Endlessly

Bukan karena ngga gue ceritakan lalu gue ngga memikirkan. All these days I think about it even I don’t say how much I miss it. That small village with it’s empty roads even in daylight, the beach across the road, the sunburn, that mountain, all those tree. I even miss that bloody village when I was a child. I miss you, our home. So, jangan beranggapan gue gak pernah memikirkan kalian.

Tahun lalu gue di Semarang, untuk pertama kali sejak sekian tahun akhirnya gue ketemu teman Facebook gue. But sorry to say, I no more a Facebook citizen. Teman gue nanya, apa tahun ini gue pulang ke Pekalongan via Semarang atau ngga. Sori, bro… Ngga keduanya. I just take a total me-time, a full rest after all. Dengan berbagai perasaan yang gue coba abaikan.

Karena bukan cuma teman gue yang nanya… Tapi adik gue juga; “Kapan mas pulang?”. Kapan? Gue ngga tau. Bahkan ada kalanya gue ngga tau kenapa gue harus pulang. But it never mean I never miss them. In all my silence, I keep remember. With all their knowless, I miss them.

Kalo dulu, permasalahan gue klasik… Soal biaya. Emang bukan soal murah untuk pulang ke kampung halaman gue, yang harus nyeberang pulau meski sekarang tinggal duduk manis dalam pesawat, melamun sekitar 2 jam di kursi dekat jendela sambil melihat awan dan menunggu pinggiran pantai terlihat. But now the problem is time. Only time.

Bukan berarti gue gak punya waktu… Toh buktinya selama libur ini gue bolak balik jalan dan nongkrong sendiri. Just alone… From a coffeeshop to another coffeeshop, like a stranger in this town. Tapi kalo dipikir-pikir, gue emang orang asing di kota ini… Seseorang yang selalu mengandalkan Google Maps untuk mencari rute, cashless even for moving from one place to another place.

Tahun lalu gue ke Pekalongan, transit via Semarang. Sebuah kota kecil sama seperti Balikpapan, kota kelahiran gue. Pekalongan adalah rumah masa kecil almarhum bapak gue, dan disana juga beliau dimakamkan. Sebuah perjalanan panjang, Jakarta-Semarang-Pekalongan, tahun lalu, ketika gue mencari makam bapak gue… Dan gak ketemu. Seolah beliau memang ngga ingin dicari, atau tepatnya ngga mau makamnya dikunjungi untuk kemudian diberhalakan. 

I know. I do really understand the norms in my family. Yang sudah pergi, sudah jangan dicari. Sudah, jangan disesali. Meski perasaan gue sesak. How can I not miss the people I love? Mereka bilang, orang seperti gue enak… Ngga ada yang nyari, gak ada yang nunggu. They never know the feel I felt. Ketika gue merasa apa yang gue lakuin gak lebih dari membunuh rasa bosan dan rasa takut.

No one wait me at home, but I miss them. I miss the things which no more exist. My parents, my childhood. I miss talking with them. I’d like to share my settle life now with them. But all what I have is just a picture inside my mind.

Gue bahkan ngga nelpon adik-adik gue, sepupu-sepupu gue. Gue cuma sekali nelpon bibi gue, adik almarhum bapak. Seolah libur panjang ini lewat gitu aja, ngga lebih dari waktu beristirahat setelah berbulan-bulan yang melelahkan. Gue keluar lebih untuk menikmati lengangnya jalan kota Jakarta, seperti Jumat malam lalu di Kuningan yang biasanya padat merayap tapi kemarin sepi.

Bukan karena gue ngga pernah bilang, lantas gue melupakan. Bukan seperti itu. I keep remember. I’d like to go home… I do.

Tahun-tahun yang lalu gue menghabiskan waktu seperti ini bareng sepupu-sepupu gue, adik-adik gue, ponakan-ponakan gue. Atau menikmati sepinya jalan di Balikpapan, menyisir pantai, melewati taman-taman kota, atau nongkrong dengan beberapa teman dekat. But this year, I keep my words in silent. I talk to no one in this long holiday. Not even to tell that I miss something I couldn’t reach anymore.

Everyday everynight I keep wonder… In the night, in day light, I imagine that I can be home at anytime together with beloved people. 


“There’s a part of me you’ll never know. The only thing I’ll never show… Hopelessly I’ll love you endlessly. Hopelessly I’ll give you everything. But I won’t give you up, I won’t let you down, and I won’t leave you falling. But the moment never comes.”
(Muse, 2003)

These days playlist from Spotify:

__________

Selatan Jakarta, 1 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s