What I’ve Done


“Kadang, kita perlu waktu buat sendirian”.

Itu celetukan teman gue, 16 tahun lalu. Kata-kata yang masih aja gue ingat sebagai kalimat sakti ketika gue merasa benar-benar membutuhkan seorang teman.

No one can run alone, but sometime we need to be alone; to think, to introspect, to review. Seperti lagu lamanya Linkin Park… What I’ve Done. Atau, cuma sekedar untuk recharge… Hal yang cuma bisa kita lakuin sendiri; a self healing.

Mestinya tadi gue balik ke kantor buat nyelesein terlalu banyak kerjaan yang gue tinggalin. Bukannya malah nongkrong disebuah coffeeshop di salah satu sudut Sarinah bareng Admin lama gue, yang sekarang udah jadi orang kepercayaan di sebuah perusahaan multi nasional.

Mestinya gue juga gak ninggalin bos gue yang tetap balik ke kantor via busway… Dengan alasan gue mau ketemu sama karyawan, padahal cuma nongkrong santai sambil ngopi dan ngitung pajak dari pendapatan yang kami terima.

So nonsense… Kita cuma tertarik dengan apa yang menyangkut kehidupan kita.

Atau, mestinya sekarang gue tidur. Istirahat. Bukannya malah bikin kopi lalu ngejogrok di pinggiran kasur sambil ketak ketik begini…

Mestinya gue ngetik draft SOP yang tadi pagi dengan semangatnya gue sampaikan ke bos gue, atau ngetik hasil meeting seharian dengan klien. Mestinya gue baca copy UU Ketenagakerjaan yang kemarin udah gue print dengan lagak sok penting abis assesment yang bakal menentukan nasib gue…

Bukannya nongkrongin blog gue sendiri sambil streaming di Spotify ngabisin kuota dan bikin tambahan tagihan di kartu kredit yang gak lunas-lunas.

Kita selalu bicara hal-hal yang ideal. Kita selalu menginginkan segala sesuatu berjalan dengan ideal. Kita, yang tanpa sadar adalah para idealis tapi menolak untuk disebut sebagai idealis. Dan kita, yang selalu berusaha untuk objektif seolah lupa bahwa setiap individu adalah subjek. Kita yang menginginkan keadilan. But we never be fair… Even to be fair to ourself.

Gue lelah, gue perlu istirahat, gue perlu piknik. Gue perlu sesekali menghabiskan duit gue yang udah pas-pasan untuk sesuatu yang benernya useless, tapi bisa bikin gue puas… Pesan berbagai menu tanpa buka dan bahkan tanpa melirik buku menunya. Just to proove that I am an expert guest.

Meski… Beberapa hari lagi gue bakal menyesal ketika dompet gue kosong, saldo rekening gue juga udah gak bersahabat, dan gue cuma merasa aplikasi-aplikasi m-banking di hape gue useless cuma menyita ROM yang udah sesak, dan recehan-recehan di toples bekas wafer gue jumlahnya udah gak bisa menyelamatkan diri gue.

Whatever. I’m too tired to lie to myself. Karena sebagai seorang introvert beraliran individualis, gue gak gitu peduli dengan pandangan orang lain terhadap gue. All what I care about is myself.

Gue mengecewakan diri gue sendiri, dan gue harus menebus kesalahan diri gue sendiri. Bukan buat siapa-siapa… Buat gue. Seperti gue bilang ke Psikolog dari UI yang kemarin menginterview gue; “Saya ngga peduli dengan orang lain, Mbak… Saya buat tools itu bukan untuk mereka. Tools itu buat saya, untuk memudahkan pekerjaan saya, meski memang akhirnya saya share ke mereka dan digunakan”.

Gue terlalu malas buat bilang kalo gue mempermudah kerjaan orang lain, karena faktanya segala yang gue ciptakan awalnya memang untuk mempermudah gue.

Ketika lu ditinggal begitu aja, tanpa pernah dikasih petunjuk, tapi ada banyak hal yang harus lu beresin dan cuma elu satu-satunya tersisa, dan lu harus bertahan untuk bikin hidup lu terus berjalan, apa yang bakal lu lakuin? Make it easy. 

Manusia itu mahkluk pemalas… Kita selalu berusaha menciptakan teknologi; ide dan alatnya, untuk mempermudah hidup kita. Karena monitor dan CPU terlalu berat buat kita bawa-bawa dan perlu arus listrik, kita menciptakan laptop.

Bahkan, ketika laptop masih dirasa berat, kita menciptakan hape dan aplikasi buat kerja dari hape. Dan ketika bolak balik ngeluarin atau selalu megangin hape dirasa ribet, kita ciptakan smartwatch dan headset yang semua wireless. Tanpa perlu menyentuh hape.


I just trying to be honest to myself. Not for you.

Membohongi orang lain selalu lebih mudah dan selalu lebih menyenangkan ketimbang membohongi diri sendiri. Kita bisa dengan cepat dan mudah melupakan kalo kita udah berbohong ke orang lain.

Karena ada masa dimana ketika kebohongan-kebohongan itu dengan sangat mudah dimaafkan oleh orang lain, baik secara gratis waktu lebaran atau lewat pengadilan. Dengan secangkir kopi dan seporsi cemilan, dengan jabat tangan dan senyum yang dibuat menawan.

As my childhood taught me like an anonymous, so I like their quoute; “We are anonymous. We are Legion. We do not forgive We do not forget. Expect us”. So I do not forgive, I do not forget, I’m a soldier of myself, I expect myself.

Atau mungkin gue yang terlalu perfeksionis… Entah. Gue bukan perfeksionis. Gue cuma terlalu risih dengan ketidaksinkronan. Between my mind, my feeling, my words, my act. Because I have nothing but my words. Karena gak ada yang bisa gue bawa-bawa… Nama keluarga? Keluarga gue udah gak ada. I’m an orphan.

Seperti kata teman gue, kadang kita perlu waktu buat sendirian. Buat menginterview diri kita sendiri. What I’ve done. What I am searching for. What I am fighting for. Is it worth enough to run or is it no longer worth to fight.

Adakalanya gue merasa ngga lebih seperti seorang pelacur… Yang ngelakuin sesuatu cuma karena gue harus bertahan hidup, tanpa menikmati apa yang gue lakuin, tanpa tau apakah yang gue lakuin ini benar atau salah. Dibayar karena gue ngelakuin sesuatu untuk muasin orang lain. But on the other side, I feel guilty. Sometime I feel useless after all.

If I am your enemy, I’ll do my best to be your honest enemy rather be your fake friend. Hate me for who I am, don’t love me for what I am not.
__________

Selatan Jakarta, 10 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s