No One Like You

I see no passion. I see no effort. All what I find is just complain of something which’s so simple to solve. I see no answers, I see no help. All what I find is nomore than requirements with no clue, which’s too simple to give.

Dua tahun empat bulan, bisa jadi sangat singkat dan cepat, bisa juga menjadi sangat lama. It depends on what you see. Untuk urusan karir, waktu itu sangat cepat, something from nothing, from no one to someone. Tapi untuk beberapa hal lain, mungkin itu terlalu lama. Terlalu lama diam memendam perasaan, lalu tiba-tiba menghilang. 

Dalam dunia broadcast, entah radio, televisi, mapun media cetak, kontribusi terbesar dari sebuah profit datang dari silent reader, silent listener, atau penonton pasif. Mereka orang-orang pasif yang hanya mengamati dan menikmati, tapi kemudian pergi ketika apa yang terjadi sudah ngga menarik lagi. Jujur aja… Media hidup dari iklan. Sebuah stasiun radio ngga bakal dapat untung dari orang-orang yang rajin nelpon. 

So with social media. Bukan yang rajin mention dan selalu folbek yang ngasih keuntungan. Silent reader, silent follower. Apalagi di dunia jaman sekarang, sebuah identitas di sosial media jadi gak berarti tanpa follower.

Gue selalu merasa kalo gue adalah orang yang spesial, seperti setiap individu yang terlahir unik dan memang spesial. Disisi lain, gue juga merasa kalo gue juga manusia biasa, yang seperfeksionis apapun tetap aja ngga sempurna. Kehidupan memang ngga ada yang sempurna, karena ada kalanya kehidupan juga ngga pasti. Satu-satunya kepastian dalam hidup adalah ketidakpastian itu sendiri.

Gue selalu bilang ke orang-orang yang gue anggap sebagai teman, bahwa gue menikmati hidup dan kehidupan gue. Hanya kadang, gue memang ngga menikmati apa yang mengganggu kehidupan gue. Gue menikmati pergi pagi pulang malam, selalu menikmati berpikir dan bekerja dalam sepi, selalu menikmati melakukan banyak hal sendiri. Sampai akhirnya gue jadi terlalu bergantung dengan diri gue sendiri, yang akhirnya gue sadari kalo gue gak mampu melakukan semua itu sendiri.

Tapi maaf… Gue ngga percaya kalo orang lain bisa gue harapkan. I see no passion, I see no effort. So simple. Apa lagi yang perlu gue harapkan, ketika semua udah jelas keliatan mata tanpa perlu lagi ditanya. Ketika jelas ada aturan dan tulisan, tapi kita pura-pura ngga tau. Atau mungkin, lebih sering ngga mau tau.

Kadang gue berpikir, kenapa mereka yang harusnya punya modal lebih tapi justru ngga mampu. Kenapa mereka yang punya latar belakang lebih bagus justru ngga punya kemampuan maju kedepan? Apa karena yang masa lalunya buram memang harus jadi korban? Ngga. Dan kenapa mereka yang mendapat lebih dari cukup selalu merasa kurang, sedang kami yang kekurangan mampu mencari lebih.

Hal-hal yang bagi gue kadang ngga logis. Budaya modern efek dari perasaan ingin selalu eksis, rasa sepi yang dimanipulasi dengan kata-kata provokatif, teman-teman fiktif. Karena kita ngga perlu memotret sebuah musibah untuk disebarluaskan, minta orang-orang ikut bersimpati lewat kata-kata, like, reshare, dan segala tindakan absurd lainnya yang mulai jadi kewajaran. Just give a real help, take a real action don’t take a shoot and post it.

Kenapa? Karena gue pernah melakukan itu, dan emang ngga menolong. Gue justru memotret para korban yang diseret ombak, memamerkannya di sosmed dengan berbagai komentar mulai dari yang memuji sampai mencaci maki. What I’ve done? Gue gak menyelamatkan korban, justru mencoba mencari keuntungan dan popularitas melalui jumlah komentar, reshare dan like. Useless.

No one like you. Setiap individu unik, kita personal yang bukan produksi massal. Tapi bukan berarti kita ngga punya kesamaan. Kita sama-sama sering ngga peduli, karena terlalu asik dengan diri sendiri. Entah lewat posting di sosmed, kata-kata, gaya, juga kerja. But, no one like you. 

Waktu yang sangat singkat ketika kita bicara soal karir. Tapi ini juga jadi waktu yang sangat lama untuk sebuah keputusan; is it still worth to run or is it enough. Karena ngga semua orang berorientasi pada materi, dan pada akhirnya kita perlu menyadari ada hal-hal yang ngga bisa kita bayar pake duit. Ada hal yang memang ngga bisa kita beli, disamping ada hal sederhana yang harus kita bayar mahal.

I don’t ask you to forgive me. I just ask you to understand. Ini kata-kata dari film Spiderman, yang bikin gue mikir bahwasanya maaf itu sia-sia ketika kita ngga ngerti apa maksudnya. So, gue berusaha untuk gak minta maaf, bukan karena gue ngga menyesal… Tapi buat apa? Ketika maaf itu cuma jadi formalitas, dan kesalahan-kesalahan tetap berulang. Please understand, that’s it.

Ada satu titik dimana kita bakal melihat kebelakang. Dan dari kemarin, gue ada di titik ini, melihat kebelakang. What I’ve done; is it still worth to fight for or is it enough. Karena ini bukan soal materi dan juga bukan soal gengsi. Bukan soal seberapa tinggi. So I wont ask.

Jumat lalu, gue katakan apa yang harus gue katakan. Sebagian tentang rasa takut dan kekecewaan terselubung. Dan Sabtu keesokannya, gue lakukan apa yang memang harus gue lakukan; mengerjakan apa yang memang harus gue kerjakan, apa yang memang jadi tanggung jawab gue. 

Kita kadang memang perlu hiburan, dihibur. Tapi ada satu titik dimana hiburan itu justru cuma jadi sia-sia. Let it be. If you actually can’t help, don’t say you will. Beberapa hal kadang ngga perlu diselamatkan. Beberapa hal, justru ada kalanya memang perlu dihancurkan, meski ngga semua hal bisa kita daur ulang. 

Because I see no passion, I see no effort. All what I find is nothing but complain of too much of not enough. When I erased my holiday, they ask for more holiday. When I feel 24 hours isn’t enough, they ask to reduce. 

I’m too tired to tell that I am tired. Too disappointed to tell that I am disappointed. Because I never ask, I wont ask. I don’t even refuse any order. All what I need to do is a real move, when everything brokes my heart so, I have no option but say goodbye.

Yes I know it’s never easy to say goodbye, moreover for something we’d love. Give me a reason why I need to stay, even I’m sure it wont repair my broken heart, or maybe I can use glue to repair it.

__________

Selatan Jakarta, 5 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s