Skeptisme: Intro

Prolog: ini tulisan stok lama banget, dari 2 tahun yang lalu. Lupa, dulu posting dimana… Anda percaya dengan alien? Saya ngga. Anda percaya dengan Segitiga Bermuda? Boro-boro… Melihat dan mengalaminya aja belum pernah. Cuma dengar ceritanya aja… Tapi seru juga, khehehehe…

Tiap orang punya hak (dengan alasan logis) untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu (hal atau orang). Pada dasarnya, sceptism atau skeptisme adalah pemikiran tentang ‘tidak mempercayai sesuatu yang tanpa bukti’. Bisa berdasarkan bukti/pembuktian ilmiah-empiris (dapat diukur, scientific, bisa dibuktikan kebenarannya) atau bisa juga berdasar pengalaman (personal self experience).

Pembuktian secara ilmiah memang bisa diukur dengan standarisasi (konsensus, kesepakatan ahli), tapi skeptisme yang disebabkan pengalaman lebih disebabkan oleh kejadian diluar perhitungan/perkiraan yang berulang-ulang (lalu menjadi kebiasaan). Dalam dunia politik dan pemerintahan dikenal dengan istilah ‘mosi tdk percaya‘.

Secara psikologis, kita bisa jadi tidak percaya (lagi) karena hal tersebut melenceng terus menerus. Korelasinya lebih kepada konsistensi (kepastian sikap dan atau tindakan). Dalam psikologi dasar disebut ‘self experience’ atau pengalaman pribadi (berdasar pada pengalaman-pengalaman sebelumnya yang diulang-ulang) yang menimbulkan kesan secara keseluruhan (image, gambaran).

Image atau pencitraan diri seseorang dibuat oleh dirinya sendiri, dari sifat dan kebiasaan. Apakah seseorang itu konsisten dengan apa yang diucapkan dan dilakukan sehingga orang lain akhirnya bisa percaya, atau tidak konsisten sehingga sulit bagi orang lain untuk percaya. Tidak konsisten dan tidak sinkron antara ucapan dan tindakan.

Jadi, ketika ada orang lain yang tidak percaya (skeptis) dengan kita karena tidak konsisten, itu wajar. Anda adalah apa yang anda lakukan berulang-ulang. Ketika anda terbiasa datang terlambat, orang (normal dan konsisten) tidak akan percaya ketika anda bikin janji bertemu tepat pukul sekian.

Skeptisme justru diciptakan dan dipelihara oleh mereka yang mengaku bisa dipercaya, tapi pada kenyataannya sama sekali tidak. Kalau anda mau dipercaya, beri bukti dan buktikan anda pantas dipercaya. Kalau ucapan dan tindakan anda tidak bisa dipercaya, jangan pernah berharap orang lain mau percaya, dan jangan menuntut orang lain untuk menuruti ketidak-konsistenan anda. You’re is what you do repeatly.

Saya (dan juga anda, kalau mau) punya hak untuk tidak mempercayai semua hal yang tidak punya bukti, ataupun ucapan-ucapan dari orang-orang yang tidak konsisten.

Kalau saya, saya tidak bisa (dan tidak mau) percaya dengan orang yang terbiasa terlambat dan semaunya, tidak sinkron dan tidak konsisten, melenceng. Bukan berarti tidak punya toleransi, tapi kalau berulang-ulang (apalagi tanpa konfirmasi), ya… You created your image that you’re not trustable.

Skeptisme itu (cuma) menuntut pembuktian, tidak lebih.

_____
Originally writed on January 10th 2012.
Edited on March 11 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s