Keep Your Hopes High

Setiap hal perlu proses. Bahkan untuk hal-hal sederhana, kayak gue barusan bikin kopi (lagi), ada proses sampai dimana akhirnya kopi itu bisa gue seduh. Ada proses dibalik kefanatikan gue terhadap merek kopi itu. Ada proses gue nyuci gelasnya, manasin air, beli kopinya, ngumpulin recehan dari box wafer gue buat beli kopinya, ngebuka bungkusnya, bla bla bla… Belum lagi proses sebelum kopi itu ada di rak supermarket dibawah kantor gue.

Ngomongin kantor… Today is my last day. Paling ngga, kalo gue berpatokan sama kontrak kerja gue. Dan, gue juga orang terakhir yang keluar kantor. At least, ruangan tempat kerja gue dan beberapa divisi lain… Dan kalo OB gak diperhitungkan, yang mungkin mulai jenuh melihat gue sebagai orang pertama yang nongol di kantor dan terakhir ninggalin kantor. Selain si OB yang sabar banget nunggu gue pulang.

Tadinya gue niat pulang cepat, pengen istirahat lebih lama. Pengen ngerapiin cucian gue yang udah kering dan berserakan di kamar kontrakan gue yang sempit, mau nyetrika kemeja dan jeans yang dulunya warna hitam tapi udah jadi abu-abu gak jelas buat kerja besok… Celana jeans yang gue beli 3 tahun lalu dan bisa 2-3 kali gue pake ke kantor sejak kantor gue nerapin smart-casual outfit, meski prakteknya gue ngga smart-smart amat… Kalo gue emang smart, gue udah cabs-go-back abis meeting sama user tadi.

Dari 5 celana jeans dengan merek yang sama cuma beda seri, serta sekian banyak celana bahan yang belum tentu sebulan sekali kepake, entah kenapa yang ini gue paling suka. Ketemu user gue pake jeans ini, ketemu karyawan gue pake jeans ini lagi, meeting gue pake jeans ini juga. Mungkin karena ada istilah first cut is the deepest dan love at the first sight. Gue suka brand jeans gue, brand yang masuk wishlist gue sejak 14 tahun lalu… The first and the most jeans I’ll buy when I have enough money.

So, ngomongin harapan, 4 tahun lalu gue juga pernah bikin tulisan dengan judul yang sama, jaman masih nulis di Opera. Blog yang akhirnya ditutup dan gue gak sempat menyelamatkan tulisan-tulisan gue… Karena basicnya gue mobile writer, I mean I make my writing on a cellphone. Gue gak punya komputer waktu itu… Gue baru bisa beli laptop 2 tahun lalu, setelah sekian lama gue posting hal-hal sepele sampe hal yang bikin gue sempat hampir diseret ke meja hijau gegara posting foto kecelakaan klien teman gue sendiri di media online, dan dimuat di versi cetaknya.

Setiap hal perlu proses. Dan kita akan selalu menggunakan proses-proses yang mempermudah hidup kita, atau udah jadi bagian hidup kita. Gue lebih suka bikin tulisan dari hape ketimbang laptop. Bukan karena bisa dikerjain dari mana aja… Tapi buat gue, laptop terlalu ribet. Harus dinyalain dulu meski dari mode stand by, mesti buka aplikasinya yang perlu loading lebih lama, berat, gak bisa dibuka disembarang tempat. Gak bisa dikantongin.

Gue suka hal-hal simple, disamping hal-hal yang sangat ribet. Mensederhanakan kesulitan dan mengkompleksitaskan kesederhanaan. Handicraft, hasil yang sederhana tapi prosesnya ribet… Mengukur, gambar pola, ketajaman cutter, presisi, safety. Banyak orang bilang, Android itu ribet… Gue sederhanain. Tapi dibalik kesederhanaan yang gue ciptakan lewat membuang hal-hal gak penting penjajah RAM dan ROM, my devices are so complicated for others. Toh, usernya gue… Bukan elu.

