Someone Like You

​Nobody’s perfect. But every single of us like to behave perfectly by looking for others mistakes.

Gue bilang ke teman gue kalo mungkin gue lagi di titik jenuh hidup gue. Setiap orang pernah gagal. Setiap orang punya rasa takutnya sendiri-sendiri. Dan didalam bus TransJakarta dari Warung Jati ke Monas via Mampang-Kuningan yang you know how’s the traffic after working hours, gue coba mikir lagi… What is my fear about.

Jakarta mendung, dari pagi. Mendung yang identik dengan warna abu-abu, awan kelabu. Segaris dengan rasa takut yang sedang berpikir apakah ini akan menjadi hitam lalu menumpahkan hujan untuk meredakan rasa takut itu, atau memutih cerah sebagai optimis yang hangat. But never ask the weather. Don’t talk about weather.

Nobody’s perfect. Tapi dengan segala ketidaksempurnaan itu, kita selalu ingin sesuatu yang lebih. Like I always say in my writings; it’s easier to lie. Lebih mudah berbohong, apalagi membohongi orang lain. Juga, selalu lebih mudah dan entah kenapa bagi terlalu banyak orang, lebih menyenangkan mencari dan melihat sedikit kesalahan ketimbang banyak kebaikan yang berceceran dan akhirnya terlupakan.

Itu sebabnya gue ninggalin Facebook, sosmed paling mainstream dengan hoax bertebaran yang bagi gue udah kronis, dan gue give up dengan bulliying di dunia maya yang tanpa identitas… Berlomba jadi paling suci, paling peduli. Kepedulian fiktif dimana mayoritas orang bisa menjadi anonim.

Gue pun perlahan mulai apatis dengan segala yang tanpa bentuk, dunia maya yang absurd. Karena esensi pesannya gak pernah nyampe, dibalik keaktifan dan kebisingan yang mendadak sangat pasif di kenyataan. How can I trust you? Mungkin karena memukul orang dari belakang lebih menyenangkan ketimbang berhadapan, face to face. Dimana kita bisa lari sebelum orang yang kita pukul menoleh.

So, apa yang mau gue katakan? Akhirnya gue merasa kata-kata verbal adalah kesiaan… Gak lebih seperti tumpukan barang obralan yang dijual murah. Atau mungkin gue aja yang terlalu terdoktrin dengan tagline sebuah iklan asuransi… Karena kanya dengan mendengarkan, kita bisa lebih memahami.

Tepat seminggu lalu gue datang ke seorang teman. Teman lama, mantan bos gue di kantor lama. Gue lebih menganggap pertemuan itu sebagai interview, dimana gue merasa menjadi orang yang dibutuhkan, meski pada dasarnya gue yang membutuhkan. So I offer to sell myself again. Karena hal pertama yang harus bisa dilakukan setiap orang untuk bertahan adalah menjual… Menjual diri, mempromosikan dirinya sendiri. No one can save yourself but you.

Why am I coming? Why I do that, in my current position that’s not easy steps to get it in. Dengan background pendidikan gue, latar belakang kehidupan gue… Ini Indonesia, dimana pendidikan adalah segalanya, sekaligus bukan satu jaminan kepastian. Ini Indonesia, dimana selembar ijazah jauh lebih berharga dibandingkan pengalaman.

Remember; this is Indonesia where certificate is always first class rather than experience. Mungkin karena dulu kita terlalu lama dijajah Belanda, if you know what I mean.

Ada kalanya kita ngga mau disalahkan. Entah karena faktor memang kita benar, setengah benar, sedikit benar, pura-pura benar, atau benar-benar ngga benar. Karena pada dasarnya, dibalik jargon-jargon sok bijak yang bertebaran, kita cenderung menganggap orang lain salah. Secara naluriah, kita cenderung berpikir bahwasanya apa yang kita lakukan adalah benar.

Seperti memamerkan kesalahan dan atau penderitaan orang lain. Memviralkan hal-hal yang bakal mempopulerkan diri kita. Semua yang fiktif dan absurd… Meninggalkan jejak di segala bentuk dunia maya, biar eksis. No real action but just watching and commenting on our smartphone.

Kadang gue berpikir, apa gunanya komunikasi kalo akhirnya pesan itu gak nyampe. Cuma karena kita terlalu sibuk bicara, bicara, bicara dan bicara, dan bicara. Take a moment to watch. Take a moment to listen. Cuma karena teknologi semakin canggih, dan kita lebih banyak berinteraksi tanpa tatap muka. Maaf, tanpa perasaan… Tanpa pikiran.

Karena kita terlalu sibuk bicara, mengobral kata-kata, melumpuhkan beberapa indera lainnya. Kita ngga suka mendengar, kecuali hal-hal yang menyenangkan dan mendukung pemikiran kita. Kita ngga mau melihat, kecuali hal-hal yang menguntungkan kita.

Nobody’s perfect, but that’s a lie. Karena kita selalu suka melihat kesalahan dan memberitakannya besar-besaran atas dasar pembelajaran. But we never learn. We don’t like to learn but for a sheet of paper that we can show.

Perfeksionis di dunia ini hanya segelintir, meski sedikit lebih banyak dari orang-orang berjiwa pemimpin. Tapi tetap, orang-orang yang suka dengan zona nyaman yang paling banyak, mendominasi populasi manusia di bumi. Kami menyebutnya studi DISC; Dominance, Influence, Steadiness, Compliance.

Sama seperti studi psikologi lainnya, studi ini pun mengkotakan manusia menjadi beberapa kategori. Karena mayoritas penduduk dunia memang bertipikal Steadiness, yang suka bersosialisasi, gemar bicara, suka berkumpul.

Sorry to say; affraid of walking and being alone and don’t care about what is perfection. Selama selalu sama-sama, mereka bakal menikmati dunia… Without thinking it is right or wrong. Tipikal orang-orang yang mudah dipengaruhi, dan maaf… Mudah terprovokasi, meski yang memprovokasi bukan tipikal mereka.

Provocator is mostly combination between Influence and Dominance or Compliance. Steadiness is naturally born as follower, that’s why it is the biggest amount amongst us.

Kita selalu berpikir kalo kita udah melakukan hal-hal terbaik, terhebat. Then the question is; why you still here? A simple question. Haven’t you a passion to get more? Why you still do these? All simple questions.

Karena seperti gue bilang sebelumnya; mostly of us born as Steadiness, and naturllay born as follower. What a follower can do but wait? Even for a simple command. Even to think. Even to see. Even to speak out their mind. But follower can ask… Ask for what their need, not others.

No one can save yourself but you. And do not ever dream to give a help before you can help yourself. Seperti aturan dasar dalam penyelamatan diri yang selalu diulang para pramugari… Selamatkan diri anda dulu sebelum menyelamatkan orang lain. So, jangan jadi pahlawan kesiangan. Penjajahan era modern udah gak perlu pahlawan.

So I talk to myself, “Could I have someone like you?”, then myself answers me “No”. Every single of us born as ourself, not a clone of other. So I can not clone myself.

Ada satu titik dimana kita akan melihat kebelakang. Dan ada satu titik, dimana kita perlu berhenti… Menghitung jarak kedepan, melihat arah lain, atau bahkan berputar arah.

You decide, because no one can save yourself but you. And remember; never try to be a hero… Unless you can have no personal care about whatever will happen to yourself. A hero never paid. Help yourself.

__________

Selatan Jakarta, 30 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s