Fragile Perfection

Nobody’s perfect.

But the doctrin I received: “You may not get wrong”. That’s what my father said when I was a child.

No excuse for mistake. 

Do that; all by yourself, when no one can’t. Only you can do that.

Never, never, never ask for any help. They never honest in giving answers. They modify the words they said too much, to satisfy their need. Trust no one but yourself.

We do not forget.

We do not forgive.

A revange is never be sweet… The pain of the truth, the wound couldn’t healed.

My heart is broke, like a crystal made. Even glue can never repair.

When I started this, I think about the end. The whole is mine. I made this, like a crystal made.

Perfection in a fragile.

Nobody’s perfect.

Never.

No one.

But I can not forget, and I’m not forgiving.

So this is a self which’s no longer your bestfriend.

I just trying to be an honest stranger, because factually I’m not your friend. Never.

Nobody’s perfect.

Never.

No one.

But there’s no excuse for mistake.

(20170508-JKT_ID)

Nothing But You (Shorten)

Mengulang cerita lama, yang bahkan teman-teman dekat gue sendiri mungkin bakal menganggap gue terlalu egois… Dude, if I can, I don’t like to be the first. Dan dengan segala kebetulan yang mempertemukan kami 16 tahun lalu, kami terlahir sebagai anak pertama. Kami sama-sama punya 2 orang adik, dan kedua adik kami semua laki-laki. Mostly my best friends are the first… We have same duty in our live.

Kalo bisa milih, gue juga gak mau jadi anak pertama… Sebuah keegoisan, yang udah pasti ngga logis dan mencerminkan individualisme tingkat tinggi. Sama seperti halnya gue ngga mau menjadi yatim piatu, ketika kondisi keluarga gue terbilang hancur berantakan, kami bertiga; gue dan adik-adik gue tercerai berai, berusaha mempertahankan hidup dan kehidupan kami masing-masing. Sampai ketika gue sebagai anak pertama bikin statement: lupakan warisan!!! Hug me, somehow I’m your brother. I’ll be your last man standing, just give me a chance.

Sesorean tadi, 2 teman dekat gue semasa kerja dibidang fotografi di Surabaya pada ngobrol di group WhatsApp, mempertanyakan salah satu teman kami yang menghilang. The only girl, the youngest. Adik dari almarhum salah satu dari sedikit orang yang gue anggap sebagai teman dekat. Seperti sepasang homo, begitu kalo teman-teman kami melihat gue lagi bareng almarhum. Dan bukankah level tertinggi dalam persahabatan ketika orang lain melihat elu yang laki dan teman lu yang juga laki seperti sepasang homo… Karena saking dekatnya. Dan waktu pemakamannya tahun lalu, gue menerima ucapan belasungkawa lebih, seolah gue sodaranya sendiri.

I keep my words even I never show off that you are my very best friend. The biggest miss after I lost my parents.

So, gue berhasil menghubungi si kecil, adik almarhum teman gue, yang ternyata sedang terdampar di sebuah pulau Indonesia Timur. Apalagi kalo bukan kerja… Sedikit bertukar cerita, bertanya kabar. Basa basi biasa. Paling ngga, gue tau dia baik-baik aja. Sama seperti gue… Paling ngga, lu cuma perlu tau kalo gue baik-baik aja. Nothing more. One day, we’ll be together again, talking about the memory’s behind and drawing our future. Brighter than before.

Dan tiba-tiba gue kangen dengan teman-teman dekat gue. Kangen dengan adik gue. Sekedar kirim SMS ke adik gue di Balikpapan, kasih kabar kalo gue baik-baik aja. Lupain WhatsApp yang penuh sesak dengan pertanyaan dan tuntutan pekerjaan, gue kasih kabar ke teman dekat gue di Semarang… “Bro, doain kerjaan saya lancar. Libur lebaran nanti saya mau pulang ke Pekalongan, transit di Semarang kayak tahun lalu”. Ketika lu udah gak punya keluarga, ke siapa lagi kalo bukan ke orang yang selama bertahun-tahun udah membuktikan diri kalo mereka lebih dari pantas untuk dianggap sebagai sodara?

Dan setelahnya gue telpon teman dekat gue, yang selama hampir setengah tahun ini terlupakan. Sejak dia lulus kuliah, dia pulang kampung dan kerja di kota kami, Balikpapan. Gue milih stay di Surabaya. Dan ketika gue pulang ke Balikpapan, dia udah naik kelas dengan sering tugas keluar kota. Gue balik ke Surabaya, dia bertahan di Balikpapan. Gue balik lagi ke Balikpapan, dia udah melanglang buana keliling dunia, dengan selalu menyempatkan mampir ke kantor lama gue di sebuah warehouse gadget di salah satu sudut Balikpapan Baru. 

