Unspoken, May 17th

I wont ask. Never, if I can find the answers by myself. My father taught me “you must help yourself!”. Then my friend tell me a quote from somewhere “no one can save yourself but you”.

I’m dying. 

I always think that tomorrow will be my last day in everything, and I always affraid of failed. So I’m dying in my perception of perfection. 

Then a new day’s coming, with my fear’s left behind. Everytime I walk out of my door, a new fear is coming. I am affraid of failed. My fear in my perception of perfection.

How you can not do that? A little easy thing, a light decision you could make your own. How come it becomes so hard…

I’m dying.

I always think that you could make it happen without me. Or perhaps I put my hope too high on you… Why? I never ask unless it is unquestionable. If it has the asnswers, I wont ask. Never. No matter how come I must find the answers.

So I am dying in a thing we named believe. Again.

So I’m going back to a thing named sceptic. Again.

Because I’m dying in my perception of perfection of you.

Enough to talk. Keep your complain first until you understand why it must be happen.

No one can save yourself but you.

__________

May 17th 2017

Keep Your Hopes High

Setiap hal perlu proses. Bahkan untuk hal-hal sederhana, kayak gue barusan bikin kopi (lagi), ada proses sampai dimana akhirnya kopi itu bisa gue seduh. Ada proses dibalik kefanatikan gue terhadap merek kopi itu. Ada proses gue nyuci gelasnya, manasin air, beli kopinya, ngumpulin recehan dari box wafer gue buat beli kopinya, ngebuka bungkusnya, bla bla bla… Belum lagi proses sebelum kopi itu ada di rak supermarket dibawah kantor gue. Continue reading “Keep Your Hopes High”

What I’ve Done


“Kadang, kita perlu waktu buat sendirian”.

Itu celetukan teman gue, 16 tahun lalu. Kata-kata yang masih aja gue ingat sebagai kalimat sakti ketika gue merasa benar-benar membutuhkan seorang teman.

No one can run alone, but sometime we need to be alone; to think, to introspect, to review. Seperti lagu lamanya Linkin Park… What I’ve Done. Atau, cuma sekedar untuk recharge… Hal yang cuma bisa kita lakuin sendiri; a self healing.

Continue reading “What I’ve Done”

Fragile Perfection

Nobody’s perfect.

But the doctrin I received: “You may not get wrong”. That’s what my father said when I was a child.

No excuse for mistake. 

Do that; all by yourself, when no one can’t. Only you can do that.

Never, never, never ask for any help. They never honest in giving answers. They modify the words they said too much, to satisfy their need. Trust no one but yourself.

We do not forget.

We do not forgive.

A revange is never be sweet… The pain of the truth, the wound couldn’t healed.

My heart is broke, like a crystal made. Even glue can never repair.

When I started this, I think about the end. The whole is mine. I made this, like a crystal made.

Perfection in a fragile.

Nobody’s perfect.

Never.

No one.

But I can not forget, and I’m not forgiving.

So this is a self which’s no longer your bestfriend.

I just trying to be an honest stranger, because factually I’m not your friend. Never.

Nobody’s perfect.

Never.

No one.

But there’s no excuse for mistake.

(20170508-JKT_ID)

Nothing But You (Shorten)

Mengulang cerita lama, yang bahkan teman-teman dekat gue sendiri mungkin bakal menganggap gue terlalu egois… Dude, if I can, I don’t like to be the first. Dan dengan segala kebetulan yang mempertemukan kami 16 tahun lalu, kami terlahir sebagai anak pertama. Kami sama-sama punya 2 orang adik, dan kedua adik kami semua laki-laki. Mostly my best friends are the first… We have same duty in our live.

Kalo bisa milih, gue juga gak mau jadi anak pertama… Sebuah keegoisan, yang udah pasti ngga logis dan mencerminkan individualisme tingkat tinggi. Sama seperti halnya gue ngga mau menjadi yatim piatu, ketika kondisi keluarga gue terbilang hancur berantakan, kami bertiga; gue dan adik-adik gue tercerai berai, berusaha mempertahankan hidup dan kehidupan kami masing-masing. Sampai ketika gue sebagai anak pertama bikin statement: lupakan warisan!!! Hug me, somehow I’m your brother. I’ll be your last man standing, just give me a chance.

Sesorean tadi, 2 teman dekat gue semasa kerja dibidang fotografi di Surabaya pada ngobrol di group WhatsApp, mempertanyakan salah satu teman kami yang menghilang. The only girl, the youngest. Adik dari almarhum salah satu dari sedikit orang yang gue anggap sebagai teman dekat. Seperti sepasang homo, begitu kalo teman-teman kami melihat gue lagi bareng almarhum. Dan bukankah level tertinggi dalam persahabatan ketika orang lain melihat elu yang laki dan teman lu yang juga laki seperti sepasang homo… Karena saking dekatnya. Dan waktu pemakamannya tahun lalu, gue menerima ucapan belasungkawa lebih, seolah gue sodaranya sendiri.

I keep my words even I never show off that you are my very best friend. The biggest miss after I lost my parents.

So, gue berhasil menghubungi si kecil, adik almarhum teman gue, yang ternyata sedang terdampar di sebuah pulau Indonesia Timur. Apalagi kalo bukan kerja… Sedikit bertukar cerita, bertanya kabar. Basa basi biasa. Paling ngga, gue tau dia baik-baik aja. Sama seperti gue… Paling ngga, lu cuma perlu tau kalo gue baik-baik aja. Nothing more. One day, we’ll be together again, talking about the memory’s behind and drawing our future. Brighter than before.

