Untitled 24 July 2017

Kadang gue kangen pake Facebook, Instagram, atau Swarm/Foursquare, 3 aplikasi sosmed yang dulu terlalu sering gue media buat mamerin segala arogansi sekaligus kebodohan diri dan pikiran gue. Tempat-tempat buat majang kesombongan demi sebuah pengakuan fiktif nan absurd dari orang-orang yang lebih banyak belum pernah gue temui, bahkan ngga gue kenal.

Hampir 2 tahun gue di Jakarta, yang makin hari rasanya makin parah macetnya. Mengutip kata-kata driver bus Damri kearah Sutta, tiap abis lebaran macetnya makin parah… Dan si pakde driver itu pun bercerita tentang sebab-sebab kemacetan malam ini ke beberapa rekannya via telpon, mengabarkan kalo ada kecelakaan Metro Mini di Pasar Minggu yang bikin jadwal bus Damri dari-ke bandara terhambat.

Jakarta, dengan segala mobilitasnya, memaksa gue yang tadinya cuma anak kampung; perantauan oportunis yang diuntungkan pekerjaan sampai akhirnya gue bisa kesini, bergerak secepat pergerakan kota ini. Sampai kadang ngos-ngosan kehabisan nafas, meski kecepatan itu berbanding terbalik dengan laju kendaraan di jalan-jalan protokol.

Gue memang oportunis. Gue selalu menganggap diri gue seorang yang beruntung. Tapi, segala sesuatu ada batasnya. Dan sampai kapan kita berharap pada keberuntungan? 

Ketika gue tiba-tiba direkrut tanpa pernah mengirimkan lamaran pekerjaan, disaat pekerjaan gue di kantor sebelumnya mulai mencapai titik jenuh dan ramalan kiamat gadget berukuran besar mulai jelas terlihat…

Gue bukan gadget freak, tapi gue memang suka dengan gadget. Dan ketika penjualan komputer berupa PC desktop baik CPU-monitor terpisah maupun terintegrasi mulai menurun drastis, ketika perlahan PC mobile atau kita lebih familiar menyebutnya laptop, juga udah bukan sesuatu yang bergengsi, gue merasa itu saat yang tepat untuk ninggalin dunia distribusi gadget berukuran besar.

Dua tahun itu waktu yang terlalu singkat untuk sebuah karir, dimana dari bukan siapa-siapa menjadi most wanted sekaligus most hated. Ketika kita jadi seorang leader, kita harus siap dibenci dan dikritik untuk hal-hal yang terlalu kecil dan sepele. Juga, dengan segala benefitnya kita harus siap dengan resikonya. Too much of not enough.

Dan pada akhirnya gue akui kalau gue lelah. Setiap orang yang gue temui gue beritahu kalau gue lelah. Paling ngga, itu meredakan sedikit beban gue… Seperti sebuah jalan rusak, paling ngga gue udah naruh sebiji kerikil buat berusaha nutup. Just imagine it.

Kadang gue kangen pake sosmed lagi… Tapi buat apa? Untuk melihat dunia? Untuk mengetahui karakter orang-orang? Biar ngga ketinggalan informasi? Atau hanya untuk jadi selebritis gadungan yang mencari-cari perhatian?

Do you know why I’m leaving Facebook, Instagram, and Swarm/Foursquare? Because I’m too tired of something unreal. Mistaken identity. Latent arogancy. Hungry of attention. Fake reception. 

__________

24 Juli 2017

Psr. Minggu sampai Sutta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s