Dear, Mju… (Uncountable Sequel)

Awal minggu ini, kedua di November 2013, rasanya semua serba salah. Menggigil kedinginan tanpa sebab, lebih suka ‘nongkrong’ berpetualang bersama beberapa teman, membunuh mati aplikasi BlackBerry Messenger di ponsel saya… Disaat orang lain beramai-ramai men’download’ dan meng’instal’ aplikasi ini pada perangkat Android dan iPhone mereka, saya cuma mampu bertahan 10 hari kemudian bosan.

Dear, Mju… Apakah kamu menggunakan BlackBerry? Mungkin kalau kita bertemu, dan ternyata kamu memang menggunakannya, itu akan jadi satu-satunya alasan aku harus tetap menggunakan BlackBerry Messenger di ponselku. But why… It’s been so long we never meet. I don’t even hear about you, we don’t even looking for each other. Lupakan soal gadget yang kita gunakan…

Beberapa hari terakhir, setidaknya sejak kemarin lusa (6/11), saya jadi suka menghapus posting-posting yang saya buat di Facebook. Hide from timeline, set to ‘only me’ as the audience, dan berujung pada pemusnahan konten… Is it important? No. Apa pentingnya? Apa yang penting di Facebook? Teman-teman dan hubungan sosial yang absurd? Promosi produk dan narsisme individual.

Tapi bukankah dulu kita juga bertemu di Facebook? 18 Agustus 2009, malam. Kamu datang seperti biasa, mengharu birukan semua perasaan. Seperti sebuah keajaiban yang menghilangkan semua lelah dan kantuk setelah belasan jam tanpa tidur. You’re my angel, or you were my angel. Angel of the darkness. Malaikat penyelamat yang bisa tiba-tiba datang dan menghilang begitu cepat.

You were be my saviour who lift me up out of my addiction. Kalau bukan kamu, siapa? Cuma kamu yang bisa… And I miss that time. Tapi itu dulu, dear Mju… Waktu yang sudah sangat lama berlalu. When we were so young.

Hari ini (8/11) saya cuma berusaha mengalihkan perhatian dengan mempercepat ritme kerja. I’d like to work fast and must be correct. Do it right, itu doktrin yang tertanam dalam pikiran saya sebagai manusia bertipikal C (dari DISC). Why I so proud of that typical? Saya dilahirkan untuk tidak boleh melakukan kesalahan. Dan ketika kesalahan itu terjadi, saya merasa harus memperbaiki dan tidak boleh mengulangi lagi.

Lupakan… Itu doktrin pribadi, yang semua orang juga pasti memiliki. Hanya berbeda konsep, beda pandangan dan persepsi pemahaman saja. But, you’re the right thing and also the wrong thing.

Apa kabar, Mju…
Disela-sela ritme kerja yang cepat itu aku memikirkanmu. Membaca sebagian tulisanku, yang semua tentang kamu, cerita bagaimana semua itu bisa sangat mengendap dan meracuniku. You are the poison… Poisoned thing inside my mind, and I like it. Maybe I’m addicted to you… You obsessed me… Don’t you know? No. You know not.

Melakukan sensor besar-besaran untuk konten blog, yang sebagian bercerita tentang kamu. Kenapa harus kamu… Seolah-olah cuma kamu yang sempurna. Yes, you’re perfect with all your wrinkle. Do I ever love you? I’m not so sure. Aku cuma merasa kamu pernah menjadi sesuatu yang sangat berharga, mempositifkan yang negatif, menerangkan yang gelap. But it was.

Mungkin kita memang tidak perlu bertemu lagi. Aku juga sudah tidak pernah menyanyikan lagu-lagu cinta melankolis yang dulu pernah kita nyanyikan sendiri-sendiri. Bukan aku tidak suka mendengarnya… Tanpa semua lagu itu pun kamu sudah merasuk terlalu dalam dan lama. Aku tetap suka lagu yang pernah kamu nyanyikan. Aku cuma tidak suka menyimpannya. All those pretty sounds just remaind me about you.

Dear, Mju…
Bagaimana sekarang? Apa kamu masih sendiri? Masih bertahan dengan keputusanmu untuk menjadi seorang ‘single parent’, seperti pernah kamu ceritakan 3 tahun yang lalu? Itu pilihanmu, lakukan saja. Tapi semoga kamu sudah tidak sendiri saat ini. All what you do is all good.

Kita bisa membuang sebagian masa lalu kita, tapi tidak akan pernah bisa melupakan. I made you as my best part inside my memory. That’s all what I want you to know to.

_____
8 November 2013

Posted from WordPress for Android
via Xperia™ smartphone from Sony®
powered by sinyal kuat Indosat®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s