegagalan memang lebih sering disebabkan diri kita sendiri. Gak tau itu karena emang mindset dan attitude bawaan orok, faktor lingkungan atau faktor kebetulan. Gue bukan motivator, so gue gak bakal sok bijak dengan bilang jangan menyalahkan orang lain. Speak your thought even you can not speak with your mouth. So I write. Itu sebabnya gue menulis, meski gak kebaca oleh siapa yang gue tuju. At least I speak my mind, and archieved it if one day I need to remember.

    Gue lebih memilih bisu gak bisa ngomong ketimbang lumpuh gak bisa nulis. Karena prakteknya gue lebih bisa ngomong lewat tulisan ketimbang secara langsung. And in my writing you wont hear my intonation but trying to guess what it means. Karena gak semua orang bisa memahami tulisan. Sorry to say… Kita lebih suka bicara ketimbang mendengarkan. Termasuk mendengar kata-kata dalam sebuah tulisan, menafsirkan apa maksud sesungguhnya.

    Sama halnya kita lebih bisa melihat hal-hal besar ketimbang yang kecil. We’d like to see the big and the result. Mostly of us don’t care about simple small little unseen, mostly of us don’t care about process. Seperti mungkin kita gak peduli kenapa celana jeans kotor dan bau yang kita masukin laundry bisa kita jadi bersih dan wangi. I know, because I did it. I learn how to laundry jeans with conventional way and life-hack tricks. I made my new blue baggy jeans to fit stoned-washed looks just in a week.

    Dan gue dicemooh oleh orang yang gue harap bisa mengapresiasi… Tapi posting itu diapresiasi positif oleh orang-orang yang gak gue kenal, yang (maaf) bukan dari Indonesia, bahkan di tag ke brand tersebut. A common mistake; I put my hope and expectation too high on worthless people in worthless place, with worthless culture and worthless mindset. So I leaved Instagram with no sorry, leaving Facebook regretless.

    Apa gue menyesal dengan hidup dan kehidupan gue? Almarhum bapak gue orang yang terlalu jujur… Salah satu hal yang bikin mentok di jabatan yang sama selama bertahun-tahun kerja di bank berstatus BUMN sampai akhirnya pensiun. Terlalu lugu… Bikin dia dengan mudah ditipu, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Almarhumah ibu gue terlalu jujur, terlalu transparan waktu jualan dan akhirnya gak bisa naikin harga jual, tertalu mudah ditawar karena suka kasih tau harga modal bahkan proses bikinnya.

    Kadang gue menyesal. Kadang… Kadang gue menyesal kenapa semua terlalu cepat. Kenapa kedua orang tua gue terlalu lugu menghadapi kehidupan, terlalu naif dengan segala perubahan. Hanya kadang, ngga selalu. Karena pada akhirnya gue lebih banyak menyesal kenapa gue ngga bisa seperti mereka; seperti apa adanya, legowo menerima kekalahan sekalipun itu telak menghantam kehidupan paling dasar dalam kehidupan keluarga; perekonomian.

    Ketika bapak gue harus ke pasar, mengais tumpukan sampah sayuran gak layak jual buat dibawa pulang dan dimasak dirumah… Ketika ibu gue dengan kemampuan masaknya yang expert harusnya bisa bikin usaha catering harus jadi tukang cuci piring di depot tetangga… Dan ketika adik gue yang paling kecil harus ngumpulin botol bekas buat duit jajannya… What I’ve done? Gue ngotot mempertahankan studi gue whichis costly. Gak ada sekolah broadcast yang murah.

    Small, simple little unseen. Gue gak mau melihat hal-hal itu selama bertahun-tahun, bahkan gue berusaha lari dari kenyataan dan tanggung jawab dengan gak mau pulang kerumah. Skripsi gue tinggal, gue berusaha mencari kenyamanan buat diri gue sendiri. Dan ketika gue pulang kerumah, everything is too late. You wont see my tears. You wont hear my cry. – (Sat, May 20th 2017)

    So, gue mulai kehidupan gue dengan fakta kalo gue adalah seorang kakak yang punya 2 adik, meski saat itu salah satu adik gue udah mapan banget dengan kehidupan ekonominya. Gue mulai nulis di buku baru, tanpa membuang tulisan-tulisan di buku lama gue. I started my everything from nothing again. Mencoba memperbaiki hubungan kakak-beradik gue, mencoba menjadi om yang baik untuk ponakan gue, mencoba jadi karyawan yang baik. Dan mencoba meluangkan waktu untuk teman dan keluarga yang lain.

