Beberapa Pertanyaan Tolol Seputar Upin & Ipin (Session 1)

image

Prolog: Tulisan ini sudah saya posting beberapa minggu lalu di blog keroyokan Kompasiana, kemudian di blog komunitas gratisan My Opera, yang sedang sekarat menanti ajal di medio Maret 2014 nanti. Kadang kita memang tidak perlu menanyakan hal-hal serius… Selamat datang di dunia (saya) yang absurd.

Beberapa pertanyaan tolol seputar film animasi anak, Upin & Ipin, produksi Les Copaque. Dengan revisi.

Awalnya, saya hampir tidak pernah suka dengan film animasi Upin & Ipin, yang dulu tayang di MNC TV alias TPI setiap petang lepas Maghrib. Sepele… Bukan karena itu produk Malaysia. Toh di kota saya, produk-produk Malaysia bisa dengan mudah ditemukan karena jaraknya yang ‘tidak terlalu jauh’. Cuma karena banyak anak tetangga yang menonton dirumah saya, dan jadi ramai. Itu saja.

Tapi toh akhirnya saya suka juga, meski tidak sampai merasa perlu ‘like’ fanpage mereka di Facebook atau ‘follow’ mereka di Twitter. Cukup ‘subscribe’ channel mereka saja di YouTube, karena disitulah saya menontonnya, bukan di televisi.

Tapi, setelah beberapa lama menonton film animasi yang sejatinya ditujukan untuk anak-anak (dengan label ‘semua umur’), saya jadi sering bertanya mengenai beberapa ‘kejanggalan’ yang saya temui setiap kali menonton Upin & Ipin dari session 1 sampai session 7, dimana Cikgu Jasmine sudah digantikan oleh Cikgu Melati yang lebih muda dan energik di session 6.

Mungkin memang tidak penting… Tapi tetap saja saya bertanya-tanya…

Apakah Cikgu Jasmine pergi melanjutkan sekolah di Kuala Lumpur atas biaya sendiri, atau karena beasiswa… Dan apakah nantinya dia akan kembali untuk menggantikan Cikgu Besar yang memang besar? Kalau itu memang beasiswa, kenapa Abang Tiger, Cikgu kelas sebelah, tidak mendapatkannya? Apa karena Cikgu Tiger terlalu lebay?

Dari 12 murid di kelas Aman, Tadika Mesra, hanya ada 1 murid yang tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan Upin & Ipin diluar jam sekolah, seperti saat bermain di tanah lapang. Dari episode ‘Terima Kasih Cikgu!’, anak tersebut diketahui bernama Nurul, yang duduk satu meja dengan Ijat, Dzul dan Devi. Kenapa Nurul tidak pernah ikut bermain? Bahkan suaranya pun tidak pernah terdengar.

Setelah benar-benar memperhatikan, saya baru sadar kalau rumah Atok, Tok Dalang, ternyata ada disebelah kiri rumah Upin & Ipin, yang terlihat jelas dari jendela kamar mereka, dan itu berarti ada disisi timur, karena matahari terbit sering terlihat dari sisi ini, kadang bersama Rambo, ayam jantan Atok, yang sering gagal membangunkan Upin & Ipin. Lalu pertanyaannya, dimana letak rumah Ehsan dan Fizi kalau dari arah rumah Upin & Ipin?

Tidak jauh dari rumah Upin & Ipin, sebelum rumah Atok, ada sebuah toko, Kedai Runcit ‘FB Enterprise’. Nah, apa maksud dari ‘FB Enterprise’, dan kenapa dinamakan Kedai Runcit? Juga, kenapa Abang pemilik (atau penjaga) kedai ini selalu memakai kacamata hitam dan kemeja motif bunga-bunga, dengan dandanan klimis berjambul?

Dari semua teman-teman Upin & Ipin, juga mereka berdua, yang sering bermain di tanah lapang, kenapa hanya Fizi yang sering menggunakan pakaian/kaos berbeda? Kadang warna ungu, kadang warna biru dan gambarnya pasti tidak sama. Kadang gambar roket, gambar kepala buaya, gambar sepasang anak kecil, atau gambar lebah di kaos ungunya.

