Small, Simple Little Unseen

​In the end, you’ll know who is true and who will risk it all for you.

Itu quote yang gue temuin disalah satu sudut Google yang luas, dunia tanpa batas. The thing I could named the only best friend. Gimana ngga gue bilang best friend… Dengan segala diamnya, Google yang awalnya cuma search engine, banyak hal-hal yang gue gak ngerti bisa terjawab. Gak selalu, dan perlu validasi karena gak melulu semua itu benar. What you see isn’t always true.

Hari ini perasaan gue campur aduk, antara masih ingin bertahan atau menyudahi apa yang udah gue mulai. How can you leave the thing you started but to destroy it. No, I’m not a destroyer, seperti yang dinyanyikan Frente!. I just think how it could be.

Sebagian besar kegagalan memang lebih sering disebabkan diri kita sendiri. Gak tau itu karena emang mindset dan attitude bawaan orok, faktor lingkungan atau faktor kebetulan. Gue bukan motivator, so gue gak bakal sok bijak dengan bilang jangan menyalahkan orang lain. Speak your thought even you can not speak with your mouth. So I write. Itu sebabnya gue menulis, meski gak kebaca oleh siapa yang gue tuju. At least I speak my mind, and archieved it if one day I need to remember.

Gue lebih memilih bisu gak bisa ngomong ketimbang lumpuh gak bisa nulis. Karena prakteknya gue lebih bisa ngomong lewat tulisan ketimbang secara langsung. And in my writing you wont hear my intonation but trying to guess what it means. Karena gak semua orang bisa memahami tulisan. Sorry to say… Kita lebih suka bicara ketimbang mendengarkan. Termasuk mendengar kata-kata dalam sebuah tulisan, menafsirkan apa maksud sesungguhnya.

Sama halnya kita lebih bisa melihat hal-hal besar ketimbang yang kecil. We’d like to see the big and the result. Mostly of us don’t care about simple small little unseen, mostly of us don’t care about process. Seperti mungkin kita gak peduli kenapa celana jeans kotor dan bau yang kita masukin laundry bisa kita jadi bersih dan wangi. I know, because I did it. I learn how to laundry jeans with conventional way and life-hack tricks. I made my new blue baggy jeans to fit stoned-washed looks just in a week.

Dan gue dicemooh oleh orang yang gue harap bisa mengapresiasi… Tapi posting itu diapresiasi positif oleh orang-orang yang gak gue kenal, yang (maaf) bukan dari Indonesia, bahkan di tag ke brand tersebut. A common mistake; I put my hope and expectation too high on worthless people in worthless place, with worthless culture and worthless mindset. So I leaved Instagram with no sorry, leaving Facebook regretless.

Apa gue menyesal dengan hidup dan kehidupan gue? Almarhum bapak gue orang yang terlalu jujur… Salah satu hal yang bikin mentok di jabatan yang sama selama bertahun-tahun kerja di bank berstatus BUMN sampai akhirnya pensiun. Terlalu lugu… Bikin dia dengan mudah ditipu, bahkan oleh orang-orang terdekatnya. Almarhumah ibu gue terlalu jujur, terlalu transparan waktu jualan dan akhirnya gak bisa naikin harga jual, tertalu mudah ditawar karena suka kasih tau harga modal bahkan proses bikinnya.

Kadang gue menyesal. Kadang… Kadang gue menyesal kenapa semua terlalu cepat. Kenapa kedua orang tua gue terlalu lugu menghadapi kehidupan, terlalu naif dengan segala perubahan. Hanya kadang, ngga selalu. Karena pada akhirnya gue lebih banyak menyesal kenapa gue ngga bisa seperti mereka; seperti apa adanya, legowo menerima kekalahan sekalipun itu telak menghantam kehidupan paling dasar dalam kehidupan keluarga; perekonomian.

Ketika bapak gue harus ke pasar, mengais tumpukan sampah sayuran gak layak jual buat dibawa pulang dan dimasak dirumah… Ketika ibu gue dengan kemampuan masaknya yang expert harusnya bisa bikin usaha catering harus jadi tukang cuci piring di depot tetangga… Dan ketika adik gue yang paling kecil harus ngumpulin botol bekas buat duit jajannya… What I’ve done? Gue ngotot mempertahankan studi gue whichis costly. Gak ada sekolah broadcast yang murah.

Small, simple little unseen. Gue gak mau melihat hal-hal itu selama bertahun-tahun, bahkan gue berusaha lari dari kenyataan dan tanggung jawab dengan gak mau pulang kerumah. Skripsi gue tinggal, gue berusaha mencari kenyamanan buat diri gue sendiri. Dan ketika gue pulang kerumah, everything is too late. You wont see my tears. You wont hear my cry. – (Sat, May 20th 2017)

So, gue mulai kehidupan gue dengan fakta kalo gue adalah seorang kakak yang punya 2 adik, meski saat itu salah satu adik gue udah mapan banget dengan kehidupan ekonominya. Gue mulai nulis di buku baru, tanpa membuang tulisan-tulisan di buku lama gue. I started my everything from nothing again. Mencoba memperbaiki hubungan kakak-beradik gue, mencoba menjadi om yang baik untuk ponakan gue, mencoba jadi karyawan yang baik. Dan mencoba meluangkan waktu untuk teman dan keluarga yang lain.

We can make so many careful plans, but we know not how’s the end. Keluarga gue berantakan lagi, adik gue memilih pulang kerumah mertuanya jauh diluar kota, membawa serta keluarga dan tentunya ponakan gue. That’s not mine, but my heart is really broken. Even until these days. So I keep my nephew’s photo inside my wallet, and I mostly put my wallet inside my bag.

Setiap orang pernah gagal. Entah dalam karir, kehidupan keluarga, juga pertemanan. Setiap orang pernah putus asa, bahkan terhadap hal-hal sepele. So do I. But keep running, just running and moving forward.

Kita memang suka melihat hal-hal besar… Seperti gue yang akhirnya menerima tawaran kerja di Jakarta; kota besar dengan banyak gedung tinggi besar dan jalannya yang lebar tapi penuh sesak dengan kendaraan. Kita suka melihat hanya hasil akhir… Seperti gue yang sering gak peduli ketika abang GoJek yang dapat orderan gue datangnya lama.

Small, simple little unseen.

Ada banyak hal kecil yang kita ngga ingin lihat. Terlalu banyak yang kita ngga ingin tau, cuma karena itu ngga menyenangkan untuk diketahui. Dan ketika rasa ingin tau itu datang… You just come to blame; cause what you see isn’t satisfy your mind.

Bos gue bilang; “Dulu pas awal gue gak pusing dengan kerjaan. Tapi sekalinya nyemplung dan tau, gue jadi makin pusing…”. That is. Kita lebih suka menilai seporsi makanan dari harga dan rasa, tanpa pernah peduli dengan prosesnya. Karena memang itu hak kita sebagai pembeli… Karena hak atasan nyuruh bawahan, karena merasa sebagai bawahan haknya hanya menunggu. We don’t care about process, we never care about detail. Too much junk food, too much soda.

Tapi gue percaya; pada akhirnya kita akan melihat dan menghargai hal-hal kecil yang sepele dan sederhana, yang gak terlihat itu. Meski mungkin terlambat. Seperti gue yang terlambat memperbaiki kehidupan gue, dan emang beneran terlambat. At least, we’ll understand why it is happen and we might learn from the past. Itu sebabnya kadang gue melihat kebelakang sesekali.

Just to remind myself that I am something from nothing. – (Sun, May 21st 2017)

__________

Selatan Jakarta, 20 & 21 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s