Unity In Diversity

Setiap orang pasti punya selera yang beda, ngga mungkin sama. Kalaupun sama, ga bakal sama persis seratus persen. Soal gadget aja, ada yang suka ini dan ada yang suka itu. Alasannya macam-macam… Mulai dari yang vulgar banget karena harga murah, sampai yang kurang ajar banget cuma buat koleksi.

Beberapa minggu yang lalu, setelah sebulan tertunda, akhirnya BlackBerry Messenger hadir juga di Android. And this is my personal sense.


Apa bagusnya BlackBerry Messenger (BBM) di Android… Paling ngga, itu pertanyaan saya waktu BBM akhirnya dilepas ke Android dan iPhone. Ke iPhone? Gadget mahal dengan aplikasi-aplikasi ‘istimewa’… Mengingat aplikasi bagus yang akhirnya ada di Android, merupakan aplikasi yang lebih dulu hadir dan dibuat khusus untuk iPhone. Sebut saja Instagram, salah satu yang paling popouler.

BBM juga populer, terlebih di Asia Pasifik, kecuali Jepang dan Korea (menurut cerita seorang teman yang pernah lost in Seoul untuk bertemu seorang teman lama yang asli made in Korea), serta beberapa negara di Afrika. Apalagi di Indonesia… Jaman BBM masih eksklusif di BlackBerry (BB), ngga punya BB itu rasanya seperti anak kecil dari pelosok pedalaman yang ga ada di peta, terjebak ditengah kemajuan kota metropolis yang modern dan canggih, lengkap dengan ABG berpakaian plus dandanan trendi. Rasanya minder banget…

Analoginya terbalik?
Whatever… Tapi faktanya; BlackBerry memang pernah sangat merajai dunia per-hape-an tanah air kita ini. Jadi, saudara-saudara sebangsa tanah dan sebangsa air, mau kita benci sampai setengah mati dan menolak mati-matian, BlackBerry pernah (atau mungkin masih) jadi bagian sejarah gaul  di negara kita.

Benci-benci… Tapi rindu, sayang…
Kira-kira begitu ungkapan untuk menggamparkan menggambarkan bagaimana euforia saat BBM resmi hadir di Google Play Store dan Apple App Store. Yang dulu dicaci maki, tapi dinanti. Jumlah download BBM di rilis lintas platform perdananya memang fantastis. Dan saya termasuk salah satu orang yang ikut meramaikan suasana download mendownload aplikasi itu.

BBM is on it’s way! BBM4ALL.
Gratis, tis. Tanpa syarat yang memberatkan. Gimana ngga berat, BBM cuma minta persyaratan mimimum Android versi 4.0 ICS dan iOS 6 untuk iPhone.

Semudah itu? Apa benar semudah beli barang dengan cara kredit tanpa uang muka dan tanpa diminta menunjukkan kartu identitas? Ngga. Prakteknya ngga semudah yang dibayangkan banyak orang, termasuk manusia bodoh seperti saya… Modal PeDe karena merasa diatas angin dengan seperangkat Android JB dibayar tunai.

Jangankan download apalagi sampai instalasi… Melihat tombol ‘instal’ pun aku tak bisa. Jadinya seperti anak kucing yang cuma bisa mengeong karena kehilangan induknya. Padahal email resmi dari pihak BlackBerry sudah dalam genggaman, seperti paspor buat lolos dari gerbang imigrasi di bandara. Ga pake repot karena tinggal klik link yang diattch didalam email. Tapi tetap aja ngga bisa. Maap, anda belum beruntung…

Dua hari kemudian baru saya bisa download. Download saja… Bonus bisa diinstal tapi ngga bisa konek. Usut punya usut, ternyata memang ngga semua perangkat dengan sistem operasi Android 4.0 ICS keatas bisa sukses menikmati BBM. Salah satu kendalanya, arsitektur. Apa itu? Saya bukan arsitek, jadi ngga tau… Bukan ga tau benernya… Cuma ngga ngerti aja.

Faktor lain, kualitas koneksi internet. Padahal udah 3G… Tapi memang, logo 3G di Indonesia masih sebatas asesoris tambahan buat wallpaper atau biar notification bar terlihat sedikit lebih keren, sedangkankan koneksinya bisa dibilang menjijikan… Seolah balapan dengan sekelompok siput yang kakinya terkilir di jalan menanjak curam.

Akhirnya mampir kerumah teman, numpang konek internet pakai WiFi gratisan dari sebuah toko komputer yang lokasinya tepat bersebelahan dengan rumahnya. Hasilnya? Sukses download, sukses instalasi. Rada lama… Mengingatkan pada masa-masa ketika cabut-pasang batere (hard reset) di BlackBerry… Waktu yang cukup buat masak air sampai mendidih untuk bikin segelas teh panas plus mie instant.

Tapi wajar kalau lama… Mengingat ada puluhan juta umat manusia di seluruh pelosok dunia, yang akhirnya menikmati kemerdekaan BlackBerry di negara bagian Google Android OS dan Apple iOS.

