Sosmed Paranoid

image

Kadang, saya sering paranoid sendiri ngga lama setelah posting atau update status di Facebook. Dari yang tadinya public, langsung saya ganti jadi private.

Alasan pastinya, saya ngga tau… Mungkin karena penduduk Facebook itu punya kepedulian tingkat tinggi yang levelnya beda tipis sama di Twitter. Semua hal mereka mau tau, meski (maap) sebenarnya mereka ngga tau (sebut aja ‘ngga ngerti’ bukan istilah yang disamarkan).

Apa kita harus tau semua urusan orang lain, dan apa kita harus ngerti semua hal? Saya jadi ingat dengan seorang teman yang pernah berbulan-bulan menanyakan pertanyaan yang sama. Waktu saya bilang ngga tau, dia bilang “Lu kan ensiklopedi berjalan, wajar dong gue nanya elu terus.”

Sodara-sodara sebangsa tanah dan sebangsa air… Kadang kita ngga perlu tau semua hal, apalagi kalo itu bukan urusan kita.

Lalu yang jadi pertanyaan; kenapa ngga disetting ke private aja sekalian? Ya, itu urusan privasi, juga keberanian. Uji nyali. Bukan saya ngga suka diperhatikan… Cuma ngga suka diawasi, apalagi kalo ternyata itu jadi salah persepsi. Ngga nyambung. Cuma karena pengen eksis, absen sekedar nunjukin kehadiran.

Ngga semua orang ngerti kalimat satir. Kadang ada bagusnya cuma melihat, untuk sekedar tau, ngga perlu berenti mampir. Seperti ketika kita yang bukan siapa-siapa dan ngga ngerti apa-apa, melihat kecelakan lalu lintas, iseng berhenti buat ikutan nonton… Apa itu menolong? Cuma pengen tau. Nyesek-nyesekin, malah memperlambat proses evakuasi. Mending lu langsung telpon ambulans sama polisi.

Tapi, yaaa… Namanya juga hidup di dunia maya. Dunia absurd dengan perilaku yang ngga kalah absurd. Ironisnya, bagi sebagian orang, kehidupan di dunia maya dianggap lebih nyata dari kenyataan sehari-hari. Komen ngga dibalas, dia marah… Invitation dicuekin, dia sakit hati… Karena saya pernah nemu yang kayak gitu, dan rasanya ngga enak banget.

So, bagi sebagian orang sosmed itu untuk mencari dan nambah teman. Bagi sebagian yang lain, sosmed mereka gunakan buat menjaga hubungan atau keep in touch dengan teman dan keluarga yang jauh secara fisik, tanpa merasa perlu nambah atau kenal yang ngga perlu dikenal. Bagi sebagian yang lain, mungkin sosmed itu ngga lebih sebagai media ekspresi diri, cuma sebuah diary, catatan harian.

So this is my story, my personal sense. My own opinion. Copy paste is immoral.

*originally posted on google.com/+djatmikoxv

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s