Ketika Rasa Bosan Itu Datang (Reprise)

Perasaan itu hal absurd yang sulit dimengerti. Perasaan apapun. Terhadap apapun. Apa kita perlu penjelasan? Tidak. Tidak semua hal perlu dijelaskan. Terlebih, ketika rasa bosan itu datang… Rasa bosan yang terakumulasi, seperti efek dari sebuah bola salju. Seolah semua sudah tidak lagi punya arti. Kalau hidup sudah tidak berarti, buat apa diteruskan? Tidak ada yang bisa menahan laju bola salju.

Hampir 2 tahun yang lalu, saya pernah membuat tulisan dengan judul yang sama untuk blog saya di My Opera. Rasa bosan terhadap Facebook, bosan terhadap kehidupan sosial secara online, bosan dengan gadget dan perkembangan teknologi, bosan dengan kehidupan virtual, interaksi dan emosi artifisial. Tulisan itu juga saya posting di Kompasiana. Dan kali ini, rasa bosan itu datang lagi, yang terakumulasi.

Ketika orang lain sibuk update status dan saling balas komentar di Facebook, saya malah meninggalkan Facebook. Tanpa alasan. Kalaupun harus ada alasan… Saya bosan. Melihat apa yang tidak ingin saya lihat, mengetahui apa yang tidak perlu saya ketahui. Tanpa Facebook pun, saya sudah tahu… Tidak semua orang suka melihat apa yang belum terjadi. That’s why sometime I hate my Tented Arch… Sesuatu yang tidak bisa dirubah, sebuah insting yang terlalu kuat. Tidak selalu menyenangkan.

Ketika orang sibuk berlomba-lomba mencoba hampir semua gadget, saya justru ingin meninggalkan semua. Semua yang mengalienasi kebebasan pribadi, kebebasan untuk menjadi apa dan siapa. Hidup tanpa gadget… Tapi faktanya, saya tidak bisa. Saya cuma bisa membatasi penggunaannya, sekedar untuk membuat tulisan atau lebih tepat disebut catatan harian. Komunikasi satu arah… Saya sedang ingin hidup sendiri.

Call barring; incoming and outgoing call management, call rejection atau apapun istilahnya… Ya, sekalipun saya bosan dengan kehidupan di era teknologi ini, tetap saja saya memanfaatkan fitur dari teknologi itu sendiri. Salah satu alasan kenapa saya tidak pernah ingin mengganti nomor seluler saya, atau bahkan memiliki lebih dari 1 nomor telpon seluler. Prinsipnya; ponsel boleh lebih dari 1, tapi saya tidak boleh punya nomor lain meski sebanyak apapun ponsel yang saya punya.

Setiap orang pasti punya dan akan punya aturan untuk dirinya sendiri, dalam hal apapun, dengan alasan dan kepentingan apapun. Itu aturan saya… Terlalu idealis bagi orang lain. Tapi setiap orang memang butuh idealisme, setidak penting apapun itu menurut pemikiran dan penilaian orang lain. Kita tidak perlu terlalu cerdas kalau hanya untuk menentukan sikap.

Ketika orang beramai-ramai membeli perangkat berbasis Android untuk bisa menikmati BBM4ALL, saya yang secara resmi terdaftar sebagai pemilik BlackBerry ID dan mendapat eksklusivitas BBM4ALL tanpa antri, justru meninggalkan itu semua. Mencoba BBM4ALL di Android hanya 8 hari, lalu rasa bosan itu datang terlalu cepat. BBM hanya benar-benar bagus di perangkat BlackBerry, meski memang cukup bagus di Android dan iPhone. Setidaknya, itu kesimpulan saya yang pernah harus hidup dengan perangkat BlackBerry.

Kalau hidup sudah tidak berarti, buat apa diteruskan… Mungkin ini cuma perasaan sesaat, sama seperti yang dulu-dulu. Atau, entah… Atau mungkin sebuah akumulasi setelah bertahun-tahun, membludak dan akhirnya tidak lagi tertahankan. Tanpa pengumuman, tanpa broadcast message, tanpa bicara apa-apa… Facebook saya non aktifkan entah sampai kapan. Bisa saja cuma sampai minggu depan, bulan depan, atau entah. WhatsApp saya hapus, juga tanpa pamit apalagi broadcast message.