Seperti bocah baru masuk SD yang kegirangan karena dihadiahi seperangkat laptop, tanpa peduli apakah itu beli tunai atau kredit, kondisi baru atau bekas. Prinsipnya; yang penting punya dulu… Masalah berfungsi atau ngga, dipakai atau ngga, itu ngga penting. Sama seperti saya belain beli jas, cuma buat digantung dalam lemari.

Hal pertama yang saya lakukan seragam seperti yang dilakukan orang lain. Registrasi. Bedanya, saya menggunakan jalur cepat yang sudah disediakan BlackBerry, dengan mengggunakan BlackBerry Id lama saya. Konon, ketika kita memilih untuk menggunakan Id lama ini, perangkat BlackBerry yang menggunakan Id sama ngga akan berfungsi. Benar tidaknya saya tidak tahu… Karena saya sudah tidak memegang BlackBerry samasekali.

Awalnya seru juga waktu chatting dengan beberapa teman di BBM. Dengan kenorakan khas orang udik, saya kasih tahu ke mereka kalau saya sudah balik pakai BBM. Mereka menyambut dengan gembira, dan saya merasa bangga sekalipun lebih mirip disebut tolol. Poser; cuma mau pamer, istilahnya. Bagaimana ngga tolol kalau broadcast-nya justru melalui WhatsApp…

BlackBerry dengan BlackBerry Messenger memang sepasang kehidupan yang sangat menarik. Jauh lebih seru BBM-an di BlackBerry ketimbang di Android, itu kesimpulan awal saya setelah beberapa jam mencoba BBM di Android.

Sialnya, saya ngga pernah pakai BlackBerry dengan physical QWERTY keypad yang jadi ciri khasnya… Pengalaman pertama dan terakhir saya bersama BBM di BlackBerry justru terjadi di Monza, seri Torch yang miskin tombol fisik. Sedangkan dulu bersama Pearl, bukannya mencoba BBM tapi malah mencoba internetan tanpa ambil paket BlackBerry Internet Service atau BIS.

Cuma bertahan seminggu lebih, tepatnya 8 x 24 jam plus 17 jam, BBM for Android di satu-satunya hape yang saya punya, akhirnya saya pensiunkan dini tanpa tunjangan. Sebelum resmi menceraikan BBM di hape, saya masih sempat broadcast ke kontak BBM saya yang jumlahnya bisa dihitung jari, mengucapkan selamat tinggal dengan kata-kata perpisahan yang disusun sedemikian rupa biar ngga terkesan lebay apalagi @L4Y.

Beberapa teman membalas broadcast tersebut, mau ngga mau, lewat WhatsApp. Sifat pertanyaannya bhinneka tunggal ika, berbeda-beda pertanyaan tapi maksudnya sama. Kenapa? Dari sekian panjang jawaban dengan kombinasi bahasa campur aduk antara bahasa Indonesia formal dan non formal, Suroboyoan, sok belagak Jakarta sampai ‘kemeringgis’ (sok Inggris) yang sudah saya siapkan, toh akhirnya saya cuma balas dengan satu kata yang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia yang baik dan benar; ‘bosan‘.

Harap maklum… Saya bukan anak gaul maupun om senang, meski saya senang-senang saja untuk gaul. Dan alhamdulillah, teman-teman saya dengan ikhlas merelakan saya untuk kembali ke habitat asli saya, dengan sebuah hape yang lebih banyak berfungsi untuk menyimpan video hasil jarahan dari YouTube atau untuk dijejali musik hasil ripping dari CD album jaman dahulu kala, buat back up file online karena kapasitas memori terbatas, atau cuma buat ‘ngetik’ bikin tulisan ngga jelas (salah satunya seperti ini).

Lalu, dengan apa saya berkomunikasi dengan teman-teman yang berceceran dimana-mana? Saya di Balikpapan, teman saya ada yang di Surabaya, Semarang, Jakarta, Denpasar, Seoul dan juga ada yang mirip setrikaan karena mondar mandir keliling kota bahkan sampai ke pedalaman. Kami sepakat, fungsi dasar hape adalah telpon yang tanpa kabel, bisa dibawa dan dikantongin. Telpon dan SMS. Ngga memanfaatkan teknologi? Ya, sangat memanfaatkan, seperti sosmed, instant messenger, email dan cloud service untuk saling berbagi.

Tapi kembali lagi; setiap orang punya selera dan pilihan yang berbeda-beda. Kalaupun sama, ngga mungkin sama seratus persen. Apa cuma karena kita beda gadget, lalu itu jadi penghalang buat meneruskan suatu hubungan? Apakah cuma karena beda operator lantas kita ngga mau nelpon teman kita sendiri?

Apapun itu, pilihan dan keputusan ada di tangan kita. Saya ngga merasa aneh apalagi merasa bersalah ketika harus berkumpul dengan teman-teman yang menggunakan BlackBerry maupun iPhone, sekalipun hape saya cuma hape ‘mainan’ yang spek dan fiturnya pas-pasan. Dan ngga pernah ada yang nanya “PIN BB/BBM lu berapa?”, sekalipun BBM udah lintas platform.

Bhineka Tunggal Ika,
Berbeda-beda gadget tapi tetap teman juga. #UnityInDiversity

_____
Balikpapan, November 2013

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s