Sedangkan yang lain, termasuk Ehsan sepupunya yang anak orang kaya, selalu memakai pakaian yang itu-itu saja… Ehsan dengan kaos kuning motif segitiga putih tumpuk 2 yang mirip jajaran kotak asimetris, Mail kaos hijau dengan gambar bintang kuning, mengingatkan dengan logo merek Converse.

Lalu, hanya Ehsan dan Fizi yang setiap kali bermain menggunakan celana panjang, meski cuma memakai slipper (sandal), sedangkan Jarjit dan Meimei menggunakan kasut (sepatu).

Dan kenapa Upin yang suka warna kuning, tidak memakai slipper warna kuning, melainkan warna hijau? Apakah di Kedai Runcit memang tidak menjual slipper anak-anak warna kuning? Mungkin Kak Ros dan Opah bisa mencarinya di kedai lain… Atau kenapa tidak beli di Mail? Bukankah di Mail harga sepasang slipper hanya 1 ringgit?

Kalau Mail selalu menjual dagangannya seharga 2 seringgit, apakah dia menerapkan subsidi silang untuk barang dagangannya? Misal, harga 2 gundi (kelereng) adalah 2 buah seringgit. Mahal. Sedangkan harga ayam gorengnya 2 ketul (potong) seringgit. Murah. Tapi memang tidak selalu 2 seringgit… Mail jual lemang buluh (bambu) saat hari raya seharga 5 ringgit sebatang, karena kongsi dengan bapaknya, dan jual rambutan 3 ringgit seikat karena kongsi dengan Atok dan teman-temannya.

Dilihat dari penampilannya, Atok memang sudah tua dan sering terlihat hanya dirumah. Sebenarnya, apa pekerjaan Atok? Kalau dia memang kepala Kampung Durian Runtuh, kenapa Atok tidak pernah terlihat pergi ke kantor kelurahan atau kecamatan? Berapa sebenarnya jumlah penduduk kampung Durian Runtuh? Dan ada berapa banyak kebun Atok?

Dan Opah, apa dulu pekerjaannya atau pekerjaan mendiang suaminya? Selain berkebun disamping rumah dan menyadap getah karet di hutan, apa lagi kegiatan Opah? Dan kenapa tidak ada foto mendiang suaminya dirumah Upin & Ipin? Foto kedua orang tua Upin & Ipin dan Kak Ros baru muncul di episode ‘Hari Misteri’, saat hari ulang tahun Upin & Ipin, itupun tanpa memperlihatkan wajah mereka.

Berapa sebenarnya usia Kak Ros, dan dimana dia bersekolah? Karena, kadang sering terlihat Kak Ros pergi berangkat sekolah bersama Upin & Ipin. Apakah sekolah mereka satu komplek? Dimana pastinya letak komplek sekolah mereka, kalau di episode ‘Sedia Menyelamat’, asap simulasi kebakaran di Tadika Mesra ada disisi kiri atau timur rumah Upin & Ipin.

Bangunan apa sebenarnya yang ada didepan Tadika Mesra, tepat diseberang jalan, yang terlihat menyerupai tandon air besar? Dan ada berapa kelas sebenarnya di Tadika Mesra? Karena di episode ‘Taman Kami’, hanya terlihat ada 4 kelompok kelas, dengan Cikgu Melati dan Abang Tiger, dengan 2 Cikgu yang tidak diketahui identitasnya, dan Cikgu Besar yang memang berbadan besar.

Update: setelah diamati, bangunan itu ternyata bukan tandon air, melainkan bangunan yang mirip arena olahraga, atau tepatnya stadium.

Siapakah sebenarnya Abang Salleh? Apakah dia benar-benar seorang lelaki, atau memang bences (bencong)? Lalu, kalau dia bences, kenapa masih dipanggil Salleh, bukannya Sally? Dan kenapa Abang Salleh tidak mempekerjakan orang untuk membantu usahanya di ‘Jari Jemari Salleh’? Dan jenis mobil Proton apakah yang sering terlihat parkir dirumahnya?