He’s my spirit. Dia yang kasih gue semangat, yang selalu ada justru ketika disaat gue terpuruk. Melintas batas ratusan kilometer cuma buat datang ke rumah gue ketika gue kasih kabar Ibu gue meninggal. Dia yang ngerubah jadwal, terbang langsung ke Balikpapan dari Malaysia ketika tahun lalu gue bilang kalo gue cuti dan mau pulang, belum tau siapa yang jemput di Sepinggan. Cuma buat ketemu beberapa jam bareng seorang teman kami yang lain, yang belain ninggalin mobilnya yang mogok ditengah jalan. Beberapa jam kemudian, dia kembali ke lokasi kerjanya. What a friendship…

Tapi bukan soal kesombongan itu. Arogansi. Gue yang individualis, yang akhirnya menerima tantangan untuk kerja dan hidup di kota yang individualis. Menikmati hari-hari gue dengan data-data dan fakta dunia ketenagakerjaan. Nothing I can do in this strange world but fighting for my own live, trying to love my pain, be a good friend of my fear.

Sebuah quote dari Pandji, salah satu Comic stand up comedy yang justru gak pernah gue tonton, cuma nemu kata-katanya dari sebuah artikel di internet…. Kerja keras akan mengalahkan bakat, ketika bakat tidak mau bekerja keras. Ketika bakat tidak mau bekerja keras.

Gue suka beberapa hal gratisan, terutama yang gue comot dari pinggir jalan atau artikel yang gue baca di internet, atau kata-kata motivasi (sok) bijak di tembok-tembok perkantoran atau papan iklan, terutama quotes yang dipajang dibeberapa sudut ruangan kantor klien gue. Karena buat gue, harga pendidikan di negara yang konon kita cintai ini masih relatif mahal ketika segala sesuatunya diukur dengan hasil akhir di selembar kertas.

 Almarhum teman gue seorang otodidak di dunia fotografi, dan dia membuktikan dirinya sebagai seorang fotografer profesional. Sampai akhirnya dia give up, bukan karena penyakit kanker stadium 4 dan divonis mati sejak 2013, cuma bisa bertahan 3 bulan. Aset paling berharga untuk fotografer bukan lensa maupun kamera. Bro, sist… Harta paling berharga buat setiap fotografer itu mata. Teman gue ngga pernah give up… Dia cuma merasa, dia udah ngga bisa bikin karya yang memuaskan pikiran dan perasaannya.

We don’t care what people say. Kami seniman. Atau sebut aja kami pernah jadi seniman. Dan mungkin, kami masih menyimpan jiwa seni yang pada dasarnya gak peduli soal harga dan penghargaan fiktif. Gue siap kehilangan suara seperti beberapa waktu lalu gue beneran gak bisa ngomong, tapi gue masih belum mau berhenti menulis.

So, gue memang berkali-kali give up dengan pekerjaan gue sekarang. Setiap malam gue pulang dengan pikiran kerjaan yang belum selesai. Setiap bangun pagi gue merasa takut dan malas berhadapan dengan fakta kalo kerjaan gue masih numpuk, tapi toh gue tetap aja berangkat… Setiap jam istirahat gue lebih sering stay di kantor karena merasa takut kalo waktu gue bakal kebuang percuma. Setiap menjelang jam pulang gue masih merasa takut kalo ini gak gue kerjain, gue gak bisa pulang. Dan gue stay di kantor, kadang sampe larut malam, sampe OB kantor ngusir gue. Dan tetap aja kerjaan gue selalu ada. Bahkan di setiap weekend.

Because I have nothing but myself, so I keep doing this with addictive fear, a lovely fear. Rasa takut yang jadi candu. Cuma buat muasin perasaan gue… Gue pengen settle, tapi gue gak pengen keadaan settle itu beneran ada. Karena ketika semua stabil, what can I do? I just feel useless. Like a machine, you wont need me. Not anymore. Beside that; I must fight to survive, just to proove that I can make it happen.

Pada akhirnya; ketika bakat tidak mau bekerja keras, kerja keras akan mengalahkan bakat.

__________

Selatan Jakarta, 4 Mei 2017, dinihari.

Shorten in 8 May 2017, during a way back ‘home’, Rasuna Said to Mampang.


Our Basic Philosophy

We just see the thing we want to see,

We just listen on thing we want to hear,

We just feel the thing we want it right,

We just ask the thing we want to know.
Living in the world where everything is right in our perception.
We reject the thing whichis not fit in our need,

We leave the thing whichis not comfort in our feel,

We are stay away from everything whichis dangerous for ourself,

We put no attention on everything bored ourself.
These our hidden philosophy are our basic philosophy;

Everything is wrong when we think it’s not right in our perception.
We do not agree on thing we don’t like,

We don’t tell the truth that we think it’s dangerous for ourself.