Dan tiba-tiba gue kangen dengan teman-teman dekat gue. Kangen dengan adik gue. Sekedar kirim SMS ke adik gue di Balikpapan, kasih kabar kalo gue baik-baik aja. Lupain WhatsApp yang penuh sesak dengan pertanyaan dan tuntutan pekerjaan, gue kasih kabar ke teman dekat gue di Semarang… “Bro, doain kerjaan saya lancar. Libur lebaran nanti saya mau pulang ke Pekalongan, transit di Semarang kayak tahun lalu”. Ketika lu udah gak punya keluarga, ke siapa lagi kalo bukan ke orang yang selama bertahun-tahun udah membuktikan diri kalo mereka lebih dari pantas untuk dianggap sebagai sodara?

Dan setelahnya gue telpon teman dekat gue, yang selama hampir setengah tahun ini terlupakan. Sejak dia lulus kuliah, dia pulang kampung dan kerja di kota kami, Balikpapan. Gue milih stay di Surabaya. Dan ketika gue pulang ke Balikpapan, dia udah naik kelas dengan sering tugas keluar kota. Gue balik ke Surabaya, dia bertahan di Balikpapan. Gue balik lagi ke Balikpapan, dia udah melanglang buana keliling dunia, dengan selalu menyempatkan mampir ke kantor lama gue di sebuah warehouse gadget di salah satu sudut Balikpapan Baru. 

He’s my spirit. Dia yang kasih gue semangat, yang selalu ada justru ketika disaat gue terpuruk. Melintas batas ratusan kilometer cuma buat datang ke rumah gue ketika gue kasih kabar Ibu gue meninggal. Dia yang ngerubah jadwal, terbang langsung ke Balikpapan dari Malaysia ketika tahun lalu gue bilang kalo gue cuti dan mau pulang, belum tau siapa yang jemput di Sepinggan. Cuma buat ketemu beberapa jam bareng seorang teman kami yang lain, yang belain ninggalin mobilnya yang mogok ditengah jalan. Beberapa jam kemudian, dia kembali ke lokasi kerjanya. What a friendship…

Tapi bukan soal kesombongan itu. Arogansi. Gue yang individualis, yang akhirnya menerima tantangan untuk kerja dan hidup di kota yang individualis. Menikmati hari-hari gue dengan data-data dan fakta dunia ketenagakerjaan. Nothing I can do in this strange world but fighting for my own live, trying to love my pain, be a good friend of my fear.

Sebuah quote dari Pandji, salah satu Comic stand up comedy yang justru gak pernah gue tonton, cuma nemu kata-katanya dari sebuah artikel di internet…. Kerja keras akan mengalahkan bakat, ketika bakat tidak mau bekerja keras. Ketika bakat tidak mau bekerja keras.

Gue suka beberapa hal gratisan, terutama yang gue comot dari pinggir jalan atau artikel yang gue baca di internet, atau kata-kata motivasi (sok) bijak di tembok-tembok perkantoran atau papan iklan, terutama quotes yang dipajang dibeberapa sudut ruangan kantor klien gue. Karena buat gue, harga pendidikan di negara yang konon kita cintai ini masih relatif mahal ketika segala sesuatunya diukur dengan hasil akhir di selembar kertas.

 Almarhum teman gue seorang otodidak di dunia fotografi, dan dia membuktikan dirinya sebagai seorang fotografer profesional. Sampai akhirnya dia give up, bukan karena penyakit kanker stadium 4 dan divonis mati sejak 2013, cuma bisa bertahan 3 bulan. Aset paling berharga untuk fotografer bukan lensa maupun kamera. Bro, sist… Harta paling berharga buat setiap fotografer itu mata. Teman gue ngga pernah give up… Dia cuma merasa, dia udah ngga bisa bikin karya yang memuaskan pikiran dan perasaannya.

We don’t care what people say. Kami seniman. Atau sebut aja kami pernah jadi seniman. Dan mungkin, kami masih menyimpan jiwa seni yang pada dasarnya gak peduli soal harga dan penghargaan fiktif. Gue siap kehilangan suara seperti beberapa waktu lalu gue beneran gak bisa ngomong, tapi gue masih belum mau berhenti menulis.

So, gue memang berkali-kali give up dengan pekerjaan gue sekarang. Setiap malam gue pulang dengan pikiran kerjaan yang belum selesai. Setiap bangun pagi gue merasa takut dan malas berhadapan dengan fakta kalo kerjaan gue masih numpuk, tapi toh gue tetap aja berangkat… Setiap jam istirahat gue lebih sering stay di kantor karena merasa takut kalo waktu gue bakal kebuang percuma. Setiap menjelang jam pulang gue masih merasa takut kalo ini gak gue kerjain, gue gak bisa pulang. Dan gue stay di kantor, kadang sampe larut malam, sampe OB kantor ngusir gue. Dan tetap aja kerjaan gue selalu ada. Bahkan di setiap weekend.

Because I have nothing but myself, so I keep doing this with addictive fear, a lovely fear. Rasa takut yang jadi candu. Cuma buat muasin perasaan gue… Gue pengen settle, tapi gue gak pengen keadaan settle itu beneran ada. Karena ketika semua stabil, what can I do? I just feel useless. Like a machine, you wont need me. Not anymore. Beside that; I must fight to survive, just to proove that I can make it happen.

Pada akhirnya; ketika bakat tidak mau bekerja keras, kerja keras akan mengalahkan bakat.

__________

Selatan Jakarta, 4 Mei 2017, dinihari.

Shorten in 8 May 2017, during a way back ‘home’, Rasuna Said to Mampang.