Untitled 20150127

Namanya juga manusia… Subjek. Bukan objek. Biar gimana-gimana, ujung-ujungnya dia pasti mikir. Do I do it right? Or it might just perhaps.

Hidup di Indonesia, di tanah kelahiran sendiri, apalagi di kota sendiri, memang lebih enak ketimbang jadi perantauan. Home sweet home, begitu banyak orang bilang. Biar kata hujan emas di negara orang, masih lebih enak hujan batu di negeri sendiri. Tapi batunya batu permata, hohohoho…

So, karena ini di Indonesia, sesuatu yang formal dan tertulis itu kadang penting banget. Kamu pernah kuliah, ijazahnya mana? Kamu punya skill apa, sertifikatnya mana? Lah, almarhum ibu saya yang (pernah) cuma jualan roti rumahan aja mesti pake surat tertulis… Pake surat ijin dari Dinas Kesehatan lah, ijin ini lah, ijin itu lah…

Wajar dong… Namanya juga usaha. Bukan mainan. Cari duit, bukan cari senang doang. But that’s over since my father go with another woman not so long after my mother dead, and never mean to give the business to his sons. Nevermind. We can settle on our own cause he never help us in anyway since we’re kids. Not even giving support on what we’re doing.

Sehebat-hebatnya orang, di Indonesia, kalo dia ngga punya gelar akademik, kayaknya ngga banget. Emang sih… Ada beberapa orang yang sukses tanpa menempuh, atau tanpa menyelesaikan pendidikan formalnya. But that’s another case. Teman-teman saya juga ada yang seperti itu. Jadi fotografer hebat tanpa menyelesaikan kuliahnya di Manajemen. Jadi dosen Fotografi tanpa pernah sekolah foto. Otodidak doang…

Tapi ketika kita berhadapan dengan dunia kerja, dimana kita masuk sebagai bukan siapa-siapa, kita jadi mikir… Saya kan cuma otodidak… Kuliah ngga sampe selese, gelar ngga punya, berkali-kali ikut seminar dan training tapi ngga punya sertifikat… Gimana mau punya kalo ikutnya gratisan?!!

Ya… Sometime I feel so under confidence. Tapi mau sampe kapan?! Einstein pernah bilang; cuma orang gila yang melakukan hal yang sama berulang-ulang dan ngarepin hasil yang berbeda. Emang sih… Kadang saya juga merasa jadi orang gila. Setiap hari begini-begini aja, ngelakuin rutinitas template yang gitu-gitu aja, minder dengan segala kekurangan yang ada… Kekurangan fisik, kurang dikit buat jadi sarjana karena ninggalin skripsi gitu aja, kurang berani cari dan ambil kesempatan, dan kurang yang lain.

Teman saya sempat bilang waktu dia resign dari tempat kerjanya yang lama; pengen keluar dari zona nyaman. Lalu dia pindah le tempat kerjanya yang baru, dan entah kenapa terlihat lebih bahagia. Begitu juga dengan seorang teman yang lain, meski dari dulu kerja di perusahaan yang sama. Merasa bahagia, atau bahkan bisa lebih bahagia.

Oke, kita nggga perlu sok idealis… Kita kerja butuh duit untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan dan tanggung jawab kita sebagai warga negara yang baik. Karena kita ngga bisa bayar tagihan listrik, air, dan telpon, cuma dengan bilang terima kasih. Kita juga ngga bisa bayar pajak kendaraan dan bangunan cuma dengan salaman sambil senyum. It’s all about the money, indeed.

Selasa siang yang cukup terik di Balikpapan, dengan sebagian awan hitam dibeberapa lokasi. Ngga tau dah ntar hujan atau ngga… Whatever, it’s all just my personal sense, my diary. I’ll take the chance whenever it come to me. At least, it’s just coming yet. All what I need to do is wait for the next instruction.

May you have a blessing day!

Posted from WordPress for Android on Sony Xperia Z1 C6309

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s