Karena Fakta Tidak Selalu Menyenangkan

image

Setiap kali membaca keempat buku itu rasanya selalu saja sama… Rasa sepi dan sunyi, tepat seperti buku pertamanya yang saya baca, Nanyi Sunyi Seorang Bisu buku kedua. Tapi ini bukan tentang buku autobiografinya… Perasaan yang sama setiap kali saya baca keempat buku roman sejarah dari penulis favorit saya. Yes, suddenly I feel lonely and asking about who I am.

Keempat buku itu seperti ‘alkitab’ bagi saya, mungkin juga bagi pemuja Liberalisme yang lain. Bukan, saya bukan Komunis seperti orang-orang yang awam terhadap fakta sejarah sering menuduh kami yang membaca karya-karyanya sebagai pembelot. Saya juga bukan Atheis, seperti sering diasumsikan orang-orang yang terlalu suka mencampuri kebebasan berkeyakinan seseorang.

Kalau dijadikan satu buku saja, mungkin Tetralogi Buru dari Pramoedya Ananta Toer merupakan buku paling tebal yang jadi favorit saya, sejak pertama kali membacanya lebih dari 10 tahun lalu. Masih dalam bentuk asli dengan bahasa dan ejaan yang sudah disempurnakan, disalah satu sudut perpustakaan kampus. Ya, saya membacanya pertama kali memang pada saat sedang merasa sendirian. Dan setiap kali membaca ulang keempat buku itu, rasanya selalu sama.

Rasa sepi yang mendadak datang. Kesunyian yang tiba-tiba merasuk, seolah membawa diri ini masuk kedalam sebuah mesin waktu yang membawa mundur ke satu abad lebih yang lalu. Masa ketika fakta dilupakan dari buku-buku sejarah sekolah. Fakta sejarah yang seolah tidak boleh diceritakan dalam kelas-kelas di setiap sekolah. Seperti sebuah tabu. Dan memang, hampir semua buku dan tulisan Pramoedya dilarang beredar pada masa Orde Baru. Sebagian malah dibakar, hilang tanpa jejak. Seolah tidak ingin mengakui fakta dan kenyataan diri.

Tapi Tetralogi Buru tidak sesunyi Bukan Pasar Malam, satu-satunya roman atau novel yang ditulis Pram atas dasar pengalaman pribadinya sendiri, cerita paling sentimentil tentang kehidupannya dan tentang keluarganya. Memang agak sulit membedakan karya-karya Pram, apakah itu murni fakta sejarah atau karangan biasa yang menggunakan sejarah sebagai acuannya. Tidak ada penulis sehebat Pram bagi saya, yang bisa membawa pembacanya masuk kedalam alur cerita, seolah melihat dan mengalami sendiri setiap detail ceritanya.

Saya tidak ingat sudah berapa kali membaca Tetralogi Buru ini, selain buku-bukunya yang lain. Pram memang bukan penulis yang ceria. Jauh dari kata humoris. Tidak ada tulisannya yang bisa membuat pembacanya tersenyum, kecuali tersenyum getir. Meski memang, ada beberapa bagian dari Tetralogi Buru yang sentimentil, tentang percintaan antara Minke dan Annelies Mellema, Ang San Mei dan Prinsess Kasiruta. Dan tetap saja, yang paling melankolis adalah cerita cinta antara Minke dan Ang San Mei, dari dua dunia dan budaya yang berbeda.

Tapi bukan itu persoalannya. Tetralogi Buru seolah menelanjangi sejarah yang selama ini disembunyikan dari bangku sekolah formal. Bahkan dalam kelas-kelas sosial budaya yang pernah saya ikuti. Tentang bagaimana rasisme antara pribumi Indonesia terhadap penduduk Cina dibuat, kenapa dan untuk apa. Tentang organisasi pertama di Indonesia, apa yang melatarbelakangi dan untuk apa, tentang mental para pejabat… Yang ironisnya tidak berubah sampai sekarang.

Empat buku yang lebih dari cukup untuk menyeret pembacanya ke akhir abad 19 menjelang awal abad 20, memaksa untuk melihat; jaman boleh berubah, tapi mental sebagian besar dari kita tidak pernah berubah. Dan memang, masa kolonial penjajahan Belanda berhasil memecah belah, bahkan sampai sekarang. Rasisme terhadap mereka yang beda suku dan budaya juga agama, perlombaan untuk menjadi pejabat publik, korupsi di pemerintahan. Tidak ada yang berubah, meski di jaman yang sudah sangat maju seperti sekarang.

Banyak orang menganggap, siapa yang membaca karya-karya Pram senyawa dengan Liberal yang mengarah ke Komunis. Itu sebabnya semua karyanya dilarang beredar, semasa pemerintahan Orde Baru. Orang yang terlalu jujur memang sulit mendapat tempat di masyarakat… Tapi saya bukan Komunis, dan juga bukan Atheist. Pram adalah Humanis, mungkin memang Liberal. Apa salahnya? Apa yang salah dari menyukai hal-hal yang tidak berhubungan dengan Materialisme? Kita tidak butuh pengotakan, karena setiap manusia adalah sama.

Suka atau tidak, tidak semua fakta menyenangkan. Tapi sejarah bukan untuk dilupakan. Terserah mau bilang apa, tapi setiap orang yang mati tidak akan membawa secuil apalagi seluruh hartanya.

_____
24-25 Desember 2013

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s