Disini Bukan Disana

Judul ini lumayan sering saya pakai untuk judul tulisan di blog lama saya, di My Opera, sebuah blog gratisan yang akan tutup medio Maret 2014 nanti. Satu kalimat singkat yang saya ambil dari lirik lagu band indie The Morning After, Dengar dan Diam.

So this is my story, my diary, my personal sense.


Saya memang tidak bisa mengingkari kalau disini memang bukan disana. Ini bukan Surabaya, dimana saya sendirian dan benar-benar sendiri, dan wajar saja kalau merasa sendiri dan tiba-tiba sepi. That’s the fact I always face during 9 years plus 7 months, as the loneliner which must to walk alone.

Tapi faktanya; saya tidak pernah benar-benar merasa sendirian selama di kota itu. Justru saya jauh lebih menikmati hidup saya disana, dengan lebih banyak teman dan kehidupan yang lebih berwarna, dengan segala hal yang saya suka dan bebas untuk dilakukan. Jalan-jalan sendiri, tidak menunggu dan tidak ditunggu, tidak mencari dan tidak perlu dicari. My journey…

Beberapa hari terakhir rasanya memang berbeda, dan saya tidak tahu kenapa. Now I’m home, in my hometown. Tapi apakah hanya karena kita lahir di suatu tempat tertentu, lantas kita harus menyebutnya sebagai ‘rumah’? Salah satu teman dekat saya lahir di Singapore, tapi tetap saja kewarganegaraannya Indonesia, dan dia tidak pernah ‘pulang kampung’ ke Singapore.

Should I call this my hometown if I feel nomore comfortness here? No comfort in mind, no comfort in soul. Like I’m a stranger who lost in his own home.

Tahun lalu, dengan kegembiraan luar biasa, saya langsung menerima tawaran dari seorang teman yang lain untuk ‘pulang’ ke Surabaya. Bekerja dan tinggal ditempat yang rasa nyamannya mengalahkan tinggal dan bekerja dirumah sendiri. Itu bukan tawaran pertama. I almost never looking for job(s), I mostly recruited. Tawaran yang sama datang di awal 2012, tapi saya tolak karena saya tidak bisa meninggalkan rumah dan keluarga yang sedang dirudung masalah.

Beberapa teman lain, para pekerja foto dan seni, juga sering bertanya kapan saya ‘kembali pulang’. So I ask myself, where’s my hometown…

Disini memang bukan disana.
Dan saya tidak akan membohongi diri saya kalau saya lebih suka disana. Sebuah tempat dimana saya bebas berekspresi dan berkreasi, survival of the fittest. Kalau ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu pasti. Mungkin karena disana saya merasa jadi lebih berarti, dengan orang-orang dan lingkungan yang juga memberi arti. I get my need there.

Missing… And I’m so sorry to say that. I take a long way home, but it seems I can’t find my real home.

Posted from WordPress for Android
via Xperia™ smartphone from Sony®
powered by sinyal kuat Indosat®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s