(fri)End for Sale – Preview

Seperti lagu lamanya Potret; semua bisa kalo pake duitMengesankan kita manusia dengan mudahnya bisa dibeli. Tapi faktanya; siapa sih ngga butuh duit??? It’s all about the moneyMeski The Beatles sendiri pernah dengan lantang mengatakan can’t buy me love. Money is important but not the most important. You can never buy a long term relationship with money.

Advertisements

Wish you were here

Sampai sekarang, gue kadang bingung kenapa mayoritas judul tulisan gue lebih sering make bahasa Inggris, dan lebih sering lagi nyomot judul lagu atau quote yang berserakan diluar sana. Ngga disini, ngga disana… Maybe ’cause it is just simple, or maybe I can hide something inside or another maybe.

Wish you were here; kalimat standar orang yang kasmaran atau kangen dengan apa aja siapa aja. Bulan November mungkin jadi salah satu bulan paling melankolis selain Februari yang… Sorry to say, mengutip dari Efek Rumah Kaca; soal cinta melulu. Roman picisan kalo kata Dhani. Meski benernya gue juga pernah memanfaatkan momen cinta-cintaan itu jaman dahulu kala… Jualan kembang dan kartu ucapan untuk para pasangan kasmaran. Lumayan, ketimbang lu-manyun.

Setengah ati gue pengen pulang kerumah tadi subuh. Mumpung long weekend, plus udah ijin juga ke beberapa layer atasan. Tapi yang ada malah tidur lagi… Bangun-bangun udah jam 7 pagi, nanggung, mending ke kantor aja sekalian. Hari terakhir di November 2017 yang berasa kayak akhir tahun; kantor masih sepi sampe jam 10 pagi, dan udah sepi lagi sebelum jam 5 sore.

Soal gue mo pulang kemana, gue cuma ngikutin mood aja… Like they always ask, like it’s a FAQ in my life; where is my home? Karena yang mereka tau, yang (menyebut dirinya) jadi teman-teman gue, taunya rumah gue di Balikpapan. Yes, I was born and grown there. But a birth place isn’t always a hometown. Even sometime, some people don’t like to face the truth that they’re a part of that place called hometown.

Gue lebih suka menyebut ‘Surabaya is my hometown’. Bukan gegara selembar kaos kedodoran yang dikasih seorang mantan manager yang bertuliskan statement itu. Toh akhirnya kaos itu gue permak jadi slim fit, tapi malah ngga muat setelah gue sadar kalo badan gue ternyata udah ngga selangsing dulu. Somehow, I could call Surabaya is my hometown ’cause I used to live in that damn hot city for around a decade, more than a jancuk’s gimmick.

Tadinya gue pengen pulang ke Pekalongan. Kota kelahiran almarhum bapak. Bukan… Bukan buat ziarah. It’s enough. Karena tahun lalu ketika gue pulang dan berusaha nyari makam beliau, gak ketemu. Sepele… Bapak gue pernah bilang kalo yang udah ya udah. Jangan memberhalakan sebuah makam, dan ngga perlu datang ke makam kalo cuma untuk berdoa. Sometime memory is a pain, something can not erase. He doesn’t even put his name on his gravestone.

Ke Balikpapan pun sama… Terakhir gue pulang, gue ngga lagi ke makam almarhum ibu gue. Let it be, past is passed and it was. Ingatan itu kadang menyiksa. Seperti November ini ketika gue ingat almarhum ibu gue dibawa ke rumah sakit, the first leave when I knew that she wont comeback home for real. Let it be. Tears are now useless.

Wish you were here. Bukan berarti gue ngga pernah kangen… Lebih dari itu; udah insting manusia mencari subtitute dari apa yang pernah ada sebelumnya. But somehow, sometime memory is a pain that can not erase. Otak kita bukan hard drive yang bisa diformat, and our live has no ctrl+z to bring it back or ctrl+alt+del to remove all clearly. Kita cuma bisa mengagumi mesin waktu dan pintu kemana aja milik Doraemon, dengan fakta kalo itu ngga nyata.