Ternyata tidak cukup sampai disitu… Setelah sempat mengobrol dengan seorang teman di Semarang melalui SMS malam hari, paginya saya memutuskan untuk mengaktifkan call barring. Fitur eksklusif untuk pelanggan Indosat IM3, dimana kita bisa menolak semua panggilan telpon dan SMS masuk atau keluar tanpa mengganggu lalu lintas data atau internet. Tapi toh saya masih tidak puas… Akses internet akhirnya saya blokir di jam tertentu. Hanya ketika ingin menggunakannya saja baru saya aktifkan.

Mungkin aneh bagi orang lain, disaat kita hidup sangat dekat dan akrab dengan kemajuan teknologi, melalui sosial media dan banyak aplikasi, saya justru jenuh dengan itu semua. Meninggalkan Facebook, Instagram, Foursquare, WhatsApp dan aplikasi-aplikasi lain yang hampir setiap menit saya gunakan.

Hidup di dunia maya kadang memang membosankan… Setidaknya bagi saya, bagi orang yang tidak memiliki banyak teman dalam kehidupan nyata, didekatnya. Like no one to trust in. Kalau rasa percaya itu tidak pernah ada, bagaimana kita bisa menganggap seseorang sebagai teman? Cuma kenal nama… Itu pun cuma nama panggilan. Itu pun salah. My best friends always have their own nickname to call me.

Kalau rasa bosan itu sudah terakumulasi dan akhirnya datang, semua hal jadi tidak ada artinya lagi. Seindah apapun itu, sebagus apapun itu. Tidak ada yang bisa menghentikan laju bola salju. Satu-satunya jalan terbaik adalah membiarkan saja bola salju itu terus menggelinding dan akhirnya berhenti sendiri. Tetap utuh sebagai bola yang sangat besar, atau hancur karena menabrakkan dirinya. Hancur, tidak berbentuk. Then everything will not be the same again.

Pimpinan saya, saya dan teman-teman memanggilnya Cece (Kakak, dari bahasa Mandarin), pernah bilang kalau meninggalkan sesuatu yang sudah tidak kita suka adalah hal yang mudah. Tapi, tidak semua orang bisa dan mau meninggalkan apa yang sedang sangat disukainya, terlebih mendapat dukungan dari banyak orang yang memposisikan diri sebagai teman dekat.

Saya punya beberapa teman dekat di WhatsApp dan Facebook, dan saya memutuskan untuk meninggalkan satu-satunya hal yang bisa saya sebut sebagai harta paling berharga. Kehadiran dan pengakuan. Tapi, kado terbaik bagi seseorang adalah hal yang paling dibutuhkannya, dan saya sedang ingin sendiri. Tanpa interupsi, apapun itu.

_____
20 Desember 2013

Posted from WordPress for Android

Advertisements

3 thoughts on “Ketika Rasa Bosan Itu Datang (Reprise)

  1. Halo.
    Kita ternyata memiliki situasi yg hampir sama
    aku pun perlahan-lahan mulai meninggalkan hal yg ku sukai entah kenapa rasa jenuh ini setiap hari datang & sangat menggangu q tpi.. Aq tahu dari mana asal pesaan ini & q harap km pun tahu… Masalah apa yg terus km pendam hingga seperti sekarang…

  2. Oya dan bila hal berharga itu kita jauhkan. Lalu..
    Apa lagi yg dapat menjadi penyemagat hidup kita…?
    Aku pun kadang berpikir utk apa hidup q berlanjut ? toh sekarang apa yg ku sukai tak dapat jadi penyemangat hidup ku lagi tpi, aq berusaha agar dapat keluar dari situasi depresi ini… Aq punya sebuah cita” & q yakin kamu pun

    1. Seingat saya, saya lagi sakit waktu nulis ini, khehehehe… Kadang sesekali kita perlu cari suasana lain, biar ngga bosan. Bukan berarti mesti ninggalin selamanya… Kalo emang hal itu bagus, ya ngga perlu ditinggalin. Saya cuma ngga suka dimanfaatin sama orang yang tiba-tiba datang, ngaku-ngaku teman, kemana-mana saya diikutin, seolah kayak diawasi. Rasanya aneh. Ngga semua orang suka (terlalu) diperhatikan. Mungkin itu yang bikin saya bosan, waktu bikin posting ini. Dan moga-moga kamu juga udah ngga bosan. Semangat, yaaa… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s