Time Goes By

Intro: Just an old post to repost. I keep my memory, the best and the worst. Being something from nothing. Then here I am, after I speak this silent mind years ago. 

Kadang saya merasa kalau konsep berpikir dan sikap saya terlalu keras, bukan hanya secara internal tapi juga eksternal. I don’t even care if one of my best friend doesn’t come again since I’m coming back home around these 5 months. So this is my diary, my lost story, my personal sense.

Jujur saja, bukannya saya tidak pernah merindukan masa-masa saat bersama teman-teman lama saya. Dan kalau harus benar-benar jujur, bukannya saya tidak mau bertemu dengan mereka. Kami ada di kota yang sama, kota kecil yang semua jarak adalah dekat. But I must commit on what I said. I hate every inconsistency, even it’s mine. So this is what I choose, run alone and no way back.

Berteman dengan orang-orang rasis memang bukan hal yang menyenangkan bagi seorang xenocentrist. Begitu juga sebaliknya. Seorang xenocentrist dianggap terlalu liberal, bahkan sekuler. Wajar. Tiap orang punya pola pikir dan cara memandang yang berbeda-beda.

Just like what I do, named my this blogsite ‘random uncategorized, my personal sense’. All I am, from my point of view. My blogsite is not a copy paste blogsite, it’s purely my opinion and based on my personal mind. I don’t even try to make money from all my writings. I don’t care. This is my hobby, my personal sense.

Biasanya, setiap kali ada libur, salah satu teman saya selalu menyempatkan untuk pulang kerumahnya, yang tidak terlalu jauh dari rumah saya. Kami bertemu, ngobrol sambil ngopi atau sekedar jalan-jalan keliling kota kami yang kecil. Saya yang bertanya apakah dia pulang atau tidak, atau dia yang memberi kabar pukul berapa dia pulang. It was.

Saya tidak pernah sekalipun menyesal meluangkan waktu untuk teman-teman saya, kapanpun, dimanapun. Hujan badai, tengah malam sekalipun saya akan datang. It doesn’t matter. Apa sih yang ngga kalau buat teman, apalagi teman dekat… But finally I ask about who I am; ‘what are you to me’? Siapa saya untuk teman saya…

Dulu, saya pernah sering datang kerumah seorang teman yang sudah memiliki kehidupan yang mapan. Datang cuma untuk pinjam komputer, lengkap dengan akses internetnya. Tapi itu bukan tujuan utama.

Apa alasan kita datang ke seseorang yang kita sebut sebagai teman, kalau bukan untuk bertemu sebagai seorang teman? Bukan kita datang, lalu orang yang kita sebut teman itu tidur dan membiarkan kita memakai komputernya sampai bosan. Lalu membangunkan orang yang kita sebut teman saat bosan itu datang, lalu pulang begitu saja.

Dan saya bosan.
Bosan dengan kehidupan pertemanan yang semua dinilai dari materi…
“Kamu ngga punya uang? Butuh berapa? Berapa nomor rekeningmu, nanti kutransfer”,
“Kalau mau internetan, datang aja kerumah jam 10 malam nanti… Aku masih pake komputernya. Kalau aku udah selesai, pake aja… Aku mau tidur”.

Dan saya bosan…
“Sori nih, ga bisa pergi… Temenku ngajakin chatting di fesbuk”,
“Lain kali aja lah… Kamu kesini aja dulu, aku masih chatting sama temenku”,
“Males keluar… Kamu aja yang kerumahku. Aku lagi chatting sambil nungguin download”,
“Aku ngga ada motor… Kamu kesini aja, aku udah ga pake komputer kalo kamu mau pake… Aku mau tidur”.

But it was.

And I will never come back.

Not even online.

Not on phone calls.

Nor on text messages

Neither on WhatsApp and Yahoo! Messenger.

I blocked my own friend with no mercy.

Graceless.

Dan rasisme ternyata bukan cuma soal perbedaan ras, suku, agama dan kepercayaan… Tapi juga gadget.
“Pin BB lu berapa?”,
“Gabung aja di grup BBM, kita ngobrol bareng”,
“Kok lu ngga pake BB sih?! Gimana mo bisa dihubungi?!”.
Ya maap… Saya memang sudah tidak pakai BlackBerry… Email dan WhatsApp saja. Telpon atau SMS, atau Yahoo! Messenger.

Apakah saya harus menyesal? Sebenarnya tidak. Apa yang perlu saya sesali? Nothing but useless.