Salah satu episode Doraemon paling sedih yang pernah gue tonton; ketika Nobita kangen dengan neneknya, kemudian maksa Doraemon berkunjung ke masa lalunya. To me, that was so sad. Lebih sedih ketimbang hubungan Kudo Shinichi dan Mouri Ran yang tiap hari bareng tapi salah satunya ngga bisa ngomong kalo dia selalu ada. Namaewa; Edogawa Conan, tantei san.

Tapi kita bisa belajar dari itu; hal sepele yang bagi banyak orang cuma hiburan, ngga lebih dari anime, shonen story. Jadi pelindung buat siapapun yang kita sayangi tanpa perlu show off. Love in a silence, an invisible guardian angel.

Long weekend, hari terakhir November 2017. Gue bahkan gak masang lagu wajib itu di playlist Spotify gue ataupun streaming videonya di YouTube sepanjang bulan ini. It is rainy all day. It’s not a sad day, even it might be a lonely holiday without you. How come I summon the people which already gone, who just leave a memory. Bitter sweet, a silent wish in every pray.

Dalam ingatan gue, jalan-jalan di kota kelahiran gue masih terbayang jelas, dengan aspal hot mix standar sirkuit yang tengah malam dibersihkan dengan semprotan air. Wanna see that? Please come to my hometown, and take a walk in midnight to find that around the street near airport. Enjoy the seaside downtown.

So, meski gue sendiri ngga paham kenapa mayoritas judul tulisan gue berbahasa Inggris, life goes on. Let it be. It’s a long weekend. Not a sad day even it might be a lonely holiday without you.

__________
Selatan Jakarta, 30 November 2017

Shoe laundry: DIY, a quick guide

Konon, fashion item paling mahal yang (sebaiknya) dimiliki cowok itu sepatu. Bukan gadget, juga bukan jam tangan. Kecuali kolektor… Ngga tau, saya lupa dapat statement itu dari mana. Satu-satunya yang saya ingat; itu kalimat ada disebuah website bermula dari Googling. Dan bicara soal sepatu, musim hujan mungkin jadi hal yang bikin kita males make sepatu kategori ‘bagus’. Sepele… Ngebersihinnya susah, salah-salah malah rusak.

Saya dulu juga seperti itu. Sampai sekarang benernya juga masih… But at least, now I know how to laundry my shoe(s), terutama yang bahan kulit. Saya ambil sampel; salah satu sneaker dari Converse seri Jack Purcell berbahan kulit.

So, these are what we need:

  • Sikat sepatu dengan bulu halus, untuk membersihkan bagian atas‎
  • Sikat sepatu dengan bulu kasar, untuk membersihkan bagian sol dan bawah
  • Sikat gigi bekas, kalau perlu (siapkan aja)
  • Kain micro fiber
  • Kanebo
  • Wadah plastik untik air bersih‎
  • Wadah plastik untuk cairan pembersih
  • Spon/busa (bisa pakai potongan dari spon untuk cuci piring atau bagusan spon cuci mobil)
  • Hair dryer, kalau dirasa perlu
  • Cotton bud, sebatang-dua batang aja

Selain benda-benda tersebut, ini yang paling esensial… Sori kalau langsung sebut merek…

  • Collolite leather cleaner (esensial)
  • Collolite sneaker care (esensial)
  • Collolite leather balsam (opsional, tergantung kebutuhan)‎
  • Collolite mink oil (opsional, tergantung jenis kulitnya)

Merek pembersih dan perawatan sepatu itu bisa dengan mudah dibeli di supermarket seperti Superindo, toko sepatu, beberapa departement store kayak Pasaraya, atau kalau mau lebih pasti di Ace Hardware. Atau, di online shop juga banyak. Kalau di Carrefour jualnya yang merek Bagus, bukan Collolite. But it’s worth to try.

Langkah pertama paling penting yang sering diabaikan dan disepelekan; bersihkan bagian bawah sepatu. Mayoritas teman saya bilang, ngapain juga bagian bawahnya dibersihin… Ntar juga kotor lagi dan gak ada yang lihat. Salah besar. Karena kalau bagian bawahnya ngga bersih, bakal sulit bersihin bagian lain.

