Hari Ini, Empat Tahun yang Lalu

image

Dua hari terakhir ini, Selatan Jakarta terasa panas. Berbeda dengan empat tahun yang lalu, ketika mendung mencoba melindungi perasaan saat detik-detik kehilangan. Dirumah, disebuah kota kecil tepi pantai yang dinamakan Balikpapan, sudut paling metropolis dari sekian banyak titik kehidupan di Kalimantan. Tempat paling strategis, termasuk saat ingin melarikan diri kemanapun mau. Hari ini, empat tahun yang lalu, sebuah kenangan dari kehilangan terlahir untuk tidak akan pernah terlupakan.

Selasa pagi, semua baik-baik saja. Setidaknya, kami merasa baik-baik saja. Tidak ada yang istimewa, sekalipun akhir dari sebuah cerita sudah jelas didepan mata. Manusia lemah… Kita memang manusia yang lemah, sekalipun tahu apa akan terjadi, lewat gambaran jelas dalam mimpi-mimpi, melalui indera keenam setiap manusia. Tapi sebagai manusia, aku juga hanya ingin semua yang bahagia, menolak setiap kepahitan sekalipun itu fakta tak terbantahkan. Mengingkari kenyataan bahwa suatu saat waktu itu akan datang.

Setahun kemudian aku baru tahu kenapa gambar-gambar itu bisa teramat jelas. Bukan ilusi apalagi halusinasi. Tapi aku tidak bisa menolongnya… Sedari awal November lima tahun lalu, saat untuk pertama dia meninggalkan rumah untuk mencari harapan akan hidup dan kesembuhan, saat itu pula awal dari sebuah akhir mulai menyodorkan selembar demi selembar gambar… Kau tidak dapat menolak dan jangan mengelak, begitu sayup bisik perasaan dari masa depan.

Aku melihat akhir dari dirinya, tanpa dapat melakukan apa-apa. Apa dapat dilakukan, ketika Tuhan sudah menuliskan bahwa sebuah akhir dari seorang manusia telah dimulai… Melawan, hanya melawan pikiran dan perasaan, semoga semua itu salah. Semoga gambar-gambar itu tidak lebih dari kebohongan pikiran dan perasaan yang berlebihan. Tapi tidak. Aku harus melihat apa yang tidak pernah ingin kulihat. Hanya karena aku dapat melihatnya.

Dia pergi dalam damai, dengan aku disisinya. Melantunkan beberapa ayat suci Al Quran, doa-doa yang kuharap dapat menemaninya pulang kerumah Tuhan. Dirumah kami, dirumah dimana aku pernah sangat lama tidak disana. Mendung, waktu itu Selasa sore. Pagi keesokan hari pun masih mendung. Lewat dari dua puluh empat jam tanpa tidur, juga tanpa derai air mata. Hanya hampa.

Berhari-hari aku duduk didepan rumah, rumah kami, rumah yang pernah sangat lama kutinggalkan. Berharap dia pulang. Aku ingin kemarin itu cuma mimpi! Dan aku hanya dapat menangis dalam rindu yang teramat sepi. Juga untuk sekali ini lagi, setelah empat tahun yang lalu Ibuku pergi dan tidak akan pernah kembali.

__________
Selatan Jakarta, 27 Maret 2016.
Untuk sebuah kehilangan 4 tahun yang lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s