My Diary, My Personal Sense (Main Course)

image

Ngga semua orang bisa ngomong, meski memang bagi sebagian orang itu mudah aja. Kalau semua orang pada jago ngomong, ini dunia bakal rame ngga karuan. Bising, berisik yang ngalahin suara berlusin-lusin mesin di pabrik. Pada dasarnya, manusia memang suka ngobrol… Sebagai makhluk sosial yang ingin didengar dan diperhatikan. Tapi, haruskah? Saya ngga bisa ngomong, cuma bisa nulis.

Memang, ngga semua orang jago buat ngomong. Bahkan ada beberapa orang yang mengalami kesulitan saat harus bicara didepan orang, cuma buat memperkenalkan diri. Kasian… Lebih kasian campur ironis, karena faktanya saya sendiri ngga bisa ngomong. Bisu? Ngga. Gagu? Juga ngga. Biasa aja. Cuma ngga terlalu bisa, dan ngga suka aja. Salah? Ngga.

Dan ngga semua orang bisa nulis. Dan bagusnya, saya bisa nulis. Teman saya, ada yang ga terlalu bisa ngomong dan ngga bisa nulis, tapi jago foto. Jadi, kalau mau mengerti apa maksud dan tujuannya, lihat aja foto-fotonya. Gambar, foto, bahasa universal selain irama musik. Meski memang, bakal banyak penafsiran dalam menerjemahkannya. Pintar-pintar lu aja waktu nerjemahinnya…

Oke, pada dasarnya setiap orang bisa bicara, dengan bahasa dan gayanya sendiri-sendiri. Bicara, menurut saya, agak beda dengan ngomong. Ngomong lebih cenderung pake mulut, secara verbal dan lisan. Sedangkan bicara, bisa lewat indera dan media apa aja. Bicara lewat gambar, foto, lukisan, tulisan, musik, gerak tubuh, ekspresi, mimik wajah, intonasi suara, pemenggalan kata dan pilihan kalimat, jenis bahasa, logat dan aksen, juga pakaian dan sebagainya.

Ironisnya, ngga semua orang bisa membaca dan mendengar. Karena itu dalam bahasa Inggris ada kata ‘hear’ dan ‘listen’ yang secara umum dalam bahasa Indonesia berarti ‘mendengar’. Tanpa pake buka kamus, saya meengartikan ‘hear’ sebagai ‘mendengar sambil lalu’, ngga pake konsentrasi, ngga pake penghayatan. Sedangkan ‘listen’, menurut saya lebih kearah mendengar dengan penuh perhatian, dengan konsentrasi.

Kita selalu bilang ‘listen to me’, bukan ‘hear on me’ saat ingin didengarkan. Listen. Saya menduga ini bentuk perkembangan atau ‘pastence’ atau ‘future tense’ atau apalah istilahnya dari ‘list’ yang berarti ‘daftar’ atau ‘perincian’. Jadi, menurut saya, ‘listen’ berarti ‘mendengar dengan kemampuan memahami’, menangkap dan mengerti arti setiap kata yang menjadi kalimat, maksud dibalik apa yang dikatakan.

Hais… Malah bahas ‘grammar’ dan filosofi kata… Semiotik, maksud tersembunyi dibalik yang terlihat sekilas. Padahal cuma mau bilang kalau saya ngga bisa ngomong.

So, what does it mean? Ngga ada. Iseng aja. Benarkah? Seorang teman, teman kerja di waktu yang lalu, pernah bilang kalau manusia seperti saya ngga mungkin melakukan atau mengatakan sesuatu secara tiba-tiba, tanpa alasan, tanpa pertimbangan, apalagi ngga pake mikir. Iseng? Ga tau juga. Kami ‘penganut’ DISC, dimana manusia dibagi menjadi 4 tipe karakter atau keperibadian. Dominance, Influence, Steadiness, Compliance.

Ngga tau bagus atau ngga bagus, saya terlahir dengan C, dan entah ironis atau kebetulan yang ngga pernah disengaja, perkembangan sampai sekarang tetap C. Kenapa? Karena tipe keperibadian bisa berubah, tergantung lingkungan dan pengalaman. Makin ironis karena dalam studi analisa sidik jari alias Fingerprint Analysist, ternyata saya punya sepasang Double Loop. C itu melankolis kalau dalam studi tipe keperibadian, perfeksionis. Dan 1 Double Loop udah lebih dari cukup buat bikin seseorang jadi perfeksionis ekstrim.

I receive that. Try to accept what I am.

Meski, ya meski… Dengan seorang teman yang sama-sama bertipe C, kami selalu ‘bertengkar’. Sepele… Cuma saling menuduh siapa yang lebih C, berusaha lari dari kenyataan bahwa jadi orang bertipe C itu cukup merepotkan. Semua harus diatur dan teratur, semua harus direncanakan dan terencana. Kalaupun mau rusak atau hancur, itupun harus direncanakan. Damn! Bahkan untuk membuat rencananya pun harus benar-benar dipikir. Lamaaa… Slooooow.

Dan diantara kami berdua akhirnya muncul istilah ‘C akut’ untuk siapa yang kadar C-nya paling tinggi. Setrika baju diurut dari kaos ke kemeja, celana pendek ke celana panjang, disusun sesuai bahan dan model dan warna, dengan gantungan baju yang harus sewarna. Melipat koran yang barusan dibaca serapi mungkin, duit lecek disetrika biar lurus dan rapi, diurut dari nominal terkecil ke yang paling besar sesuai jenis mata uang. Makin kacau karena kantong plastik bekas belanja pun di’seterika’ dengan tangan biar lurus, dan dilipat serapi mungkin.

But that’s our world. My world too… I just need to receive it. Knowing that I can not do and leave anything with no plan(s). And yes, I need to think to come or never. To be a part or never. But I can not speak. I just can write.

Saya ngga peduli ini blog mau jadi gimana. Statistik? Kadang memang perlu. Tapi kalau cuma buat menyalurkan hobi, buat apa? Useless. I don’t even care who’ll come and see. This is my place to tell all what I can’t speak. This is the home of my mind, the words that I might never say.

Tapi memang masih lebih rame di Opera… Meski awalnya juga sama, saya ngga pernah niat kejar traffic apalagi nyari duit dari nulis di blog. Bukan berarti ngga pengen. Pernah. Pernah nyoba, tapi kolaborasi. Dan tutup, karena faktor kesibukan dan jarak. Lagian, gimana bisa jalan lurus kalau apa yang saya tulis ngga pernah fokus bahas satu hal khusus. Udah bayar mahal buat hosting, useless. Tapi yang bayar juga teman saya, yang jadi editor, hahahahaha… So, should I looking for an editor? Ngga lah. Ga penting.

Itu sebabnya, hampir semua hal atau kegiatan online saya selalu saya kasih tagline ‘My Diary, My Story, My Personal Sense’. Saya cuma mau cerita apa yang ada dalam pikiran dan mungkin juga perasaan saya. Itu aja. Kadang memang kontroversif, kadang persuasif, cenderung naratif. Bukan pelajaran mengarang dalam kelas Bahasa Indonesia, dimana harus ada tema dan topik, sub tema dan kalimat kunci. I just write all what come to my mind. Passing by.

So, this is my diary, my story. My personal sense. All what I can not say. Cause my mouth is locked for so long. Now I’m not using my pen on paper, but type it on my cellphone screen. 13 years… Too many papers, too many ink. 3 years, 4 cellphones. One single number. All just for a thing I named My Personal Sense.

_____
2 Januari 2014

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s