Ode Buat Ekstrimist

Prolog: Stok tulisan lama, yang lagi-lagi (dulu) saya buat dan posting di Facebook (removed). Bukan paper jaman kuliah… Bukan hasil kuisoner buat debat terbuka di kelas Ilmu Politik atau Sosiologi Budaya. Cuma opini pribadi saja… A different point of view, my personal sense.

(ODE BUAT EXTREEMIST rvtd)

Dalam album solo pertamanya (Ideologi Sikap Otak, Aquarius 1998), Ahmad Dhani banyak menulis lirik yang berbau politis tentang kehidupan masyarakat Indonesia saat itu. Wajar saja… Saat itu sedang terjadi pergerakan dan perubahan besar di negara Indonesia ini.

Saya selalu ingat dengan lagu terakhir dalam album itu yang berjudul ‘ODE Buat Ekstimist‘, yang menggambarkan kefanatikan sekelompok orang terhadap sesuatu. Cukup tepat dengan momen saat itu ketika mahasiswa turun ke jalan mencoba merubah dan meruntuhkan rezim Orde Baru, menuntut Sidang Istimewa. Lalu muncul kebijakan yang mengizinkan banyak organisasi dan partai politik.

Benny & Mice juga membahas itu dalam buku mereka, seri ‘Lagak Jakarta‘ secara khusus di ‘Huru Hara (Hura-Hura) Pemilu (KPG, 2007). Betapa kadang kita tidak lagi rasional dalam membela sesuatu yang lebih sering mengecewakan kita, loyalitas yang ternyata tidak sebanding dengan apa yang kita korbankan.

Saya memang ‘tidak bisa memilih’ (waktu tulisan ini saya buat) dengan berbagai macam alasan administratif, tapi toh saya tetap tertarik untuk melihat perkembangan ‘pembodohan’ publik ini.

Tidak bodoh-bodoh amat sebenarnya…
Cuma kadang kita sering dibuat bingung dengan berbagai macam iklan dan kampanye politik, yang mau tidak mau kita lihat dan dengar setiap hari dalam beberapa bulan yang lalu (juga menjelang Pemilu 2014 nanti). Slogan-slogan dan ‘platform’ yang kalau dipikir-pikir hampir sama satu dengan lainnya.

Yang beda cuma warna background (sesuai dengan warna dominan partai), gambar/foto caleg-nya, daerah pemilihan dan nomornya, serta bahasanya. Paling tidak, itu yang saya lihat, karena saya sendiri jarang sekali baca koran dan melihat berita di televisi.

Banyaknya partai dalam sebuah pemilihan umum memang fenomena yang wajar di negara Indonesia. Negara yang menganut demokrasi ‘ala-kadarnya‘. Demokrasi yang cuma ada di Indonesia… sesuatu yang sangat aneh bagi saya, melihat statistik mayoritas penduduk Indonesia ‘beragama’ Islam, tapi partai Islam tidak atau belum pernah menang, justru partai Komunis pernah menang di era Orde Lama.

Pendidikan formal kita boleh saja tinggi… Sekolah boleh saja keluar negeri. Teknologi tinggi yang akhir-akhir ini cukup sering kita banggakan, tidak menjadi jaminan bahwa kita cukup dewasa dalam bersikap. Kadang kita ‘hedon’ tanpa tersadari, cuma korban mode dan biar tidak dibilang ketinggalan jaman. Biar keren…

Mayoritas masyarakat Indonesia sepertinya memang suka memamerkan kebodohan dan kenaifannya sendiri (termasuk saya). Sama halnya dalam Pemilihan Umum itu sendiri. Dari dulu seperti itu…

Slogan-slogan dan jargon-jargon politik yang itu-itu saja, begitu-begitu saja, seperti tidak punya ide, kurang kreatif atau terlalu ‘kebelet’ untuk melesat masuk ke Senayan. Padahal, kata Slank, di Senayan banyak ‘tikus’… Dan itu ‘sarang preman’. Tapi toh kita tidak peduli (atau tidak mau belajar peduli?). Kita terlalu suka untuk menjadi sama dan tidak berani jalan sendiri cuma karena takut dianggap beda.