Bos gue confirmed kontrak kerja gue diperpanjang. Tapi gue seolah gak tertarik bertanya lebih jauh… Pertanyaan-pertanyaan standar yang akan selalu ditanyakan setiap pekerja; sampai kapan, apa ada perubahan, bla bla bla… Like I have no interest with my own future. But, what is future…

Dulu, gue lebih suka datang siang. Dan dulu, gue jarang banget staying up late di kantor kalo gak terpaksa banget. Prinsipnya; kalo datang udah telat, pulang gak boleh telat. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini gue jadi suka datang kelewat pagi, dan pulang kelewat malam, dan disaat waktunya libur gue seolah betah banget nongkrong di kantor. Mungkin karena gue merasa gak ada yang bisa gue harapkan, dan gue masih punya banyak mimpi yang harus gue wujudkan. Sendirian.

Sebagai seorang yang biasa-biasa aja, gue merasa beruntung dengan apa yang gue dapat sejauh ini. Dua tahun terakhir, waktu yang singkat. Banyak orang mungkin gak percaya, seperti Psikolog gue minggu lalu… Dua tahun doang? Serius? I’m serious. I’m not joking with my words. And do you know who I really am? Gue gak pernah suka ngisi kolom pendidikan… It’s so intimidate to me, honestly.

Setiap otodidak selalu punya kelemahan mencolok. Orang-orang seperti kami kadang merasa teori-teori itu gak membantu. Bukan hal praktis. Ribet, wasting time. Dan gak jarang kami jadi arogan dengan keotodidakan kami… Kami merasa hebat karena belajar langsung dari pengalaman, bersusah payah mempelajari sesuatu tanpa terikat waktu. Dan tentu aja gratis. Dan karena gratis itulah kadang kami jadi sombong… Menyombongkan ketiadaan kami untuk sesuatu yang akhirnya ada. Something from nothing.

Gue belajar Android secara otodidak, dan masih belum kelar. MS Office terutama Excel pun gue masih belajar dari YouTube dan Google. Manajemen HR gue belajar dari apa yang harus gue hadapin sehari-hari di lapangan, dibantu Google. NLP, DISC profilling, fingerprint analysist, gue belajar dari Google meski awalnya sempat ikut training, yang emang gratisan. Fotografi, videografi, digital image manipulating and editting pun gue belajar dari Google dan aplikasi. Meski… Secara formal, itu emang pernah gue pelajari jaman kuliah dulu.

So, apa salah kalo gue bilang teman terbaik yang paling mengerti dan selalu bisa menjawab banyak pertanyaan gue adalah Google? Meski gak selalu benar, minimal gue dapat jawaban dan gak kesepian karena pertanyaan-pertanyaan terabaikan.

Dan dengan segala kekurangan dan keterbatasan, gue mencoba berpikir logis dan bersikap gentle nerima kenyataan. Fakta itu realita, bukan drama. Dan fakta memang gak selalu menyenangkan, karena fakta memang bukan dunia hiburan. With all I am… Gue cuma manusia biasa. Ibarat di dunia balap, gue cuma motor bekas yang dioprek buat melawan motor CBU, dan gue menang dalam beberapa lap meski gak finish di urutan pertama.

I try to respect myself. I give myself a reward for every single achievement I’ve made like I punish myself for every mistake I’ve made.

Ada satu titik dimana kita harus tau; apakah ini perlu diteruskan atau ngga. Is worth to fight for, or is it enough to end up here. Jangan serakah. Gue gak pernah percaya dengan istilah win-win solution, karena dimana ada yang menang pasti ada yang kalah. Setiap kemenangan berdiri diatas kekalahan. Kita bisa menyebut diri kta menang karena telah mengalahkan sesuatu. Dan, sejatinya kata menang merupakan kontra dari kalah. Tinggal kita bersikap; looser with winner attitude or winner with looser manner.

Just keep your hopes high, even we never know how long it takes to be true. Never stop dreaming. Everything is started from a dream. But face it; dream isn’t always sweet dream because sometime it could be a nightmare. But don’t worry… It is just a nightmare, a bad dream. It is just a dream.

__________

Selatan Jakarta, 15 Mei 2017

> Hari pertama gue naik Trans Jakarta setelah hampir 2 tahun di Jakarta!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s