#Fin: My #Handwork

image

Akhirnya selese juga… Hahahahaha…
Beberapa orang selalu nanya; gimana cara masukin itu foto kedalam botolnya? Gampaaang… Tutupnya dibuka dulu, baru dimasukin. So simple as that? Of course nope.

Bermain dengan barang bekas.
Kira-kira begitu judulnya… Atau mungkin sampah? Bisaaa… Karena butuh sedikit perjuangan buat dapetin botol berbentuk pipih di kota ini. Ngga susah-susah amat… Tapi, yaaa… As I said, butuh sedikit perjuangan. Gerilya ke pengepul botol bekas dan ngubek-ngubek gudangnya.

Kalo beruntung, dapat botol yang kondisinya masih bagus dan bersih. Kalo rada kurang beruntung, ya dapatnya yang bekas dari kerendam lumpur atau tanah. Sama aja sih… Sama-sama harus dicuci bersih sebelum dipake.

Umumnya itu botol miras, atau minuman keras. Meski ngga selalu… Karena rum bahan kue dan madu juga ada yang botolnya gepeng. Cuma karena faktor estetika aja kenapa saya lebih suka pake botol berbentuk pipih yang lehernya rada panjang. Selebihnya, bisa dibilang ngga ada.

Kotak atau box, seperti biasa saya buat dari bahan karton daur ulang. Karton padi ukuran 40 kalo ngga salah… Bagian dalam dengan coating kertas samson, kertas standar untuk internal coating. Sedangkan coating luar pake kertas yang penjualnya kasih nama kertas kristal. Rada gilap, glossy gitu sih…

Perekat alias lem, seperti biasa pake yang waterbase. Kotak dengan teknik pembuatan three layers dan half cutting, full patched with glue, ditambah mika tebal buat display. Talinya? Pake benang rajut, di toko alat dan perlengkapan jahit ada jual.

So, berapa harga untuk barang ini?
Jujur aja, saya ngga suka nyebut harganya… I’m not working for money, I’m not a bitch. Tapi memang, beberapa orang ada yang bilang kalo itu mahal, ada juga yang bilang kalo harganya normal (menurut mereka). Sebagian malah ada yang sempat bilang; lu kemurahan kasih harga.

Whatever…
I’m not a sales person. I prefer to talk about details than price. Karena harga itu relatif.

Satu catatan tambahan; saya menggunakan paku untuk merangkai frame dan fotonya, bukan direkatkan dengan lem, seperti waktu pertama kali saya belajar membuatnya belasan tahun yang lalu.

Dan saya lebih suka foto yang dicetak dengan mesin studio foto, chemical printing, bukan digital printing dengan printer rumahan maupun percetakan. Kenapa? Soal kualitas aja… Kualitas gambar cetak foto lebih lama, bisa puluhan tahun. Sedangkan printing biasa… You know what I mean.

So this is my hobby, my escape.
This is my handwork, an oriGinaL_noE.

_____
Balikpapan, 2 Mei 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s