We keep the lie that we think it can safe us,

We keep liying cause we think it can keep us safe.
All our hidden-basic philosophy are always right on our eyes,

With nothing wrong for us to feel.
The only mistake is nobody want to tell what they really feel,

Then we keep liying to make everyting seems right,

Even it’s running on wrong way.

The only reason is because we are human.

Liying is a part of our life,

To keep us safe in our relationship.
_____

End of January 2013

Night in Earth of Surabaya

Time Goes By

Intro: Just an old post to repost. I keep my memory, the best and the worst. Being something from nothing. Then here I am, after I speak this silent mind years ago. 

Kadang saya merasa kalau konsep berpikir dan sikap saya terlalu keras, bukan hanya secara internal tapi juga eksternal. I don’t even care if one of my best friend doesn’t come again since I’m coming back home around these 5 months. So this is my diary, my lost story, my personal sense.

Jujur saja, bukannya saya tidak pernah merindukan masa-masa saat bersama teman-teman lama saya. Dan kalau harus benar-benar jujur, bukannya saya tidak mau bertemu dengan mereka. Kami ada di kota yang sama, kota kecil yang semua jarak adalah dekat. But I must commit on what I said. I hate every inconsistency, even it’s mine. So this is what I choose, run alone and no way back.

Berteman dengan orang-orang rasis memang bukan hal yang menyenangkan bagi seorang xenocentrist. Begitu juga sebaliknya. Seorang xenocentrist dianggap terlalu liberal, bahkan sekuler. Wajar. Tiap orang punya pola pikir dan cara memandang yang berbeda-beda.

Just like what I do, named my this blogsite ‘random uncategorized, my personal sense’. All I am, from my point of view. My blogsite is not a copy paste blogsite, it’s purely my opinion and based on my personal mind. I don’t even try to make money from all my writings. I don’t care. This is my hobby, my personal sense.

Biasanya, setiap kali ada libur, salah satu teman saya selalu menyempatkan untuk pulang kerumahnya, yang tidak terlalu jauh dari rumah saya. Kami bertemu, ngobrol sambil ngopi atau sekedar jalan-jalan keliling kota kami yang kecil. Saya yang bertanya apakah dia pulang atau tidak, atau dia yang memberi kabar pukul berapa dia pulang. It was.

Saya tidak pernah sekalipun menyesal meluangkan waktu untuk teman-teman saya, kapanpun, dimanapun. Hujan badai, tengah malam sekalipun saya akan datang. It doesn’t matter. Apa sih yang ngga kalau buat teman, apalagi teman dekat… But finally I ask about who I am; ‘what are you to me’? Siapa saya untuk teman saya…

Dulu, saya pernah sering datang kerumah seorang teman yang sudah memiliki kehidupan yang mapan. Datang cuma untuk pinjam komputer, lengkap dengan akses internetnya. Tapi itu bukan tujuan utama.

Apa alasan kita datang ke seseorang yang kita sebut sebagai teman, kalau bukan untuk bertemu sebagai seorang teman? Bukan kita datang, lalu orang yang kita sebut teman itu tidur dan membiarkan kita memakai komputernya sampai bosan. Lalu membangunkan orang yang kita sebut teman saat bosan itu datang, lalu pulang begitu saja.

Dan saya bosan.
Bosan dengan kehidupan pertemanan yang semua dinilai dari materi…
“Kamu ngga punya uang? Butuh berapa? Berapa nomor rekeningmu, nanti kutransfer”,
“Kalau mau internetan, datang aja kerumah jam 10 malam nanti… Aku masih pake komputernya. Kalau aku udah selesai, pake aja… Aku mau tidur”.

Dan saya bosan…
“Sori nih, ga bisa pergi… Temenku ngajakin chatting di fesbuk”,
“Lain kali aja lah… Kamu kesini aja dulu, aku masih chatting sama temenku”,
“Males keluar… Kamu aja yang kerumahku. Aku lagi chatting sambil nungguin download”,
“Aku ngga ada motor… Kamu kesini aja, aku udah ga pake komputer kalo kamu mau pake… Aku mau tidur”.

But it was.

And I will never come back.

Not even online.

Not on phone calls.

Nor on text messages

Neither on WhatsApp and Yahoo! Messenger.

I blocked my own friend with no mercy.

Graceless.

Dan rasisme ternyata bukan cuma soal perbedaan ras, suku, agama dan kepercayaan… Tapi juga gadget.
“Pin BB lu berapa?”,
“Gabung aja di grup BBM, kita ngobrol bareng”,
“Kok lu ngga pake BB sih?! Gimana mo bisa dihubungi?!”.
Ya maap… Saya memang sudah tidak pakai BlackBerry… Email dan WhatsApp saja. Telpon atau SMS, atau Yahoo! Messenger.

