Apakah Kamu Sudah Memberi Makan Sirius?

Bukan persoalan ‘apa’ dia, tapi ‘siapa’. Ngga peduli meski dia cuma teman yang ngga pernah ada. Paling ngga, dia belum ada. Belum bisa ada. Dengan begitu, kamu bisa belajar peduli pada sesuatu yang bahkan ngga ada. Atau belum ada. Seandainya dia ada. Ngga peduli dia sebagai apa. Apakah kamu sudah memberi makan Sirius? Apakah kamu sudah mengajaknya bermain hari ini, menyapanya, menemaninya, mengajarinya, juga menjaganya.

Saya selalu berharap bisa punya seekor anjing. Sebagai teman, bukan sekedar peliharaan. Agak dramatis, karena selama belasan tahun saya pernah punya trauma dengan anjing, tapi justru akhirnya saya lebih menyukai hewan ini ketimbang yang lain. Mungkin karena banyak pakar hewan bilang kalo anjing merupakan jenis hewan peliharaan paling setia, dengan intelektual diatas rata-rata hewan peliharaan lainnya. Tapi lihat-lihat jenis anjingnya juga…

Dan anjing itu saya beri nama Sirius, yang artinya anjing berukuran besar. Ya, karena saya ngga pernah berniat, dan samasekali ngga tertarik dengan anjing jenis paddle pop. Eh… Pudle, mungkin itu jenisnya. Tapi juga bukan jenis anjing terlalu besar, apalagi yang beringas. Cukup yang biasa aja… Siberian Husky. Namanya juga imajinasi, suka-suka saya aja.

Sebelumnya saya pernah miara ular, kucing, juga kelinci. Bukan punya saya benernya… Punya orang lain yang udah saya anggap peliharaan sendiri. Sama seperti kalo kamu ketemu orang yang bukan sodara, terus dekat, lalu akhirnya kamu anggap sodara sendiri. Teman dekat, begitu judulnya. Dan kadang, teman dekat itu malah bisa lebih dekat ketimbang sodara sendiri. Namanya juga teman dekat… Kalo ngga dekat, namanya teman jauh. Saking jauhnya, kadang lupa kalo pernah jadi teman.

Apakah kamu sudah memberi makan Sirius? Mengajaknya bermain, mandikannya, menemaninya jalan-jalan, mengajarinya agar tidak pup dan pipis sembarangan… Menjaganya, karena dia sudah menemani kamu, menunggu kamu pulang dan menjaga rumahmu. Bahkan mungkin dia lebih setia dari orang yang kamu pikir setia, tapi ternyata sia-sia.

Kelihatannya sepele… Memelihara seekor atau sepasang hewan peliharaan. Cukup ditebus dengan sekian ratus atau sekian juta rupiah, tambah dikit buat beli atau suruh orang buatin kandangnya. Mau kamu kandangin? Apa kamu sendiri mau dikurung dalam kandang? Karena itu saya ngga pernah tertarik miara burung. Bukan karena saya laki-laki… Tapi karena ngga ada makhluk hidup yang suka dikurung. Semut yang sungguh sangat amat kecil sekalipun ngga suka terkurung. Kamu boleh tanya langsung ke mereka kalo ngga percaya.

Punya hewan peliharaan itu bukan untuk senang-senang. Bukan buat dipamer-pamerin karena belinya mahal. Emang sih… Seekor anakan Husky harganya ngga bisa dibilang murah. Bahkan seekor kucing pesek dari Persia pun ngga kalah mahal.

Kamu boleh percaya, juga boleh ngga percaya; miara hewan peliharaan itu tingkat kesulitannya kurang lebih sama seperti punya bayi. Bedanya; satu binatang peliharaan, satunya manusia yang bakal tumbuh besar. Selebihnya; mereka sama-sama ngga bisa ngungkapin perasaannya dengan bahasa yang dimengerti orang dewasa. Karena mereka menggunakan bahasa kalbu, yang cuma orang-orang tertentu yang bisa ngerti, jenis bahasa langka yang dipopulerkan Titi DJ dalam sebuah lagu.

Apa kamu mengerti bahasa bayi? Karena setau saya, sampai sekarang, belum pernah ada kamus bahasa bayi. Tapi bukan berarti kita ngga bisa mengerti bahasa mereka. Itu cuma faktor perasaan, emang bukan soal logika. Kapan seorang bayi lapar atau haus, gerah pengen dimandiin, minta digantiin popok, pengen diajak main atau bahkan jalan-jalan. Gitu juga dengan hewan peliharaan. Mereka ngga bisa ngomong, tapi mereka bisa memberi bahasa isyarat, meski bukan jenis bahasa isyarat yang pernah dipopulerkan TVRI pas acara berita jaman dulu.

It’s not as easy as you think. Karena hewan peliharaan kita, apapun spesiesnya, apapun jenisnya, dia bakal belajar meniru dari kita. Kalo kita galak dan suka ngancam orang, dan kita punya anjing, maka anjing kita ngga akan kalah judesnya. Mungkin kamu pernah lihat tulisan ‘Awas Anjing Galak’, yang ini selalu jadi teka teki buat saya… Sebenarnya yang galak itu anjingnya, atau pemiliknya yang bikin atau nyuruh orang bikin tulisan itu. Karerna anjing-anjing milik tante teman saya ramah-ramah, sama seperti pemiliknya yang ngga kalah ramahnya.

Dengan memelihara hewan peliharaan, ini cara paling mudah kalo kita mau belajar jadi orang tua, tapi belum siap berkeluarga atau udah kadung berkeluarga tapi belum siap punya anak. Karena dari situ kita dituntut untuk bertanggung jawab, dari hal-hal yamg paling sepele… Apa kamu tega ngebiarin hewan peliharanmu kesepian dirumah, sedang kamu asik nongkrong sampai pagi. Apa kamu tega, wisata kuliner kesana kemari, tapi anjing, kucing, kelinci, marmut, atau apapun jenis hewan peliharaan kamu, lupa kamu kasih makan.

Mereka ngga bisa ambil dan nyiapin makannya sendiri. Sebagian besar dari hewan peliharaan itu ngga bisa buka tutup pintu sendiri. Ngga bisa buka dan nutup keran air, ngga bisa nyalain dan matiin kompor, dan ngga bisa ngelakuin banyak hal yang buat kita sepele banget. Kayak nyalain dan matiin lampu.

So, apakah kamu siap punya hewan peliharaan, yang lebih dari sekedar peliharaan. Tapi sebagai teman, karena seekor atau sepasang hewan peliharaan bakal menemani kita. Kalo emang kamu bisa, jadi orang tua itu udah bukan lagi hal yang sulit, meskipun sebagai single parent. Karena kamu udah terbiasa mengurus segala sesuatunya sendirian.

Tapi itu bukan cuma soal bisa atau ngga… Juga soal mau atau ngga, soal menjiwai atau ngga. Mungkin itu sebabnya seorang baby sitter bisa lebih mengerti seorang anak ketimbang orang tua si anak sendiri. Dan karena itu juga pawang binantang di kebun binatang lebih bisa diterima hewan-hewan disana ketimbang pemilik kebun binatangnya yang cuma bisa beli.

It’s not about the money, it doesn’t matter who you are. It is about the simplest thing to care on the simplest things. Put your real care on that.

__________
Balikpapan, 3 Agustus 2015, malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s