Bersihkan bagian bawah sepatu dengan sikat kasar, bagian atas dengan sikat halus. Sebelumnya, lepas tali sepatu (cuci kalau perlu). Setelah ngga ada sisa-sisa pasir, lap dengan kanebo dan angin-anginkan sebentar ditempat teduh. Atau gunakan hair dryer biar lebih cepat.

Tuangkan cairan pembersih (sneaker care) ke wadah terpisah dari air bersih. Basahi permukaan bawah dan sol sepatu dengan spon, kemudian basahi sikat kasar dengan cairan pembersih dan sikat perlahan. Soal gerakan memutar atau searah, itu soal selera… Tapi untuk noda ringan, sikat searah udah cukup. Bersihkan busa dengan kanebo, kemudian micro fiber untuk lebih mengeringkan. Gunakan hair dryer kalau perlu.

Setelah bagian sol dan bawah selesai, saatnya berpindah ke bagian dalam. Gunakan spon yang dipotong kecil, atau sikat gigi bekas, untuk membersihkan bagian dalam sepatu yang berbahan kain. Basahi spon atau sikat gigi dengan air bersih terlebih dulu, lalu bersihkan dengan cairan pembersihnya dengan gerakan memutar atau searah. Lap busa dengan kanebo, ulangi kalau perlu. Setelah itu, angin-anginkan lagi biar agak kering. Disinilah sebenarnya kegunaan hair dryer…

Kalau udah beres, kita pindah dengan bahan pembersih lain; leather cleaner. Oleskan krim menggunakan spon atau kain micro fiber ke permukaan kulit sepatu, besihkan perlahan dengan gerakan memutar. Ulangi beberapa kali kalau ngga yakin udah bersih atau ngga. Diamkan sebentar, atau angin-anginkan lagi, atau express pakai hair dryer.

Sebenarnya itu udah selesai. Tinggal nunggu kering aja, cukup diangin-anginkan. Tapi untuk perawatan lebih lanjut, leather balsam atau mink oil diperlukan. Pastikan permukaan sepatu udah benar-benar bersih sebelum mengaplikasikan salah satu krim tersebut.

Saran aja… Jangan menggunakan kedua krim tersebut bersamaan, karena karakternya beda; leather balsam lebih mirip pelembab dan ngga mengkilap, mink oil juga pelembab tapi mengkilap dan bikin tekstur kulit sepatu lebih lentur.

Cara menggunakan leather balsam atau mink oil sama seperti cara menggunakan leather cleaner. Asiknya, dalam kemasan kedua leather conditioner itu udah ada alat semacam spon dengan pegangannya. Bersihkan bagian sol yang terkena mink oil atau leather balsam dengan kain micro fiber kering. Pakai tissue kering juga bisa, atau spon bersih yang kering. Setelah itu, angin-anginkan lagi atau gunakan hair dryer.

Untuk bagian lubang tali sepatu (kalau bahan aluminium), gunakan cotton bud untuk membersihkan sisa mink oil atau leather balsam. Gak gitu penting… Tapi penting banget ketika tali sepatu yang kita pakai warna putih, karena sisa minyak dari mink oil maupun leather balsam dan cleaner bakal bikin noda kehitaman saat tali sepatu bergesekan dengan pinggir lubang tali sepatu.
It’s all done.

Cuma perlu 10-20 menit untuk membersihkan sepasang sepatu. Silakan diulang sampai capek.

__________

Selatan Jakarta, 29 November 2017

Race; like it’s required

In a racing game; virtual or reality,
We don’t need to always finish as the first.
Because some race required us to go slow,
Just follow the leader with a certain distance.
It’s about speed maintenance to win.
It’s about time; from bottom to top.

Drag race actually isn’t about speed.
It is about accleration, indeed.
How to maintenance the first strike.
A different with drafting;
Accleration is nothing but speed stability.

In normal race;
Accleration and speed are nothing but skill.
Time prooved.

You decide:
To be a good angel; race normally to avoid mistakes and just wish for a victory,
Or to be a proper demon; race brutally and finish on first no matter the damages.

Or do not ever enter the race.
I am (not) a gamer

Real Racing 3 from Electronic Arts

__________
20171121 – 9:35 pm

Jalan Panjang yang Sunyi (Reprise November 2017)

 

Sejak saat itu aku memutuskan berjalan sendiri,
Tidak peduli hujan badai,

Panas terik membakar,
Tanah kering kerontang ataupun banjir bandang.