Apakah saya harus menyesal? Sebenarnya tidak. Apa yang perlu saya sesali? Nothing but useless.

Saya memang tidak semampu mayoritas teman-teman lama saya. Pekerjaan saya pun tidak bergengsi seperti mereka… Saya cuma pergi ngantor dengan kaos oblong dan celana jeans, kadang malah celana jeans pendek selutut plus sepatu sandal model ‘Crocs’ bajakan, mengawasi beberapa bawahan dan memburu tim marketing untuk cepat menyelesaikan transaksi, closing.

Saya tidak memakai seragam, sekalipun ada. Saya tidak suka memakai sepatu, apalagi jas sekalipun saya punya. Karena pekerjaan saya memang tidak membutuhkan itu. And I don’t care about what and how much I get. I do it because I like to do it. My destiny, to give my skills, to keep the trust I’ve received. I’m recruited because my leader trust me.

And so, apa semua harus berakhir hanya karena kita sudah tidak sama? Apa saya salah kalau ternyata mayoritas teman dekat saya bermata sipit dan tidak pernah mempertanyakan apa agama dan keyakinan temannya, dan apa saya salah kalau ternyata saya lebih suka bersama mereka? Yang menggunakan berbagai macam jenis dan merek gadget tapi tidak pernah bertanya, “Noe, pin BB lu piro?”.

Teknologi tidak pernah diciptakan sebagai kesalahan. Dan Facebook tidak pernah ditujukan untuk memisahkan dua orang teman dekat untuk jadi jauh, dan tidak saling kenal dalam kehidupan nyata. BlackBerry Messenger juga tidak pernah diciptakan untuk mengkotak-kotakkan pertemanan… Have no BlackBerry device? So, you’re no longer my friend.

Semua produk IT cuma jadi bumerang di tangan mereka yang tidak mampu membedakan mana teman offline dan mana teman online. Rasisme bentuk baru… Different device means nomore friendship. Sedangkan saya dan beberapa teman dekat saya yang ‘connected’ justru menggunakan berbagai perangkat dan merek berbeda.

So, is this what we called friendship? What’s kind of friendship… Kalau beda operator lalu tidak mau menelpon, beda perangkat seolah sudah jadi kiamat.

Saya bahkan belum pernah bertemu dengan seorang teman di Semarang, yang awal pertemuan kami 2-3 tahun lalu di sebuah grup di Facebook. Kami menggunakan perangkat dan merek yang berbeda, tapi tetap berteman dan saling berbagi informasi sampai sekarang.

Orang bilang belanja online tidak aman? Teman yang belum pernah saya temui ini justru sudah beberapa kali mengirimi saya barang pesanan yang pembayarannya transfer via ATM. We never meet each other until I write this. Sama seperti halnya dengan seorang teman di Seoul yang lahir dan besar disana, dan tidak bisa berbahasa Indonesia, dan saya tidak bisa berbahasa Korea. We use email, and tell our story in English.

Teknologi memang mendekatkan yang jauh, mengenalkan mereka yang tidak saling kenal sebelumnya. Saya hanya tahu Mice Misrad seorang kartunis, yang punya banyak penggemar dan mungkin tidak punya waktu menyapa apalagi mengenal mereka satu persatu. But it was surprise when he remember and know me, sent me a private message that he read my writing about his book, remember who I am when I order his new book early this month.

Tapi teknologi kadang juga memisahkan mereka yang pernah dekat. Dulu saya sering jalan-jalan dengan keponakan saya, mengiriminya SMS sebelum datang kerumah orang tuanya. Tapi sudah tidak, sejak SMS hampir tidak dibalas. Karena beda perangkat… Begitu juga dengan beberapa teman yang menganggap kalau komunikasi hanya bisa terjadi kalau menggunakan jenis dan merek perangkat yang sama, dan memakai operator seluler yang juga sama.

Time goes by…
Mungkin ini hanya persepsi saya saja, dan bisa saja salah. It’s just my personal sense, my personal point of view.

Dan juga karena kesibukan, faktor pekerjaan dan usia yang kata mereka sudah tidak muda, sudah banyak yang berkeluarga, hampir tidak punya waktu untuk mereka yang disebutnya teman. Tidak ada yang salah. Cuma keadaan sudah berubah, dan apa yang dulu pernah ada sudah tidak tepat lagi untuk saat ini.

Do I miss you? Yes.
But time goes by and I don’t like to break my own commitment… I will never come back to any place whichis uncomfortable to me. Not even it was so nice. I’m not going to buy my friends, and I’ll never rent you to be my friends. No longer begging just to meet people named themselves as friends.
Time goes by, that’s all.

_____
Original: Balikpapan, 14-15 Oktober
Revisi: Jakarta, 28 April 2017
Originally made on my Xperia™ smartphone from Sony®, Powered by sinyal kuat Indosat®