    We can make so many careful plans, but we know not how’s the end. Keluarga gue berantakan lagi, adik gue memilih pulang kerumah mertuanya jauh diluar kota, membawa serta keluarga dan tentunya ponakan gue. That’s not mine, but my heart is really broken. Even until these days. So I keep my nephew’s photo inside my wallet, and I mostly put my wallet inside my bag.

    Setiap orang pernah gagal. Entah dalam karir, kehidupan keluarga, juga pertemanan. Setiap orang pernah putus asa, bahkan terhadap hal-hal sepele. So do I. But keep running, just running and moving forward.

    Kita memang suka melihat hal-hal besar… Seperti gue yang akhirnya menerima tawaran kerja di Jakarta; kota besar dengan banyak gedung tinggi besar dan jalannya yang lebar tapi penuh sesak dengan kendaraan. Kita suka melihat hanya hasil akhir… Seperti gue yang sering gak peduli ketika abang GoJek yang dapat orderan gue datangnya lama.

    Small, simple little unseen.

    Ada banyak hal kecil yang kita ngga ingin lihat. Terlalu banyak yang kita ngga ingin tau, cuma karena itu ngga menyenangkan untuk diketahui. Dan ketika rasa ingin tau itu datang… You just come to blame; cause what you see isn’t satisfy your mind.

    Bos gue bilang; “Dulu pas awal gue gak pusing dengan kerjaan. Tapi sekalinya nyemplung dan tau, gue jadi makin pusing…”. That is. Kita lebih suka menilai seporsi makanan dari harga dan rasa, tanpa pernah peduli dengan prosesnya. Karena memang itu hak kita sebagai pembeli… Karena hak atasan nyuruh bawahan, karena merasa sebagai bawahan haknya hanya menunggu. We don’t care about process, we never care about detail. Too much junk food, too much soda.

    Tapi gue percaya; pada akhirnya kita akan melihat dan menghargai hal-hal kecil yang sepele dan sederhana, yang gak terlihat itu. Meski mungkin terlambat. Seperti gue yang terlambat memperbaiki kehidupan gue, dan emang beneran terlambat. At least, we’ll understand why it is happen and we might learn from the past. Itu sebabnya kadang gue melihat kebelakang sesekali.

    Just to remind myself that I am something from nothing. – (Sun, May 21st 2017)

    __________

    Selatan Jakarta, 20 & 21 Mei 2017

    Unspoken, May 17th

    I wont ask. Never, if I can find the answers by myself. My father taught me “you must help yourself!”. Then my friend tell me a quote from somewhere “no one can save yourself but you”.

    I’m dying. 

    I always think that tomorrow will be my last day in everything, and I always affraid of failed. So I’m dying in my perception of perfection. 

    Then a new day’s coming, with my fear’s left behind. Everytime I walk out of my door, a new fear is coming. I am affraid of failed. My fear in my perception of perfection.

    How you can not do that? A little easy thing, a light decision you could make your own. How come it becomes so hard…

    I’m dying.

    I always think that you could make it happen without me. Or perhaps I put my hope too high on you… Why? I never ask unless it is unquestionable. If it has the asnswers, I wont ask. Never. No matter how come I must find the answers.

    So I am dying in a thing we named believe. Again.

    So I’m going back to a thing named sceptic. Again.

    Because I’m dying in my perception of perfection of you.

    Enough to talk. Keep your complain first until you understand why it must be happen.

    No one can save yourself but you.

    __________

    May 17th 2017

    Keep Your Hopes High

    Setiap hal perlu proses. Bahkan untuk hal-hal sederhana, kayak gue barusan bikin kopi (lagi), ada proses sampai dimana akhirnya kopi itu bisa gue seduh. Ada proses dibalik kefanatikan gue terhadap merek kopi itu. Ada proses gue nyuci gelasnya, manasin air, beli kopinya, ngumpulin recehan dari box wafer gue buat beli kopinya, ngebuka bungkusnya, bla bla bla… Belum lagi proses sebelum kopi itu ada di rak supermarket dibawah kantor gue. Continue reading “Keep Your Hopes High”