Sejak saat itu aku putuskan berjalan sendiri.

Menyeberangi pulau-pulau seperti burung terbang,
Melintasi jalan-jalan kota yang ramai,
Melintasi jalan-jalan sepi yang sunyi.

Meninggalkan sebuah tempat yang mereka namakan rumah.

Di setiap langkahku kedepan,
Kutinggalkan selembar gambarmu dibelakang.
Berceceran tak tergenggam,
Seperti bayang-bayang yang seharusnya tetap dibelakang.

Sejak saat itu kuputuskan berjalan sendiri.
Sejak aku mengerti bahwa sudah waktunya engkau pergi.

Seperti setiap jalan yang kulewati;
Terlalu banyak persimpangan,
Terlalu banyak pemberhentian.
Sedang kamu sudah menjadi bayang.

Dalam sekali kepergian untuk tidak akan pernah kembali.

Dalam setiap langkahku,
Dengan segala gambar dan cerita tersisa tentangmu,
Aku kadang merasa rindu.

Melintasi jalan panjang yang sunyi,
Menelusuri keramaian yang sepi.

Tapi hidup berbeda dengan mati.
Dimana yang masih bisa bernafas harus tetap bernafas,
Sampai ketika nafas itu menjadi hembusan terakhir.

Melintasi jalan panjang yang sunyi,
Aku kadang merasa rindu kepadamu.

__________
Selatan Jakarta, 15 November 2017

Belong to my parent; may you all rest in peace there

Please come back home

Udah 2 tahun lebih gue di Jakarta, meski 60-70 persen kehidupan gue selama ini cuma di Selatan Jakarta, itupun disekitaran Kalibata. Entah kebetulan yang direncanakan atau kepastian yang kebetulan, gue hidup di satu bagian Jakarta yang persis seperti yang pernah dinyanyikan Ari Lasso lebih dari 20 tahun lalu waktu masih bersama DEWA 19.

Do I miss my home? Sebuah pertanyaan yang pernah sangat sulit gue jawab. Tapi toh pada akhirnya setiap orang juga bakal pulang… Paling ngga, kita akan pulang kerumah dimana Dia yang Maha Segala menciptakan kita memanggil setiap ciptaan-Nya untuk pulang. Dengan segala macam cara.

Menjelang akhir tahun ini, cuaca di Selatan Jakarta tepat seperti lagunya Slank; tidak menentu. Lagu lama di album transisi mereka pasca bubar dikisaran tahun yang sama dengan rilisnya album DEWA 19 yang berisi lagu Selatan Jakarta.

Mungkin gue memang lagi sedih… Mungkin. Menebak-nebak cuaca Jakarta, menebak-nebak gimana bakal berakhirnya hidup gue. Will it be just like the game I always play? Time’s running, tires scretching, car crashing, then all what I know it’s all over with I’m on the first place or to be nothing beaten up by others.

Please come back home, penggalan kalimat dari single-nya Fort Minor, yang bisa dibilang alter ego dari Mike Shinoda; Where’d You Go. Yes! Karena gue akhirnya bertanya kemana sebenarnya gue pergi, dan apa yang gue cari. Tapi menemukan jawaban untuk pertanyaan sederhana itu ngga sesederhana pertanyaannya. Just look at the resto; Rumah Makan Sederhana, cuma namanya yang sederhana.

So, when I’ll be home? I’m already home.

Salah satu seri lepas dari animasi Upin & Ipin punya judul Kenangan Mengusik Jiwa, dimulai dengan scene hitam putih yang menggambarkan sebuah kenangan. Kenangan itu memang mengusik jiwa. Kenangan akan rumah, kenangan akan mereka yang pernah ada. Kenangan terhadap sesuatu yang ngga sempat terjadi. Semua-mua yang membirukan perasaan.

I’m already home.
But I just can sing “Where’d you go? I miss you so. Seems like it’s been forever that you’ve been gone. Please come back home”.

__________
Selatan Jakarta, 31 Oktober 2017