Bukan Pesan Dalam Botol

image

Pesan dalam botol? Udah biasa…
Selembar foto dalam botol? Juga biasa.

*****
Ini aslinya posting dari Google+, tapi saya hapus ngga lama setelah upload. Kenapa? Suka-suka saya lah… Hahahahaha… Moody. Begitulah. So, anggap aja ini repost. Cerita lama dibalik sebuah rahasia. Hais… Apaaaaa coba…

Alkisah, pada jaman dahulu kala, ketika saya masih berseragam putih biru… Jaman celana pendek warna biru tepatnya, bukan model panjang seperti seragam sekolah ponakan saya yang umurnya ngga beda jauh sama pamannya ini.

Hahahahaha…
Tipu banget… Ngga lah. Serius. Kapan saya pernah ngga becanda?!

Kelas 2 SMP waktu itu. Jaman masih lugu-lugunya. Tapi lebih tepat kalo dibilang jaman masih bloon. Hahahahaha…

Jaman ketika selembar kertas stiker yang dikasih tulisan dan cat semprot acak kadut bisa laku dijual… Bahkan boleh dititipin ke toko seorang kenalan. Nitip pajang doang… Tapi ya, ada aja yang khilaf dan beli. Hahahaha…

Seorang teman datang dengan menyembunyikan kedua tangan dibalik badannya. Dengan senyum sok selebritis, dia sapa teman-temannya yang bertampang ngga lebih norak dari dia…

(Dialog saya revisi dalam era masa kini, dengan dramatisir hiperbolis. Biar ngga aneh aja bray! Padahal ya emang aneh…)

“Brooo… Liat ni apa yang gue punya”,
Kata beliau sambil memamerkan sesuatu dengan bangganya. Seolah-olah teman-temannya manusia purba dari pedalaman yang ngga pernah ngeliat sebuah botol kaca transparan berbentuk gepeng.

“Woooiii… Liat isinya!”,
Lanjut teman itu mendekati rasa frustasi. Dan beramai-ramai kami memperhatikan apa yang dia maksud. Mau ngga mau… Demi menyenangkan perasaan seorang teman yang sama ngga normalnya.

Sebuah foto dengan bingkai kayu yang ujung-ujungnya dipaku. Biasa aja. Ngga ada yang istimewa.

“Liat! Liat ini!!!”,
Karena saking frustasinya, ngga ada yang merasa takjub dengan apa yang dia pamerkan.

“Liat. Perhatiin. Gimana cara masukinnya?!”,
Itu ditanyakan karena mungkin teman-temannya punya level ke-bloon-an dibawahnya.

“Ya lu buka dulu tutupnya…”
Mungkin, kalo itu ditanyakan sekarang, saya bakal jawab begitu.

Itu, untuk pertama kalinya saya ngeliat sebuah foto dengan frame kayu terpaku didalam sebuah botol.

Penasaran?
Jelas semua penasaran. Tapi cuma sebatas penasaran biasa. Cuma sekedar mau tau aja.

Tapi, buat seorang anak yang mesti nyari duit jajan sendiri demi bisa langganan majalah dan ikut nongkrong sama teman-temannya yang ‘behave’, itu jadi teka teki yang harus dipecahkan. Keliatan lebih rumit dari teka teki silang di halaman belakang Kompas Minggu.

Akhirnya saya pinjam botol itu buat dipelajari, untuk memecahkan teka tekinya. Memecahkan teka teki, bukan mecahin botolnya. Beberapa hari dipelajari… Tetap ngga ngerti. Jadi frustasi sendiri.

Baru setelah hampir 4 tahun kemudian saya bisa membuatnya. Memasukkan selembar foto kedalam botol, lengkap dengan frame kayu atau bambu dengan bumbu paku. Paku asli, dari besi.

Flashback lagi… Kapan bisa memecahkan teka tekinya sebelum bisa buat? Lupa. Asli beneran lupa. Tapi butuh waktu hampir 4 tahun buat bisa bikin.

Emang lama… Karena ngga tiap hari mikirin. Juga ngga selalu dicoba.

Sebagai seorang ‘crafter’, meski ngga expert amat, I’ll tell you the truth after 18 years… I’ve been living with this secret with no one exactly know how it is. Seorang teman saya ada yang bisa… Tapi dengan trik lama. Because I modified the old trick to be more real.

Yup. Kalo ditanya gimana caranya, itu memang cuma trik. Bukan sulap. Bukan sihir. Tapi trik. Memotong atau membelah botol? Ngga. Biayanya terlalu mahal buat memotong kaca 5mm dengan permukaan ngga rata.

Kita cuma butuh sesuatu yang bisa merekatkan kedua bilah kayu, bersama selembar kertas foto. Kita cuma harus memastikan kalau bagian-bagian itu bisa masuk melalui celah yang berdiameter ngga lebih dari 20mm. Dan kita cuma butuh kesabaran, plus keahlian meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya.

Itu trik lama. Ngga pake paku juga bisa. That’s the key: the nails.

But my modified trick can not run without the nails. That’s the different.

Saya butuh waktu hampir 5 tahun buat bisa memaku frame kayu didalam botol. Rutin nyoba, ngebuang lumayan banyak duit cuma demi sebuah hobi. Skill yang ngga seberapa kalo dibandingkan sama skill merakit miniatur kapal dalam botol tanpa dibelah.

But, that’s my hobby… Hidup ngga afdol kalo ngga punya hobi. Dan kadang, kita bisa jauh lebih royal ngeluarin duit buat hobi ketimbang yang lain. Seperti keliling kota cuma demi CD album pertamanya Andezzz yang rilis beberapa tahun lalu. Bahkan nitip teman di Semarang buat cek di toko musik disana. Asli, bukan bajakan. Cuma demi hobi!

Karena saya ngga bisa hidup kalo ngga punya hobi. Sesuatu yang bisa mengalihkan pikiran negatif… At least, I’m happy with it, no matter it costed me high. I never really care about pricing. You decide, I’ll make it.

So this is my diary, my story.
My personal sense.

_____
31 Januari 2014

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s