Saya memang tidak semampu mayoritas teman-teman lama saya. Pekerjaan saya pun tidak bergengsi seperti mereka… Saya cuma pergi ngantor dengan kaos oblong dan celana jeans, kadang malah celana jeans pendek selutut plus sepatu sandal model ‘Crocs’ bajakan, mengawasi beberapa bawahan dan memburu tim marketing untuk cepat menyelesaikan transaksi, closing.

Saya tidak memakai seragam, sekalipun ada. Saya tidak suka memakai sepatu, apalagi jas sekalipun saya punya. Karena pekerjaan saya memang tidak membutuhkan itu. And I don’t care about what and how much I get. I do it because I like to do it. My destiny, to give my skills, to keep the trust I’ve received. I’m recruited because my leader trust me.

And so, apa semua harus berakhir hanya karena kita sudah tidak sama? Apa saya salah kalau ternyata mayoritas teman dekat saya bermata sipit dan tidak pernah mempertanyakan apa agama dan keyakinan temannya, dan apa saya salah kalau ternyata saya lebih suka bersama mereka? Yang menggunakan berbagai macam jenis dan merek gadget tapi tidak pernah bertanya, “Noe, pin BB lu piro?”.

Teknologi tidak pernah diciptakan sebagai kesalahan. Dan Facebook tidak pernah ditujukan untuk memisahkan dua orang teman dekat untuk jadi jauh, dan tidak saling kenal dalam kehidupan nyata. BlackBerry Messenger juga tidak pernah diciptakan untuk mengkotak-kotakkan pertemanan… Have no BlackBerry device? So, you’re no longer my friend.

Semua produk IT cuma jadi bumerang di tangan mereka yang tidak mampu membedakan mana teman offline dan mana teman online. Rasisme bentuk baru… Different device means nomore friendship. Sedangkan saya dan beberapa teman dekat saya yang ‘connected’ justru menggunakan berbagai perangkat dan merek berbeda.

So, is this what we called friendship? What’s kind of friendship… Kalau beda operator lalu tidak mau menelpon, beda perangkat seolah sudah jadi kiamat.

Saya bahkan belum pernah bertemu dengan seorang teman di Semarang, yang awal pertemuan kami 2-3 tahun lalu di sebuah grup di Facebook. Kami menggunakan perangkat dan merek yang berbeda, tapi tetap berteman dan saling berbagi informasi sampai sekarang.

Orang bilang belanja online tidak aman? Teman yang belum pernah saya temui ini justru sudah beberapa kali mengirimi saya barang pesanan yang pembayarannya transfer via ATM. We never meet each other until I write this. Sama seperti halnya dengan seorang teman di Seoul yang lahir dan besar disana, dan tidak bisa berbahasa Indonesia, dan saya tidak bisa berbahasa Korea. We use email, and tell our story in English.

Teknologi memang mendekatkan yang jauh, mengenalkan mereka yang tidak saling kenal sebelumnya. Saya hanya tahu Mice Misrad seorang kartunis, yang punya banyak penggemar dan mungkin tidak punya waktu menyapa apalagi mengenal mereka satu persatu. But it was surprise when he remember and know me, sent me a private message that he read my writing about his book, remember who I am when I order his new book early this month.

Tapi teknologi kadang juga memisahkan mereka yang pernah dekat. Dulu saya sering jalan-jalan dengan keponakan saya, mengiriminya SMS sebelum datang kerumah orang tuanya. Tapi sudah tidak, sejak SMS hampir tidak dibalas. Karena beda perangkat… Begitu juga dengan beberapa teman yang menganggap kalau komunikasi hanya bisa terjadi kalau menggunakan jenis dan merek perangkat yang sama, dan memakai operator seluler yang juga sama.

Time goes by…
Mungkin ini hanya persepsi saya saja, dan bisa saja salah. It’s just my personal sense, my personal point of view.

Dan juga karena kesibukan, faktor pekerjaan dan usia yang kata mereka sudah tidak muda, sudah banyak yang berkeluarga, hampir tidak punya waktu untuk mereka yang disebutnya teman. Tidak ada yang salah. Cuma keadaan sudah berubah, dan apa yang dulu pernah ada sudah tidak tepat lagi untuk saat ini.

Do I miss you? Yes.
But time goes by and I don’t like to break my own commitment… I will never come back to any place whichis uncomfortable to me. Not even it was so nice. I’m not going to buy my friends, and I’ll never rent you to be my friends. No longer begging just to meet people named themselves as friends.
Time goes by, that’s all.

_____
Original: Balikpapan, 14-15 Oktober
Revisi: Jakarta, 28 April 2017
Originally made on my Xperia™ smartphone from Sony®, Powered by sinyal kuat Indosat®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s