Ustad, atau Guru mengaji Upin & Ipin, Abang Hamzah, ternyata juga penggemar dan kolektor robot Metrobot. Dia juga suka dengan Ice Cream Metropop. Berapa sebenarnya harga Ice Cream Metropop? Karena di Kedai Runcit, saat pertemuan pertama Upin & Ipin dengan Abang Hamzah, dia membayar 3 ringgit. Sedangkan di Abang penjual ice cream yang menggunakan sepeda motor, harganya 1,5 ringgit. Dan seperti apakah rasa Ice Cream Metropop? Nanas blueberry, atau pisang melon?

Abang Hamzah terlihat menggunakan sepeda motor jenis Vespa, warna merah maroon. Keluaran tahun berapakah Vespa tersebut? Dan apakah Vespa tersebut menggunakan bensin campur atau dengan oli samping terpisah?

Waktu pertama kali tokoh Susanti muncul di episode 3, Ismail bin Mail alias Mail sangat antusias melayani Susanti saat membeli ayam, meski akhirnya dia harus kecewa karena Susanti membayar dengan uang Indonesia sebesar 10 ribu rupiah, dan Ibunya menggratiskan ayam tersebut. Tapi keesokannya saat di sekolah, Mail begitu bersemangat melihat Susanti. Apakah Mail menyukai Susanti?

Ayam jenis apa sajakah yang dijual Mail bersama Ibunya? Karena Ipin sering bilang ‘Ayam goreng Mail’, tapi di beberapa episode, ternyata Mail juga jual ayam bakar dan ayam bumbu kuah. Kenapa Mail tidak jual bebek goreng, sebelum ada kompetitor yang letak gerainya bersebelahan dengan gerai Mail? Apa karena jual itik lebih penat, atau kurang menguntungkan kalau hanya dijual 2 ketul seringgit?

Susanti merupakan tokoh anak-anak yang diceritakan berasal dari Indonesia, tepatnya dari Jakarta. Lalu, apakah Susanti dan orang tuanya setiap kali pergi pulang dari Jakarta ke Kuala Lumpur menggunakan Air Asia atau Garuda Indonesia?

Setidaknya, ini beberapa pertanyaan yang sering mengganggu saya setiap kali menonton episode-episode Upin & Ipin. Dan 1 lagi, kenapa hanya suasana bulan puasa dan lebaran Idul Fitri saja yang sering dijadikan tema… Kenapa suasana lebaran Idul Adha tidak atau belum pernah dijadikan tema dalam seial Upin & Ipin? Bukankah mereka bukan vegetarian?

Tambahan lagi… Selain ABCD, air batu campur durian, menu apa lagi yang menjadi menu favorit di kedai Uncle Mutu? Dan kenapa Rajoo sering tidak terlihat di beberapa episode terakhir Upin & Ipin? Apakah Uncle Mutu mengirimnya sekolah ke Kuala Lumpur atau bahkan ke Delhi? Dan apakah Uncle Ah Tong punya hubungan keluarga dengan Meimei?

Dan, rumah siapakah sebenarnya yang ada didekat tanah lapang tempat Upin & Ipin bermain bersama teman-temannya, yang sering terlihat ada mobil berwarna biru muda terparkir disana? Jelas bukan rumah Ehsan maupun rumah Meimei… Rumah Ehsan besar dan ada lapangannya, rumah Meimei berwarna merah dengan Cun Lien tergantung di langit-langit terasnya.

Semoga tidak bikin bingung. Malu bertanya, sesat di jalan. Kebanyakan bertanya, bisa bingung di jalan… Dua tiga pergi ke Genting, pergi ke kedai untuk makan, semua ini tiada penting, tak usah usah sangat dipikirkan.

_____
Balikpapan, revisi 12 November 2013.

Posted from WordPress for Android
via Xperia™ smartphone from Sony®
powered by sinyal kuat Indosat®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s