Tell Me A Lie; A Nice Story

Kadang jauh lebih mudah membohongi orang lain ketimbang membohongi diri sendiri. Tapi, ngga semua orang bisa dibohongi… Entah karena orang itu punya the sixth sense diatas rata-rata, atau seseorang yang punya hubungan dekat dengan kita. My story, my personal sense when my friend said that I’m not look okay.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyebut seseorang sebagai teman? Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun? Atau mungkin cukup beberapa jam atau bahkan beberapa menit setelah perkenalan? Waktu itu relatif. Friendship is not about time, it’s about feeling and emotion, a strong unseen connection.

Ngga semua orang yang kita kenal bisa disebut teman, begitu juga sebaliknya… Ngga semua orang yang kita kenal menganggap kita sebagai temannya. Karena kita terlalu suka mengaku-aku… Mengakui apa yang bukan milik kita. Ironisnya, saya pun sering melakukannya.

Tapi toh itu wajar, karena kita manusia memang makhluk sosial yang ngga bisa lepas dari orang lain. Dan orang yang sudah bertahun-tahun mengenal saya, duduk tepat didepan saya beberapa jam yang lalu bilang; “Ada masalah apa?”. Damn! I’m a joker, born with a poker face. But I can never tell a lie to people I named friend.

Seandainya kami cuma teman ala kadarnya yang cuma tau nama panggilan, mungkin saya tetap bisa sukses memainkan peran sebagai joker. A clown shouldn’t look sad… And a joker may not cry. Apa gunanya poker face kalau menyembunyikan yang ngga bisa dilihat aja ga bisa… So I tell the story to my friend, but not all the story. I keep the secret as it should.

Tapi bercerita memang ngga menyelesaikan masalah. Satu-satunya tujuan bercerita adalah melepaskan apa yang seharusnya dilepaskan. Lega? Ngga juga. But at least there’s another person that understand that I’m not okay. Dan ngga ada kata lain selain terima kasih udah jadi teman yang baik selama lebih dari 10 tahun ini. Tanpa komplain, tanpa interupsi dan tanpa intervensi.

Tell me a lie… Tell me a nice story.

Dan seorang teman yang jauh di ujung pulau Jawa seolah ngga peduli dengan apa yang saya ceritakan. Bukan ngga peduli… Itu triknya. Trik yang juga saya tau. Gimana ngga tau kalau trik itu sering diceritakan oleh coach kami dalam workshop yang sering kami lakukan… Cukup ampuh. Meski terlihat tolol… Kembali mempertanyakan warna rombong mie ayam setelah hampir sebulan ngga dipersoalkan.

Saya pikir saya sudah merdeka dari pertanyaan itu… Sampai teman saya bilang; “Bang, jok lali soal rombong mie ayam… Wes suwe nda dibahas” (Bang, maksudnya abang, jangan lupa soal rombong mie ayam… Udah lama ngga dibahas). Pret!!! Seperti ngga ada pertanyaan lain. But, yes, it’s fun. Punya teman-teman aneh yang justru menjadikan hidup ngga berasa aneh. Lelucon-lelucon spontan yang konyol dan kadang tolol. Teman-teman yang berserakan dimana-mana…

A poker face friend looks like a twin for me. Dan itu juga yang selalu dikatakannya; “Duh, duduk didepanmu kayak lagi bercermin!”. So, apa yang hilang? Ngga ada. Karena hal itu memang ga pernah ada. Ngga pernah datang, juga ga pernah kemana-mana.

But I can never lie to myself, and I can never recycle the feel I felt. Cuma butuh waktu untuk sendiri, sekedar cuti menjadi badut… A clown may not look sad, so he must escape when he feel not okay. Just tell me a lie… A nice story before goodbye.

__________

Balikpapan, 2 Desember 2013, malam.

Jakarta, 2 Mei 2017, malam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s