Jayusisme

Pada jaman dahulu kala, di sebuah stasiun radio anak muda di eranya, di sebuah kota… Sebut saja Kota Pahlawan (nama asli kota dirahasiakan), disebuah jalan yang lagi-lagi namanya disamarkan (sebut saja dekat Sinar Bintoro arah ke Diponegoro), ada sepasang penyiar radio. Iyalah, cong! Lek nde stasiun kereta jenenge calo…

Sepasang penyiar, yang pernah dan mungkin masih memberi saya inspirasi, meski sudah lama sekali tidak mendengar suara mereka. Sepasang manusia yang ‘mirip homo’ tapi bukan homo, pencetus Teori Jayus yang jadi awal aliran Jayusisme di kalangan remaja saat itu, atau siapa saja yang merasa masih muda saat itu. Dua orang penyiar yang justru sering mengacaukan siarannya sendiri…

Anehnya, mereka selalu dinanti. Dipuja, dicaci juga dimaki, tapi tetap bahagia… Siapa sangka kalau sepasang penyiar itu, yang sering disebut DJ, ternyata memang DJ asli. Disc Jockey. Aslinya memang bukan penyiar… Tapi justru disitu hebatnya. Spontan, asal, ngaco, gokil. Sering meleset dari aturan baku siaran radio. Tapi fakta bicara lain… Justru gaya siaran mereka selalu dinanti.

Sepasang penyiar yang bisa tiba-tiba merubah program musik Top 40 menjadi sandiwara radio versi parodi, atau menjadi ajang konsultasi yang melayani segala jenis pertanyaan dengan berbagai jawaban yang tidak berhubungan. Kalau ada nobel untuk manusia paling jayus, mungkin mereka kandidat paling tepat. Atau kalau ada gelar pahlawan jayus, mereka pantas dinominasikan.

Siapa mereka?
Kan tadi saya sudah bilang… Mereka sepasang penyiar yang ‘mirip homo’ meski bukan homo. Penyiar yang justru sering mengacaukan program siaran mereka sendiri, tapi justru karena itu mereka sangat dinanti. Percaya atau tidak, ketika mereka dipisah, atau dipasangkan dengan penyiar lain, kekonyolannya akan berkurang…

Saya tidak pernah benar-benar tahu nama asli mereka, kecuali mereka selalu memperkenalkan diri sebagai Koko Yo (Yohanes Albertus) dan Sinyo Mickey (baca: Miki) dalam kondisi normal, atau Yohana dan Mince ketika siaran radio yang mereka bawakan menjadi acara parodi. Justru mereka hebat karena bisa melakukan itu… Dan sempat menjadi ikon stasiun radio mereka, meski penyiar-penyiar disana kebanyakan kurang lebih sama.

Dengan Koko Yo, saya pernah bertemu. Dia pernah menjadi MC untuk acara amal di kampus saya, dan kebetulan saya yang dapat jatah melobi… Disebuah warung mie ayam didekat stasiun radionya, yang jadi terkenal karena sering disebut saat mereka siaran. Jauh berbeda dengan bayangan umum seorang penyiar yang cuma bagus didengar tapi penampilan diluar suara cenderung biasa. Tapi maaf… Saya bukan homo. Harap diingat dan dicamkan baik-baik.

Setelah keluar dari stasiun radio itu pun, sepasang penyiar ini tetap bersama saat siaran di stasiun radio lain. Dengan gaya khas mereka yang gokil dan ‘out of mainstream’. Jadi bukan masalah apa stasiun radionya… Mereka seolah menciptakan tren kalau penyiar radio punya ‘power’ untuk membawa penggemarnya kemanapun.

So, apakah Jayusisme itu?
Sebenarnya saya juga tidak tahu apa artinya, bwhahahahaha… Tapi istilah ini memang pernah mereka gunakan waktu masih jadi penyiar di stasiun radio pertama mereka. Dan jujur saja, kekonyolan mereka memang menginspirasi. Salah satu alasan kenapa akhirnya saya memilih Radio Broadcasting… Meski akhirnya gagal. Hufff…

Obladi oblada, life goes on!

(22 November 2013, malam)

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s