Ketika Akhirnya Kita Lelah

Setiap karyawan, yang judulnya kerja ikut orang lain, punya satu kesamaan dalam hal cita-cita… Entah itu naik gaji, naik jabatan, dapat promosi, jenjang karir or whatever istilahnya… Selalu saja berujung dengan satu titik kesamaan; peningkatan pendapatan. Dan seperti bawaan orok yang tanpa sadar setia dengan hukum ekonomi, kita selalu berusaha mendapatkan hasil sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.

Termasuk soal pekerjaan… Dengan usaha seminim mungkin, kita ingin pendapatan setinggi mungkin. Dan buat sebagian jenis manusia, mungkin dengan pakaian seminim mungkin bisa mendatangkan penghasilan setinggi mungkin. Atau sebagian memilih, dengan rasa malu seminim mungkin, hasilnya akan sangat maksimum. Dalam beberapa kasus, rasa malu yang minim itu cukup relevan dengan tidak tau malu.

Tapi bukan itu. Kita tidak bicara soal usaha yang minim maupun hasil yang maksimum. Semua yang seperti itu sungguh sangat relatif. Rasa cukup dan rasa puas hampir mirip dengan cerita fiktif yang sulit atau mustahil dibuktikan kebenarannya.

Saya tidak peduli. Mungkin, sebagian orang lain juga tidak peduli. Kita, lebih mudah untuk tidak peduli dalam sikap ketimbang kata-kata. Karena kata-kata itu murah… Semurah dan semudah kita minta maaf waktu lebaran, tanpa pernah mau sempat berpikir apa sebenarnya yang salah, sehingga kita perlu ikut minta maaf… Hanya karena latah, terdoktrin dengan minta maaf itu baik meski kita tidak pernah tau apa yang jadi masalahnya.

Mungkin karena kita lelah. Lelah berpikir dengan otak kita sendiri, sampai pada akhirnya kita dengan senang hati menerima pemikiran orang lain. Dan seperti rasa lapar yang tidak pandang bulu, kita sering menelan pemikiran orang lain itu mentah-mentah… Bukan karena kita penggemar kebudayaan dan kuliner Jepang. Tapi karena kita terlalu lelah berpikir sendiri. Atau, hanya kita saja yang terlalu malas mengakui kalau kita memang malas, bahkan untuk sekedar berpikir.

Ada masanya kita menggebu-gebu dengan kata. Berbicara dan berbahasa, dengan kata dan kalimat sederhana sampai dengan istilah-istilah rumit, yang bahkan malaikat pun mungkin tidak mengerti apa artinya. Kata-kata pelipur lara atau kalimat-kalimat penghapus dosa…

Ada masa, ketika kita akhirnya mungkin lelah berkata-kata. Bicara dalam kalimat-kalimat yang tidak pernah mujarab. Hanya untuk sebuah suasana, biar tempat kita tidak dibilang sama dengan rumah para orang mati yang memang tidak berkata-kata. Mereka yang telah mati, memang tidak memerlukan kata… Tidak juga doa, mungkin.. Jika doa-doa yang kita ucapkan itu tidak lebih dari dusta.

Kata-kata, kalimat, doa para pendusta… Kita. Ya, kita adalah pendusta, tidak pernah lelah berbohong. Kita, tidak pernah lelah membohongi diri kita sendiri. Karena itu hal paling mudah untuk dilakukan… Karena kita berpikir, dengan membohongi diri sendiri maka tidak perlu ada orang lain yang tersakiti. Dusta akan sakit hati, mengingkari rasa tersembunyi.

Dan pada akhirnya, ada masa ketika kita lelah dengan kata-kata. Seolah bisu mungkin bisa memberi sedikit ketenangan. Kata-kata yang sia-sia… Pada akhirnya tidak lagi bermakna.

Dan aku lelah berbicara pada segala hal yang hanya merasa, kepada segala jenis manusia yang lelah dengan pikirannya sendiri. Bahkan, mereka terlalu lelah untuk bertanya siapa diri mereka. Manusia-manusia yang menolak kemajuan teknologi dan menolak robotisasi, namun berlaku tak ubahnya mesin dan robot itu sendiri.

Manusia, bukan malaikat, juga bukan Tuhan. Kita selalu berharap… Berharap atas nama rasa lelah yang enggan kita akui. Lelah dengan segala perubahan. Lelah dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan hadir dari perubahan-perubahan. Lalu pada akhirnya kita bermain dengan kata-kata, dalam bentuk doa. Harap, sederet kalimat tanpa upaya.

Aku lelah berbicara kepadamu. Setelah jutaan, milyaran, trilyunan kata-kata sia-sia. Aku lelah dengamu, yang lelah dengan pikiranmu sendiri, tanpa upaya. Tanpa daya, bahkan untuk sekedar bertanya; kenapa.

Pada akhirnya, aku meminimalkan bahasa… Dan aku tidak berharap pemahaman itu akan bertambah. Karena tidak ada satupun manusia yang dapat menolong orang lain dengan sesungguhnya, kecuali dia sendiri.

Help yourself. Think. Ask. Moving forward. Don’t stop. Just help yourself first.

__________

Selatan Jakarta

8 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s