Politik, seperti filsafat, memang rumit dan tidak bisa dimengerti begitu saja. Dimulai dengan kebingungan, dan diakhiri dengan kebingungan. Mereka tidak punya rumus dan hitungan pasti. Ilmu sosial memang begitu… Selalu mengandung unsur subjektivitas di setiap keobjektivannya. Tapi kita sudah terlalu terlanjur mengidolakan eksakta yang sudah pasti. Seperti iklan Kumon di pinggir jalan dengan jargonnya ‘Matematika + Ingris = Sukses’.

Samuel Mulia, seorang penulis mode dan gaya hidup di rubrik ‘Parodi’ Kompas Minggu, pernah mengulas iklan ‘Kumon’ itu dengan gayanya yang santai cenderung kocak, tapi kritis dan logis. Setali tiga uang seperti Benny & Mice dengan kartun-kartun mereka yang tampi tolol dan satir, tapi sarat dengan pendidikan sosial yang tidak akan kita dapat di institusi pendidikan manapun.

Pemilu memang sarana termurah untuk pendidikan dan sekaligus hiburan politik bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak… Kita tidak perlu lagi repot-repot ikut penataran P4 (yang kepanjangannya saya sampai tidak ingat) seperti waktu sekolah dulu, SMP, SMU, kuliah. Bahkan jadi mata kuliah wajib di kampus.

Kampanye politik menjadi sarana hiburan gratis bagi banyak masyarakat Indonesia, potret kenyataan bahwa sesuatu yang gratis dan ‘berhadiah’ memang masih sangat diminati, tanpa peduli siapa yang nanti di pilih. Asalkan banyak yang datang, cukuplah… Ada kemacetan, arak-arakan, pawai idiot dengan baju warna-warni… Orasi, orkes dangdut dan grup musik atau penyanyi papan atas, cuap-cuap umbar janji. Bodo amat dianggap atau tidak.

Lucu dan kasihan sekali kalau dipikir benar-benar. Sebegitu banyak dana kampanye cuma untuk menyampaikan sesuatu yang sudah terlalu sering disampaikan sebelum-sebelumnya. Ibarat kacang goreng, cuma beda atau ganti kemasan, esensinya sama saja… Kacang, camilan yang digemari sambil lalu.

Tapi saya juga salut dengan beberapa partai politik yang terbilang baru, yang entah memang sudah ‘terlatih’ atau memang benar-benar punya visi dan misi yang tidak sekedar mengekor, yang memang melihat kenyataan bahwa masyarakat Indonesia memang prulal dan majemuk dari berbagai macam sisi kehidupan.

Usia negara Indonesia memang masih terlalu muda untuk pembelajaran politik yang sehat, dan demokrasi itu tidak murah. Saya masih merinding kalau membayangkan suasana Tragedi Trisakti Mei 1998, yang saya lihat dari film ‘indie’-nya. Betapa kita masih sangat-sangat naif dalam menentukan sikap dan pilihan. Malah, yang lebih ‘sakit’ lagi, ada beberapa tradisi ‘mengekor’ apa kata pimpinan. Sakit banget ga sih?! Punya otak tapi tidak bisa berpikir sendiri, punya perasaan tapi tidak berani ambil sikap sendiri. Kasihan sekali…

Kalau memang mengerti dan merasa yakin, silakan. Dan harusnya merasa beruntung karena punya kesempatan. Tapi jangan jadi ‘bebek’ yang cuma bisa ikut-ikutan. Pikir dan gunakan dengan bijak.

_____
Pondok Chandra Indah,
6 April 2009, malam,
Waru, Sidoarjo.
(under noE/oriGnLnoE ego)

Revisi 15-16 November 2013, Balikpapan.
Revisi 20 Nobember 2013, Balikpapan.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s